
PRODUK ANDALAN: Keripik pare yang sudah tidak pahit lagi.
JawaPos – Pare identik dengan rasa pahit. Namun, warga RT 1, RW 2, berhasil mengolah sayuran itu menjadi camilan. Warga mengolahnya menjadi keripik yang rasanya renyah dan tidak getir lagi.
Warga Kampung Pare Imroatul Mufidah mengatakan, untuk membuat sekitar 500 gram keripik, dibutuhkan sekitar 20 pare. Setiap KK di kawasan itu mengambil hasil panen di kebun sendiri. ”Setiap KK pasti bisa membuat pare. Mereka membuat sendiri,” tuturnya.
Ke mana hasil produksi warga? Mufidah mengatakan, keripik pare dikonsumsi sendiri. Khususnya, menjadi sajian setiap rumah saat menerima tamu. Keripik itu juga menjadi andalan warga untuk pameran hasil UMKM. ”Kadang kami jual saat ada yang pesan,” katanya.
Biasanya, keripik pare juga dikemas. Tujuannya dijual dan dipamerkan saat ada event di desa. Mufidah mengungkapkan, responsnya baik. Banyak yang suka. ”Banyak yang menyangka keripik yang mereka cicipi itu bukan terbuat dari pare,” tuturnya.
Mufidah menceritakan, pembuatan keripik pare berawal dari banyaknya tanaman tersebut di kampung mereka. Jika dimasak sayur biasa, warga bosan karena terlalu sering. Belum lagi, rasanya yang cenderung pahit membuat beberapa orang enggan mengonsumsinya. Kemudian, mereka berupaya mengolahnya untuk manjadi camilan. Salah satu pilihannya adalah keripik. ”Ternyata, banyak yang suka saat menjadi keripik. Yang tadinya tidak mau makan pare jadi lebih doyan. Sebab, sudah tidak ada rasa pahit sama sekali. Tapi, masih ada rasa parenya,” ucapnya.
Ibu dua anak itu menyebutkan, kunci menghilangkan pahit pada pare ialah merendamnya dengan garam semalam. ”Bukan air garam lho, tapi garamnya langsung,” tegas Mufidah.
Cara membuatnya, pare yang baru dipetik diiris tipis-tipis. Bijinya dihilangkan, kemudian sayuran dicuci sampai bersih. Setelah itu, pare diremas-remas dengan dicampurkan garam. Setelah diremas lama dan terendam garam, barulah pare didiamkan selama semalam. Keesokannya pare dibersihkan lagi dan siap untuk dicampur tepung. Terakhir adalah menggoreng pare. Mufidah menambahkan, perendaman dengan garam berlaku pada semua jenis pare. Termasuk pare putih dan pare hijau. ”Pare hijau itu pahit banget dibandingkan dengan pare putih. Tapi, durasi merendamnya tetap sama,” tuturnya.
”Selain pare, kami juga manfaatkan semua tanaman di sekitar sini,” jelas Mufidah. Misalnya, bayam untuk keripik, olahan ketela rambat, dan sayur-sayuran lain seperti bawang, toga, dan buah-buahan yang dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari. ”Pokoknya, yang ada di sini bisa kami olah semua,” ujarnya.
Warga juga memanfaatkan sampah untuk beragam kreasi. Sampah basah diolah menjadi kompos. Sampah plastik dan botol dimanfaatkan untuk tempat tanaman dan kerajinan tas. ”Ini tasnya terbuat dari plastik detergen dan minuman kemasan. Bagus kan, nggak terlihat kalau terbuat dari sampah,” ujar Ainiya, salah seorang perajin dari Kampung Pare. (uzi/c6/dio/sep/JPG)

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
