
TERLIHAT BENTUKNYA: Wayang suket setengah jadi hasil karya salah satu peserta workshop kemarin. Meskipun tampilannya sederhana, wayang yang terbuat dari rerumputan itu mengandung makna yang mendalam.
JawaPos.com – Wiwin Fidiana berusaha membuat rangka wayang dengan menggunakan alang-alang di Rumah Kayu Pecantingan. Kedua tangannya terus berkreasi mengikuti instruksi Jumaadi, seniman kontemporer Sidoarjo yang sudah berkarya lintas negara. Satu per satu rangka wayang dianyam, dirakit, dan diikat kuat dengan alang-alang. Mulai bentuk kepala dengan gelung rambut supit urang, badan yang tegap, hingga kedua tangan wayang yang luwes saat digerakkan.
”Lumayan susah,” kata Wiwin saat mengikuti workshop pembuatan wayang dari alang-alang dan kertas Minggu (5/2). Wiwin bukan satu-satunya mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) yang mengikuti kegiatan itu. Masih ada belasan teman yang lain. Bahkan, sejumlah ibu-ibu rumah tangga di wilayah Desa Pecantingan, Mojokerto, hingga Malang, juga datang.
Mereka terlihat gembira bisa belajar membuat wayang suket. Meskipun bentuknya sederhana dan teknik yang digunakan untuk membuatnya sangat dasar, nilai estetika wayang tetap tidak hilang.
Tak hanya dibekali teknik membuat wayang suket, peserta workshop juga dilatih memainkannya di hadapan banyak orang. ”Saya sangat senang bisa mengenal wayang suket dan membuatnya. Rasanya seperti flashback pada masa anak-anak,” ujar Wiwin.
Dia sangat bersyukur pernah mengalami masa-masa kecil dengan permainan tradisional yang begitu mengasyikkan. Namun, hal tersebut kini semakin sulit ditemukan. Banyak anak muda yang kurang tertarik dengan seni tradisi. Tergerus dengan masifnya perkembangan gadget. ”Wayang suket itu menyenangkan dan mudah dibuat. Bisa belajar sejarah dan seni sekaligus,” ujarnya.
Menurut Jumaadi, wayang suket hadir di bumi sejak ratusan tahun lalu. ”Penemunya” adalah anak-anak penggembala hewan ternak di padang rumput. Mereka memanfaatkan alang-alang untuk dibuat wayang. Niatnya bermain. Tanpa sadar, mereka melahirkan kesenian. ”Wayang suket itu wayangnya anak desa. Agar anak-anak zaman dulu tidak hanya bergelut sama kerbau terus,” jelasnya, lantas tersenyum.
Jumaadi menyampaikan, sejak dulu hingga sekarang, seni wayang lebih sering bersifat komersial. Hanya orang-orang yang memiliki uang dan kekuasaan yang bisa menikmati atau memainkannya. Wayang suket pun tampil sebagai media perlawanan bagi orang biasa untuk belajar aspek estetika, seni, dan ekspresi wayang. Tak heran, wayang suket disebut wayang perlawanan. ”Kesenian itu harus luwes agar tidak hanya dinikmati di museum. Jadi, penting bagi seniman mengadakan workshop kepada warga-warga desa,” tegasnya.
Jenis wayang, lanjut dia, sangat banyak. Ada wayang kulit, wayang potehi, wayang orang (wong), wayang wahyu, wayang purwa, wayang suket, dan lain-lain. Namun, yang paling banyak dikenal adalah wayang kulit. Karena itu, kesempatan kembali ke tanah air benar-benar dimanfaatkan Jumaadi untuk mengenalkan dan mengajarkan pembuatan wayang suket. ”Saya terakhir membuat workshop wayang suket itu tujuh tahun lalu,” ungkapnya.
Bentuk wayang suket tidak memiliki pakem seperti wayang kulit. Sebab, setiap bentuk wayang suket hampir mirip. Ketika wayang dimainkan, musik yang digunakan pun hanya suara-suara dari mulut atau omongan. ”Tanpa ada gamelan dan sebagainya. Semua bisa memainkan wayang suket. Musiknya, ya, omongan saja tanpa henti,” ujar pria yang kini menetap di Australia tersebut.
Jumaadi menambahkan, bahan yang digunakan untuk membuat wayang bisa disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. ”Kebetulan, di Desa Pecantingan, masih banyak alang-alang. Saya kalau mengajarkan pembuatan wayang di Australia tentu berbeda lagi. Biasanya memakai kardus,” tambahnya. Bahan-bahan lain seperti janur, pelepah pisang, tali, kawat, dan kabel juga bisa dimanfaatkan untuk berkreasi. (ayu/c16/pri/sep/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
