Jumat, 21 Jul 2017
Features

Rektor Universitas Surabaya Prof Joniarto Parung dan Pengalaman Transplan Hati (1)

Cangkokan Hati dari sang Putri

Selasa, 07 Feb 2017 20:27 | editor : Suryo Eko Prasetyo

SAYANG PAPA: Rektor Universitas Surabaya Prof Joniarto Parung (kiri) seusai menjalani operasi transplantasi hati dari donor putri kandungnya, Christabel Annora (kanan), di National University Hospital, Singapura.

SAYANG PAPA: Rektor Universitas Surabaya Prof Joniarto Parung (kiri) seusai menjalani operasi transplantasi hati dari donor putri kandungnya, Christabel Annora (kanan), di National University Hospital, Singapura. (Joniarto Parung for Jawa Pos/JawaPos.com)

Prof Joniarto Parung, rektor Universitas Surabaya (Ubaya), kini berada di Singapura. Dia sedang menjalani masa penyembuhan setelah operasi transplan hati. Putri pertamanya menjadi donor untuk sang ayah.

PUJI TYASARI

KAMIS, 15 Desember 2016 adalah hari yang sangat bersejarah bagi Prof Joniarto Parung. Betapa tidak. Hari itu dia akan menjalani operasi transplantasi liver dari donor hidup. Donor hidup itu tidak lain adalah ChristabelAnnora, putri pertama Joni yang kini berumur 24 tahun.

PEMULIHAN: Rektor Universitas Surabaya Prof Joniarto Parung setelah menjalani operasi transplantasi hati dari donor putri kandungnya, Christabel Annora di National University Hospital, Singapura.

PEMULIHAN: Rektor Universitas Surabaya Prof Joniarto Parung setelah menjalani operasi transplantasi hati dari donor putri kandungnya, Christabel Annora di National University Hospital, Singapura. (Joniarto Parung for Jawa Pos/JawaPos.com)

Sebagai donor hidup, Christabel harus merelakan sebagian livernya dipotong. Liver itu lalu dicangkokkan pada ayahnya. Yakni, untuk menggantikan liver rusak ayahnya yang harus diangkat secara keseluruhan. Liver Joni memang sudah tidak bisa berfungsi dengan baik.

Joni mengisahkan pengalamannya tersebut melalui surat elektronik kepada Jawa Pos.

Pada malam menjelang pelaksanaan transplantasi liver itu, Christabel mendekati Joni di tempat tidur salah satu kamar National University Hospital (NUH), Singapura. Christabel memegang tangan Joni dan menatapnya langsung. Dia menanyakan apakah papanya takut.

”Takut apa?” Joni balas bertanya, pura-pura tidak paham.

”Takut gagal transplantasi besok,” jelasnya.

Duh... seketika Joni merasa seolah ditindih barbel berat. Hatinya bergetar, teriris, dan pilu. Joni merasakan ada kekhawatiran di mata putrinya.

Saat itu juga pikiran Joni menerawang dan membayangkan peristiwa hampir tiga bulan sebelumnya. Dia merasakan betapa sangat kuat putrinya tersebut. Masih teringat jelas kata-kata gadis itu yang disampaikan kepadanya.

”Papa harus terima kenyataan ini, penyakit kanker ini bukan akhir dari segala hidup dan karya papa. Selama ini papa sudah sangat disayang Tuhan, semua hal baik terjadi atas papa. Pendidikan, karir, keluarga, kesehatan semuanya terbaik bagi kita. Penyakit yang dihadapi sekarang pasti bisa ditangani,” tulis Joni yang menirukan ucapan putrinya. ”Kakak akan menjadi donor bagi papa. Pasti bisa,” ujar sang putri.

”Pa, bagaimana? Papa takut?” tanya Christabel yang membuyarkan lamunan Joni. Joni lalu tersenyum dan mencoba duduk. Dia memeluk putrinya penuh kasih. ”Papa nggak takut, Nak. Selama ini semua proses persiapan berjalan lancar. Papa yakin operasi juga akan disertai dan diperlancar Tuhan,” katanya.

Sejujurnya, Joni malah mengkhawatirkan putrinya. Sebab, sebagian liver putrinya akan didonorkan kepadanya. Dia khawatir akan kesehatan putrinya kelak. Namun, Christabel mengusir kegalauan hati sang ayah. Bahwa kondisi itu hanya untuk sementara. Sebab, livernya juga tumbuh lagi dengan cepat dan normal kembali.

Joni balik bertanya kepada putrinya, apakah dia takut. Christabel mengatakan, jika papanya tidak takut, dirinya juga tidak akan takut. ”Kakak yakin semua akan baik. Tidak takut, kok,” katanya. Dalam hati, Joni begitu bersyukur dirinya dikaruniai putri yang kuat, yang menyayangi, dan berpikiran matang di usia mudanya.

Ya, malam itu benar-benar menggelisahkan Joni. Batin laki-laki yang lahir pada 15 November 1960 tersebut berkecamuk. Tapi, dia harus menampakkan wajah tenang dan ceria agar anak dan istri yang menemaninya di rumah sakit tidak ikut gelisah. Sebelum tidur, dia mengajak istrinya ke kamar Christabel yang ditunggui adik dan tantenya. Mereka bercanda sebentar, lalu berdoa bersama.

Malam itu terasa sangat panjang. Malam menunggu terbitnya matahari pagi untuk mulai proses transplantasi. Matanya sulit terpejam. Entah pukul berapa Joni tertidur, tapi pukul 05.00 dia dibangunkan sang istri, persiapan menuju ruang operasi.

Proses transplantasi liver dengan donor dari putrinya sendiri itu diputuskan oleh dokter yang merawat Joni di Singapura.

Keputusannya diambil dua minggu menjelang pelaksanaan operasi transplan.

Serangkaian tes untuk menetapkan donor dilakukan. Tes darah lengkap, tes fungsi organ, tes psikologi, hingga pembuktian hubungan keluarga antara donor dan penerima. Ada dua calon donor yang memenuhi syarat. Dua calon donor itu adalah putrinya, Christabel Annora, dan istrinya, Tjatur Agung Setijari. Ada calon donor satu lagi. Yakni, putri bungsu, Christina Ludwinia. Namun, Christina dianggap tidak memenuhi syarat karena masih berumur 20 tahun.

Ya, liver Joni memang tergerus kanker. Karena itu, dia harus melakukan transplantasi liver. Oleh dokter, kanker tersebut diprediksi segera merambat ke organ tubuh lain. Dokter menyarankan transplantasi harus segera dilakukan karena kesehatan dan organ tubuh yang lain masih normal.

***

Joni tidak mengetahui mengapa dirinya bisa terserang kanker. Sebab, dia juga tidak merasakan ada gejala sebelumnya. Hanya, hasil pemeriksaan darah yang dia lakukan rutin enam bulan sekali menunjukkan kelainan pada darah. Terutama trombositnya yang rendah. Ketika dilakukan tes darah seminggu dan dua minggu berikutnya, ternyata hasilnya semakin buruk. Dugaan awal adalah demam berdarah atau tifus. Namun, hasil tes menunjukkan, tidak ada demam berdarah atau tifus.

Pada pemeriksaan darah rutin di awal Juni 2016, ditemukan indikasi kelainan pada darah di tubuh Joni. Hasil pemeriksaan itu lantas dikonsultasikan ke dokter spesialis darah. Konsultasi juga diikuti berbagai pemeriksaan lanjutan. Di antaranya, pemeriksaan sumsum tulang yang diambil dari tulang belakang, pemeriksaan kekebalan, serta virus hepatitis B dan C.

Dokter mendiagnosis kelainan darah Joni sebagai praleukemia. Bahasa kedokterannya myelodysplastic syndromes (MDS). Mulanya, dia merasa biasa saja. Lantaran masih tahap pra atau awal, menurut dokter, kelainan darah tersebut bisa dihambat dengan obat-obatan. Namun, setelah kembali ke rumah, lalu mencari informasi di internet, Joni pun terguncang.

MDS termasuk gangguan darah langka. Sumsum tulang gagal membuat sel-sel sehat dari darah merah, darah putih, dan trombosit. Sel yang dihasilkan juga belum matang, memiliki bentuk abnormal. Baik dari sisi ukuran maupun bentuk. Kebanyakan ahli mengatakan bahwa MDS adalah kanker darah dan sumsum tulang.

Berdasar referensi dari jurnal kedokteran diketahui bahwa dokter tidak bisa mengidentifikasi penyebab spesifik MDS. Artinya, MDS terjadi tanpa diketahui penyebabnya. Joni pun kian resah. Dia termenung di depan laptop. Pikiran mengembara ke mana-mana. ”Sempat muncul pikiran panik dan kacau,” katanya melalui surat elektronik yang dikirimkan kepada Jawa Pos.

Batinnya mempertanyakan mengapa penyakit itu menghampirinya. Padahal, kondisi dan pola makan sudah sangat dijaga. Joni merasa hidupnya normal. Dia juga tidak melakukan kejahatan atau sengaja merugikan orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Tugas untuk melayani keluarga, organisasi, masyarakat, dan Tuhan masih banyak. Bahkan, sedang dilakukannya.

Joni menjadi sangat khawatir. Apalagi, MDS merupakan penyakit yang dekat dengan leukemia. Jenis kelainan darah, yang dari berbagai pengalaman, termasuk sulit disembuhkan. Bahkan, salah seorang adik ipar Joni meninggal karena leukemia. Meski sudah melewati berbagai proses pengobatan, adik iparnya tersebut tidak berhasil diselamatkan. Joni tercenung, lalu tertidur.

Menjelang subuh, Joni terjaga dan tersadar. Dia lalu berdoa mohon ampun atas segala keluhan dan kekhawatiran. Dia memohon agar Tuhan membukakan jalan terbaik. Dia berdoa agar diberi kekuatan dan kemampuan menjalani kondisi itu dengan tepat. Dia yakin Tuhan menyayanginya. Pasti ada rencana yang ingin disampaikan-Nya melalui peristiwa yang dialaminya. ”Selesai berdoa, hati saya tenang, bahkan sangat tenang,” ungkapnya.

Meski kurang tidur, pagi itu, pertengahan tahun lalu, dia pergi ke kantor dengan badan yang terasa segar, ceria, dan optimistis. Berbagai agenda rapat rutin dan peninjauan lapangan serta pengajaran dijalani dengan gembira.

Roda kehidupan tidak boleh terhenti. Begitu komitmen Joni. Aktivitas rutin tetap harus dijalankan. Termasuk tanggung jawab di keluarga, kantor, dan masyarakat tidak boleh berhenti hanya karena penyakit yang dialami. Sesaat, kesombongan tersebut muncul dari dalam hati. Disadari atau tidak, manusia sering terlalu angkuh, merasa kuat, merasa hebat, merasa mampu mengatasi semua masalah sendirian. Kadang kesombongan itu tidak diucapkan. Namun, tindakan atau perilaku menunjukkannya.

Pikiran Joni berkali-kali melayang pada masa kecil di kampung halaman. Di Rantepao Tana Toraja. Dia bersekolah dengan fasilitas terbatas. Alat tulis terbatas sehingga harus digunakan secara efektif dan efisien. Buku-buku bacaan adalah buku bekas, kiriman yayasan sosial dari Makassar dan Jakarta. Buku-buku tersebut selalu diperebutkan saat jam istirahat kelas.

Meski terbatas, tuntutan untuk meraih prestasi selalu didengungkan para guru. Fasilitas terbatas membuat Joni berusaha mencari terobosan untuk menyelesaikan setiap permasalahan. Sejak kecil dia terbiasa bekerja dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Meski dengan segala keterbatasan, dia dan rekan-rekannya selalu dimotivasi oleh guru dan orang tua untuk sukses. Seperti tokoh-tokoh dalam buku bacaan.

Karena itulah, kebiasaan untuk menyelesaikan masalah sendiri tanpa mengeluh sudah menjadi hal biasa. Namun, kelemahan tubuh memang tidak bisa disembunyikan. Pemeriksaan rutin dan konsumsi obat ternyata tidak membuat kondisinya semakin baik. Bobot tubuh semakin berkurang. Dodik, sopir pribadi Joni, pun menyadari perubahan diri Joni. Dia mengingatkan dan bertanya tentang kondisi Joni. Namun, Joni berkata tidak apa-apa, hasil pemeriksaan darah menunjukkan perubahan yang positif.

Kekhawatiran Dodik diungkapkan kepada seorang dosen senior yang dekat dengan Joni. Dosen senior itu lalu melaporkan kondisi Joni kepada ketua yayasan, mantan rektor, sekaligus role model Joni. Namanya Anton Prijatno. Joni pun dipanggil. Dia ditanya langsung tentang kondisi kesehatannya.

Joni menjawab jujur. Termasuk diagnosis dan pengobatan yang sedang dijalankan. Kemudian, Anton meminta Joni untuk mencari second opinion ke Singapura. Sebenarnya, hal yang sama sudah disampaikan istri Joni, tetapi diabaikan lantaran ada kemajuan dalam hasil tes laboratorium terbaru. Pada pertemuan itu, Joni berjanji melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan second opinion.

Dua minggu terlewati, Joni belum bertindak. Alasannya, masih sibuk kegiatan rutin. Joni masih yakin obat yang dikonsumsi saat itu bisa menjadi solusi penyakitnya. Namun, demi memenuhi janji, pada 7 September 2016 dia membuat janji dengan Dr Tan Lip Kun, dokter senior ahli haematology oncology di NUH Medical Centre, Singapura.

Pada konsultasi awal dengan Dr Tan, Joni menjelaskan semua gejala, perubahan yang dialami, riwayat kesehatan pribadi, dan riwayat kesehatan keluarga. Dia juga membawa hasil pemeriksaan dan obat yang dikonsumsi. Akhir pertemuan, semua obat dihentikan sementara sampai pemeriksaan darah, sumsum tulang, dan beberapa tes lain selesai dilakukan.

Pada hari ke-9, Joni mendapatkan e-mail dari rumah sakit. Isinya, hasil pemeriksaan sudah keluar dan diharapkan kembali ke Singapura untuk konsultasi. Hasil pemeriksaan yang menggunakan beberapa pendekatan menyimpulkan bahwa sumber kelainan darah yang dikeluhkan selama ini adalah kanker di salah satu lobus (bagian) liver.

Lalu, terjadilah perubahan fokus penanganan. Yakni, dari yang semula praleukemia, lalu harus dilakukan ke penanganan kanker liver.

Tim dokter yang menangani pun berubah. Tim dokter diusulkan oleh pihak rumah sakit. Joni menyetujui tim tersebut. Hasil pemeriksaan lanjutan menyimpulkan bahwa jalan terbaik adalah transplan liver. Itu berarti harus ada donor yang memenuhi syarat. Baik secara kesehatan maupun secara hukum menurut peraturan pemerintah Singapura.

Ada dua jenis donor transplan liver. Yaitu, donor dari orang yang baru meninggal (deceased donor) dan donor dari orang sehat atau donor hidup. Pada donor hidup, dilakukan pemotongan sebagian liver dari donor sehat untuk dicangkokkan kepada orang yang sakit sebagai penerima. Fungsinya, menggantikan liver yang tidak sehat atau rusak.

Ada dua tim yang menangani Joni. Pertama, tim yang secara khusus menangani donor hidup. Yakni, Christabel. Tim tersebut memastikan bahwa tidak ada efek buruk berkelanjutan bagi donor. Kedua, tim dokter yang menangani penerima (recipient). Tim tersebut harus memastikan bahwa tidak ada penolakan dari organ penerima terhadap organ asing yang ditanamkan di tubuhnya. Yakni, kepada Joni.

Donor dan penerima harus ditangani secara bersamaan dan dirawat agar keduanya tetap hidup. Menurut penjelasan dokter yang didukung oleh berbagai penelitian ilmiah, liver dari donor dan penerima akan tumbuh dan mencapai ukuran normal dalam jangka waktu kurang lebih dua bulan, sesuai kondisi masing-masing orang. (*/bersambung/c7/dos/sep/JPG)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia