
JADI ARENA FUTSAL: Ruang serbaguna di lantai 2 Kampoeng Ilmu sering dipakai sebagai arena bermain anak-anak.
Kampoeng Ilmu telah menjadi salah satu ikon Surabaya. Sayang, pusat jual beli buku bekas itu kurang terawat. Bahkan, taman bacaan di lantai 2 kini dibiarkan mati.
SUARA tendangan bola plastik menggema di ruangan tak terawat tersebut. Tampak enam anak laki-laki usia SD asyik berlarian mengejar bola pada Jumat siang itu (3/2). Fajar, salah satunya. Begitu asyiknya bermain, mereka sampai enggan menyediakan waktu untuk mengobrol sejenak dengan Jawa Pos. Ditanya namanya pun, tidak ada yang mau menoleh. ’’Gak ono sing ngreken, Mbak (Tidak ada yang menghiraukan, Mbak, Red),” celetuk Fajar di tengah-tengah permainannya.
Ruangan itu sejatinya adalah ruang serbaguna Kampoeng Ilmu. Banyak acara yang pernah diselenggarakan di sana. Namun, fungsinya kini hanya menjadi arena bermain kecil-kecilan. Kondisinya jauh dari kata layak. Rusak di sana-sini. Lantainya kotor, tidak pernah dibersihkan. Pintunya pun sudah copot. Air hujan dan dedaunan yang beterbangan bisa bebas masuk.
Di bagian pojok terdapat beberapa tumpuk buku pelajaran yang sudah usang. Tadinya buku-buku itu mengisi rak ruang baca yang berada di sebelahnya. Sama dengan ruang serbaguna, kondisi bekas taman bacaan itu pun memprihatinkan. Keberadaannya tidak bertahan lama.
Ironisnya, sebagian besar pedagang malah tidak tahu kapan tepatnya perpustakaan kecil tersebut berhenti beroperasi. ’’Saya malah tidak tahu kalau di atas ada tempat bacaan,” tutur Driyono, 53, pedagang yang menempati kios paling ujung.
Dari cerita Budi Santoso, kepala pedagang buku di Kampoeng Ilmu, perpustakaan maupun ruang serbaguna itu ’’mangkrak” setelah beberapa bulan dipakai. ’’Nggak sampai setahun kayaknya, sudah tutup,” ujarnya.
Bangunan sisi utara tersebut baru selesai dibangun pada 2012. Kala itu, beberapa pedagang telah menempati deretan stan di sisi selatan. Stan selatan dibangun secara swadaya oleh himpunan pedagang di Kampoeng Ilmu. Sisanya, yang tidak kebagian stan akhirnya menempati bangunan baru di sisi utara. Tempat tersebut merupakan bantuan dari pemkot. Karena itu, dibuatkan pula ruang baca dan ruang serbaguna di atas.
Namun, dengan cepat ruangan tersebut dimakan cuaca. Budi memperkirakan, atap bocor menjadi penyebab utama. Atap ruangan di lantai 2 itu memang terbuat dari asbes. ’’Tapi, asbesnya kayak dari karet dan plastik begitu, jadi rapuh sekali,” jelasnya. Padahal, atap kios di sisi selatan juga menggunakan asbes, tetapi masih kuat hingga kini. Berbeda dengan atap asbes ruang baca yang terhantam hujan beberapa hari sudah berlubang di sana-sini.
Air pun bisa merembes ke kios-kios di lantai 1 bangunan sisi utara. ’’Kadang airnya merembes lewat sela-sela besi itu,” ujar Budi sambil menunjuk langit-langit kios. Jika sudah begitu, buku-buku akan terkena imbasnya. Banyak buku yang rusak dan akhirnya dijual kiloan.
Budi menuturkan, para pedagang Kampoeng Ilmu tidak kepikiran untuk membetulkan ruangan di lantai 2 tersebut. Memang tidak bakal dipakai, apalagi untuk berjualan. Sejak awal dibangun, ruangan itu memang diperuntukkan Badan Perpustakaan dan Kearsipan (BPK) Surabaya sebagai salah satu taman bacaan masyarakat (TBM).
Kepala Bidang Pelayanan dan Informasi BPK Endang Suryaningsih mengungkapkan, TBM tersebut memang sudah lama tutup. Tepatnya sejak 2013. Koleksi buku-bukunya direlokasi ke TBM lain. Pihak BPK memang secara rutin mengevaluasi TBM di seluruh Surabaya. Beberapa taman bacaan yang dirasa kurang dikunjungi karena akses sulit akan dilebur dengan TBM terdekat. ’’Kalau dilihat, memang taman bacaan di Kampoeng Ilmu itu jarang dikunjungi,” terangnya. Saat ini Surabaya memiliki 391 TBM.
Belum ada wacana apakah bekas taman bacaan di Kampoeng Ilmu akan difungsikan lagi. ’’Untuk hal itu, kami perlu berkoordinasi dengan cipta karya (dinas perumahan rakyat dan kawasan permukiman, cipta karya dan tata ruang, Red),” ujar Wiwiek Widayati, kepala BPK.
Sebagai pedagang, Budi juga menyampaikan keinginannya agar ruang baca serta ruang serbaguna tersebut bisa ’’hidup” lagi. ’’Harapannya, ada ruang baca itu supaya warga sekitar yang ndak punya uang tetap bisa membaca tanpa harus beli,” tutur Budi. (deb/c7/oni/sep/JPG)

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
