
RIANG GEMBIRA: Suasana ramai ketika sejumlah anggota Kelompok Lansia Bahagia Puskesmas Kebon Jeruk berkumpul.
Menjadi tua itu alamiah. Menjalani hidup hingga usia senja bukan sesuatu yang mudah. Apalagi harus tetap bahagia dan masih mau berbagi untuk sesama. Para anggota Kelompok Lansia Bahagia Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk membuktikan bahwa mereka tak kalah bahagia dengan yang lain.
MUHAMMAD SUKARDI, Jakarta
UMUR hanya hitungan angka dan berlaku untuk fisik. Namun, semangat tidak lekang waktu. Kesan itu muncul ketika mengunjungi perkumpulan Kelompok Lansia Bahagia Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
”Sama nenek-nenek jangan canggung. Kami emang rame kaya gini,” ucap perempuan 85 tahun yang menyambut kedatangan Jawa Pos, Selasa (31/1). Pakaiannya rapi dengan kerudung merah serta perpaduan busana yang masih apik dipandang. ”Ayo, sini gabung. Senang, lho, kalau ada yang muda begini. Kaya cucuku kamu itu,” imbuhnya, kemudian tertawa kecil.
Namanya Bungi. Dia merupakan ketua kelompok lansia yang tergabung sejak 1992 tersebut. Ya, usia kelompoknya sudah seperempat abad. Bukan waktu yang sebentar untuk menyatukan berbagai orang yang usianya sudah lanjut dan mau menjalani visi dan misi yang sama. Apalagi masih harus turun ke masyarakat untuk berbagi.
Ya, Kelompok Lansia Bahagia terbentuk karena adanya program pemerintah. Namun, itu bukan menjadi satu-satunya alasan mereka untuk mau berkumpul dan berbagi kebahagian. Bungi mengungkapkan, berkumpulnya para lansia tersebut menjadi satu contoh kebahagiaan dan rasa kemanusiaan itu nyata sampai akhir hayat. Bagaimana tidak, yang ada, kerjaan kebanyakan lansia mungkin hanya berdiam diri di rumah, tapi mereka tidak demikian. Mereka masih mau beraktikvitas, bahkan menyalurkan tangan untuk sesama.
Bungi menjelaskan, terbentuknya kelompok lansia tersebut disebabkan kesamaan visi. Yakni, sehat, mandiri, dan bermanfaat. Dari ketiga pakem itulah, mereka bersama-sama mencapai tujuan. Aktivitas-aktivitas kelompok tersebut juga akhirnya terbentuk. Misalnya, senam kesehatan khusus lansia, berdaya guna untuk diri sendiri, dan yang terpenting mau menyumbangkan sisa tenaganya untuk kebahagian orang lain.
Sebelumnya, perlu diketahui, mereka yang biasa meramaikan lantai 4 aula Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk tersebut adalah pemilik umur berkepala enam. Eits! itu yang paling muda. Yang paling tua adalah perempuan berusia 90 tahun. Masih lincah? Jelas. Begitulah mereka.
Dari visi dan misi yang mereka miliki, bisa tergambar dengan jelas bagaimana usia tidak menghambat aktivitas. Bungi menuturkan, terdapat beberapa seksi yang mengatur kegiatan setiap waktunya. Misalnya, seksi olahraga yang bertanggung jawab untuk mengoordinasi senam khusus lansia.
Lalu, ada seksi pendidikan. Bukan belajar seperti biasanya. Yang mereka lakukan dalam hal pendidikan adalah study tour. Belum lama ini, lanjut Bungi, kelompoknya baru pulang dari keliling perusahaan besar di seluruh Indonesia. Mereka tidak semata-mata menghamburkan uang. Namun, ada makna lain dari hal tersebut. Yakni, masih terdapat kemauan untuk memperkaya informasi meski di penghujung umur.
Yang cukup menjadi fokus adalah kegiatan sosial. Sekali lagi, walau badan tak lagi berkekuatan bak super hero, jiwa kemanusiaan mereka masih terbilang tinggi. Wakil Ketua II Utarti mengungkapkan, beberapa kali pihaknya menggalang dana untuk korban bencana alam. Misalnya, yang di luar negeri, ke Palestina, Balqan, atau Werdha. Termasuk yang di dalam negeri seperti ke Bandung, Aceh, dan wilayah lain yang sempat terkena bencana.
Tidak hanya yang terdampak bencana besar, Kelompok Lansia Bahagia kerap turun langsung ke wilayah Jakarta yang terkena bencana seperti banjir, kebakaran, atau tanah longsor. Bergerak bersama saling mengulurkan tangan dan mau bersusan payah meski raga tak sekuat masa muda tetap dilakoni mereka tanpa pamrih.
Sementara itu, ada satu kegiatan yang cukup menarik. Mungkin banyak yang tak menyangka. Kelompok Lansia Bahagia masih aktif dalam kegiatan paduan suara. Pembina Harian Lansia Bahagia Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk Surti Wahyuni menerangkan, kelompok tersebut beberapa kali memenangkan perlombaan tingkat nasional.
Di antaranya, juara I lomba paduan suara tingkat Provinsi DKI Jakarta pada 2015 dan pernah mewakili Jakarta dalam perlombaan paduan suara tingkat nasional. Menurut Surti, teman-teman lansianya itu tidak mengincar piala tersebut, tapi bisa ikut berkegiatan sudah dirasa cukup. ”Mereka menjalaninya ikhlas banget. Senang saya melihatnya. Saya belajar banyak dari mereka,” tuturnya. (*/c24/ano/sep/JPG)

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Laporkan Malik Bawazier, Suami Endah Fitrianingsih Jadikan CCTV Bukti Perzinaan
Pelapor Perzinaan Malik Bawazier Dicecar 28 Pertanyaan di Polda Metro Jaya
Prediksi Skor Arema FC vs DPMM FC di Piala Presiden 2026! Momentum Singo Edan Lolos ke Semifinal
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Persib Bandung vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026! Maung Bandung Bisa Sapu Bersih Laga
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
