
uru YPI Al Zaytun yang menjadi korban pemecatan kembali mendatangi Al Zaytun, Senin (6/2).
JawaPos.com - Para tenaga pengajar Mahad Al Zaytun Gantar, Kabupaten Indramayu, sepihak tidak lagi diizinkan untuk mengajar tanpa alasan jelas. Jumlah pengajar yang diberhentikan adalah 114 guru dan dua dosen. Mereka mengajar di MI, MTs, dan MA. Sedangkan dua dosen mengajar di perguruan tinggi Al Zaytun.
Para guru juga kecewa karena keinginan menemui Panji Gumilang, pengasuh Mahad Al Zaytun, tak diperbolehkan. “Sudah lima kali kami ingin bertemu dengan beliau, tidak diperbolehkan. Kami ingin bersilaturahmi dan meminta kalrifikasi terkait larangan mengajar,” ujar Koordinator Guru Drs Mustakim saat mendatangi Mahad Al Zaytun, Senin (6/2).
Mustakim datang bersama para guru yang mengajar di MI, MTs, dan MA. Namun sekuriti melarang mereka masuk dengan menutup pintu gerbang utama. Mereka meminta pihak manajemen sekolah maupun yayasan mempertemukan perwakilan guru dengan Panji Gumilang, namun tidak direspons.
Setelah selama satu jam berdiri di depan pintu gerbang dan tidak ada respons, para guru akhirnya kembali ke posko mereka di Desa Gantar. Menurut Mustakim, keputusan larangan mengajar dinilai sepihak. Selain tanpa alasan yang jelas, juga tidak adanya surat pemberitauhan. Apalagi adanya surat peringatan jika para guru melakukan tindakan yang salah.
“Ini tidak hanya larangan atau pemberhentian mengajar, tapi ini sudah pemecatan. Persoalannya, jika pemecatan apa masalahnya? Tak diketahui alasannya sehingga kami ingin meminta klarifikasi. Namun, susah sekali. Kami berharap ada iktikad baik dari Syekh Panji maupun dari pihak yayasan sendiri,” ungkap Mustakim diamini rekan-rekan guru yang lain.
Mustakim menjelaskan, pemberhentian untuk mengajar berawal dari tuduhan adanya penyelewengan uang perawatan kamar asrama. Namun, tuduhan tersebut tak bisa dibuktikan.
Ustazah Suprapti MT, guru yang juga korban pemecatan menambahkan, persoalan utama yang berujung pada pemberhentian sewenang-wenang terjadi karena ke 114 guru dan 2 orang dosen tersebut menuntut keterbukaan tata kelola manajemen yayasan dan kerap mengkritisi kebijakan pimpinan Al Zaytun.
Tawaran dialog dari para guru, kata Suprapti, juga ditolak yayasan Al Zaytun. Sementara itu, pihak yayasan dan Panji Gumilang tidak bisa ditemui guna dimintai konfirmasinya. Radar Cirebon (Jawa Pos Group) juga berusaha menghubungi Sekretaris Yayasan, Abdul Halim, melaui telepon selular, tapi tak memberikan jawaban.
Kasus pemecatan para guru ini juga mengundang reaksi Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). FSGI menuntut keadilan bagi guru-guru tersebut. Mereka pun meminta pemerintah mengusut kasus ini hingga tuntas. (kom/yuz/JPG)

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
