Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Februari 2017 | 22.29 WIB

Dampak Banjir Kali Lamong, Sekolah Libur Hingga Petambak Menderita

Dampak Banjir Kali Lamong 5 Februari 2017 - Image

Dampak Banjir Kali Lamong 5 Februari 2017

JawaPos.com – Sudah lima hari banjir luapan Kali Lamong menghajar wilayah Gresik Selatan. Kecamatan Balongpanggang dan Benjeng sudah tidak tergenang. Namun, enam desa di wilayah Cerme, termasuk sejumlah sekolah, masih kebanjiran.


Enam desa itu adalah Sukoanyar, Morowudi, Dungus, Iker-Iker Geger, Cerme Kidul, dan Pandu. Data BPBD Gresik menyebutkan, sedikitnya 263 rumah masih terendam. Kondisi terparah terjadi di Desa Dungus. Sebanyak 175 rumah kebanjiran. ’’Rumah penduduk di sana lebih rendah daripada jalan,” ujar Camat Cerme Suwartono.


Kondisi parah juga terjadi di Desa Pandu. Sejauh ini, desa yang berdekatan dengan muara Kali Lamong itu terisolasi karena luapan banjir. Untuk menuju ke desa tersebut, warga harus melewati jalan yang tergenang hingga 200 meter. Tinggi genangan mencapai 50 sentimeter. ’’Sudah turun. Tiga hari lalu, tingginya sampai pinggang orang dewasa. Arusnya juga deras,” terangnya.


Derasnya arus merenggut korban pada Sabtu (4/1). Dua pemuda Desa Pandu tewas setelah terserat arus luapan Kali Lamong. Mereka adalah Satria, 20 dan Yakobus, 20. Keduanya tenggelam setelah menolong dua bocah yang terseret arus.


Air bah dari Kali Lamong juga melanda sekolah. Akibatnya, siswa terpaksa diliburkan. Salah satu lembaga yang paling parah terdampak banjir adalah kompleks sekolah Muhammadiyah Cerme. Di situ terdapat tiga lembaga. Yakni, SD Al-Islam Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah 7, dan SMA Muhammadiyah 8. ’’Jika banjir seperti ini, KBM (kegiatan belajar-mengajar, Red) terpaksa diliburkan,” kata Kepala SMA Muhammadiyah 8 Cerme Hasan Abidin, Senin (6/2).


Namun, siswa ternyata tidak libur begitu saja. Sekolah menyiapkan kegiatan ekstrakurikuler sebagai pengganti KBM. Yakni, memberikan bantuan kepada korban banjir. Kegiatan tersebut digelar kelompok siswa angkatan muda pencinta alam (Gempa). ’’Jadi, siswa terlibat dalam kegiatan kemanusiaan,” ucap Hasan. Selain memberikan bantuan berupa nasi bungkus dan sembako, mereka ikut dalam evakuasi.


Sejak kapan kebanjiran? Hasan langsung menyebut 30 tahun. Lembaga itu berdiri pada 1987. Sejak itu pula, kompleks sekolah Muhammadiyah Cerme langganan banjir. Hal itu terjadi karena lokasinya berada persis di tikungan Jalan Raya Morowudi. Begitu jalan kabupaten tersebut tergenang, air langsung meluber ke areal sekolah. ’’Kami sudah mengantisipasi. Jika di Balongpanggang banjir, kami sudah siap-siap,” tutur Hasan.



Di sisi lain, BPBD Gresik mencatat bahwa 666 hektare tambak di 20 desa rusak. Kerusakan itu dipicu luapan Kali Lamong di Kecamatan Cerme dan Kedamean. Air tambak meluap. Ikan peliharaan hanyut. Petambak di Desa Tambakberas dan Banjarsari menderita. Masing-masing 100 hektare tambak bandeng terendam. ”Ukuran masih empat jari. Sangat mungkin hanyut karena tambak jebol,” ujar Asikin, 45, petambak asal Desa Iker-Iker Geger, Kecamatan Cerme, Senin (6/2). (mar/yad/c18/roz/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore