
SOSIAL: Relawan Tagana Sidoarjo Bagus Rilianto (kiri) dan Sugiyanto memasak nasi untuk pengungsi banjir di dapur umum Dusun Penumpakan, Jabon, Sidoarjo, Minggu (5/2). Di Dusun Penumpakan tercatat 185 jiwa yang tinggal di pengungsian dan setiap hari mengko
JawaPos.com – Banjir yang menenggelamkan lima desa di Jabon benar-benar membuat perekonomian warga lumpuh. Sudah 30 hari mereka tidak bisa menggarap sawah. Padahal, bertani adalah pekerjaan utama penduduk setempat.
Selain Dusun Kupang Kidul, Desa Kupang, titik banjir yang paling parah terlihat di Dusun Penumpakan, Desa Semambung. Genangan air menenggelamkan 157 rumah dan 130 hektare areal sawah. Ketinggian air mencapai selutut orang dewasa. Lantaran air semakin tinggi, warga pun terpaksa mengungsi.
Tempat pengungsian berada di Balai Dusun Penumpakan. Lokasinya tidak jauh dari perkampungan warga. Di tempat itu, pemkab mencukupi kebutuhan pengungsi. Antara lain, menyediakan dapur umum, toilet, serta matras sebagai tempat tidur.
Aktivitas di dapur umum tampak sibuk Minggu (5/2). Dua petugas Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial (Dinsos) Sidoarjo tampak mengaduk nasi di panci berukuran besar. Nasi yang telah matang selanjutnya ditambah lauk, lalu dibungkus. ’’Ini nasi bungkus yang akan kami bagikan ke pengungsi,’’ kata Sugianto, petugas divisi dapur umum Tagana.
Dia menyatakan, petugas sudah empat hari melayani pengungsi. Setiap hari warga mendapat tiga kali jatah makan. Yakni, pukul 07.00, pukul 12.00, dan malamnya nasi diberikan sesudah salat Magrib atau sekitar pukul 18.00.
Setiap hari petugas memasak sekitar 20 kilogram beras. Cukup banyak karena mereka harus menyiapkan ransum untuk 185 pengungsi. Selama ini warga telah mendapatkan menu sayur dan lauk yang cukup layak. Siang itu siang, misalnya. Petugas memasak sup, ikan, dan telur dadar. ’’Gizi pengungsi kami cukupi. Menu juga berbeda tiap harinya,’’ jelas pria 48 tahun tersebut.
Dapur umum di Dusun Penumpakan cukup ramai. Selain petugas, tampak lima perempuan yang turut membantu petugas menyiapkan makanan. Mereka bertugas memasukkan sayuran yang sudah dimasak ke bungkus plastik. Salah satunya Miftah Huda yang juga salah seorang pengungsi. Perempuan 30 tahun itu mengatakan, dirinya setiap hari membantu petugas menyiapkan makanan. ’’Daripada tidak ada kerjaan, saya bantu menyiapkan makanan,’’ ucapnya.
Suasana di Balai Dusun Penumpakan tidak kalah ’’meriah’’. Pengungsi tampak duduk santai menunggu makan siang. Sembari mengisi waktu, mereka menonton video ludruk yang disediakan petugas desa. Meski tertimpa musibah, mereka tampak bahagia melihat ulah kocak pemain ludruk.
Misalnya, Komsiah. Perempuan 49 tahun tersebut tampak terpingkal-pingkal melihat ulah lucu pemeran ludruk. Berulang-ulang dia harus menutup mulutnya untuk mengendalikan tawa. Komsiah mengaku sudah dua hari tidur di pengungsian. Pagi, setelah memasak makanan buat anaknya, dia datang ke balai dusun. ’’Kalau malam tidur di rumah. Jaga rumah. Siang gantian dengan suami,’’ jelasnya.
Kepala Dusun Penumpakan Samian mengungkapkan, mayoritas penduduk di desanya bermata pencaharian sebagai petani. ’’Sawah dan ladangnya sudah hancur diterjang banjir,’’ ungkapnya. Untuk saat ini, yang dibutuhkan warganya hanya sembako. Stok sembako masih tersisa untuk dua hari mendatang. Setelah itu, dia akan meminta tambahan sembako ke pemkab. ’’Kalau sudah mau habis tinggal minta,’’ kata Samian.
Menurut dia, banjir saat ini merupakan yang terparah. Sebelumnya, jika banjir datang ke Dusun Penumpakan, ketinggian air tidak sampai 20 cm dan tidak bertahan lama. ’’Orang sini biasanya bilang bangu liwat (air lewat, Red),’’ tutur kakek 64 tahun tersebut.
Kepala Bidang Operasional Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sidoarjo Agus Hidayat menjelaskan, saat ini ketinggian air di sejumlah titik sudah berkurang. Kondisi itu dimanfaatkan petugas untuk menyedot air. ’’Kami pasang pompa air di Kedungpandan untuk menyedot air,’’ paparnya.
Agus berharap dalam beberapa hari mendatang hujan deras tidak turun. Dengan begitu, penyedotan berjalan lancar. Selain itu, dinas PUPR menambah karung-karung pasir di perbatasan Sidoarjo dan Pasuruan.
Berharap Bantuan Jamban Keliling
Tidak seperti 50 KK di RW 5, Dusun Penumpakan, Desa Semambung, yang memutuskan mengungsi di balai dusun, ratusan warga Dusun Kaliwaru, Desa Kedungrejo, bertahan di rumah masing-masing. Sebanyak 200 KK di Dusun Kaliwaru yang terdampak banjir sejak Rabu (11/1) sebenarnya bukan tidak mau mengungsi. Mereka terkendala tidak adanya tempat untuk mengungsi.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
