
Amzulian Rifai
Seorang kepala daerah berkeluh kesah kepada saya soal beberapa kepala dinasnya yang masuk penjara untuk hal-hal yang diyakininya tidak bersalah. Berbagai implikasi harus dihadapi, termasuk keengganan staf mengurus proyek. Akibatnya, penyerapan anggaran rendah yang berimplikasi pada ponten kinerjanya.
Memang salah satu tolok ukur kinerja pemerintah ada pada penyerapan anggaran. Rendahnya penyerapan anggaran di pemerintah daerah (pemda), kementerian, dan lembaga dituduh sebagai penyebab buruknya kinerja birokrasi. Hal itu memiliki implikasi terhadap geliat ekonomi yang akan terjadi bila penyerapan anggaran tinggi.
Penyerapan anggaran yang rendah dapat berakibat pada hilangnya manfaat belanja. Padahal, apabila pengalokasian anggaran efisien, meskipun dengan adanya keterbatasan sumber dana, negara masih dapat mengoptimalkan pendanaan kegiatan strategis lainnya.
Sebagai contoh rendahnya penyerapan anggaran pada APBN Perubahan 2015 ditetapkan Rp 1.319,5 triliun. Sekitar 60 persen (Rp 795,5 triliun) dialokasikan untuk kementerian dan lembaga. Selisih dari jumlah itu ditransfer ke daerah dalam bentuk dana perimbangan, otonomi khusus, dana desa, dana keistimewaan, dan dana transfer lainnya. Namun, ketika itu, sampai Agustus 2015, baru sekitar 20 persen dana yang terserap.
Salah satu penyebab rendahnya penyerapan anggaran adalah perasaan takut para birokrat. Ada semacam trauma untuk bertindak karena begitu banyak penyelenggara negara yang masuk penjara. Menurut catatan KPK, terdapat 18 gubernur dan 343 bupati/wali kota yang terjerat kasus korupsi. Akibatnya, banyak pejabat yang ragu-ragu untuk menggunakan dana yang ada karena takut berurusan dengan aparat hukum. Itu sebabnya, sebagian memilih mendiamkan saja anggaran yang sudah ada.
Kekhawatiran yang berlebihan tersebut menjadikan sebagian kementerian dan lembaga hingga ke daerah terkesan lamban bertindak. Beberapa pemda meminta bantuan BPKP, BPK, bahkan KPK untuk mengawal penggunaan anggaran.
Kondisi Menuntut Diskresi
Tidak mudah menjalankan tugas kepemerintahan yang dihadapkan pada anggaran terbatas dengan keharusan bersaing secara global. Padahal, persaingan itu menuntut dana besar dengan birokrasi tidak berliku. Justru salah satu kelemahan birokrasi kita adalah kelambanan yang berbaur dengan praktik pungli/pelayanan diskriminatif.
Para birokrat visioner putus asa dengan realitas yang menghambat bermacam ide cemerlangnya. Sebenarnya percepatan pembangunan mampu dilakukan sekalipun dalam kondisi pendanaan yang memprihatinkan.
Cara paling cepat mengatasi keuangan negara yang terbatas adalah melakukan kerja sama dengan swasta. Artinya, dengan cara itu berbagai pembangunan dan program dapat dijalankan. Namun, sering kali muncul persoalan hukum di kemudian hari karena langkah kerja sama tersebut melanggar hukum formal yang ada.
Seorang kepala daerah tertantang untuk berbuat banyak karena menjadi tuan rumah event internasional misalnya. Memang tersedia anggaran negara, tapi jumlahnya terbatas dan lamban pula ketersediaannya.
Padahal, sebagai tuan rumah perhelatan internasional, tuan rumah ingin mempersiapkan berbagai fasilitas bertaraf internasional. Padahal pula, kebutuhan anggaran jauh lebih besar daripada yang tersedia. Berbagai terobosan dilakukan dan rentan dipidanakan.
Bertambah tidak mudah apabila kita meneropong manajemen di BUMN. Tuntutannya harus meraup untung sebanyak-banyaknya, tapi di sisi lain langkah BUMN tertahan dengan berbagai aturan pemerintah.
Sosok seperti Dahlan Iskan pastilah bertentangan dengan birokrat pemerintah pada umumnya. Visioner untuk mengangkat harkat dan martabat perusahaan pelat merah dan menghargai siapa saja yang memiliki jiwa inovatif. Hal itu hanya mungkin dilakukan dengan cara bergerak cepat dan memangkas birokrasi.
Dalam kasus penjualan aset-aset PT Panca Wira Usaha (PWU) di Kediri dan Tulungagung pada 2003, yang dijual adalah kekayaan perseroan terbatas (PT) dengan aturannya sendiri. Bukannya aset pemda.Begitu juga halnya dalam kasus mobil listrik. Dahlan ”seketika” dinyatakan sebagai tersangka hanya mengacu putusan Mahkamah Agung.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
