
NASIONALISME TINGGI: Kasi Patwal Ditpolair Polda Jatim Kompol Agus Ariyanto memberikan bendera merah putih kepada Taufik.
Ditpolair Polda Jatim rutin menggelar patroli laut. Tidak hanya mengamankan perairan dari berbagai aktivitas ilegal, mereka mempunyai misi menumbuhkan semangat nasionalisme.
FARID S. MAULANA
JARUM jam menunjukkan pukul 07.00. Matahari belum meninggi. Udara di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak juga masih terasa dingin. Namun, kesibukan tampak di Kapal Patroli (KP) Brantas X-3001.
Deru mesin kapal terdengar di dermaga Mako Ditpolair Polda Jatim. Delapan personel bersiap dengan seragam lengkap. Aiptu Alfon, kapten kapal, sudah duduk di belakang kemudi. Dia mengecek kesiapan armadanya yang akan mengamankan kedatangan KM Mutiara Sentosa I. Sejak Jumat (3/2), KM Mutiara Sentosa I terombang-ambing di perairan Madura.
”Sebelum mengamankan, kami berkeliling sambil menyambangi kapal-kapal yang sedang lepas jangkar,” kata Alfon kepada Jawa Pos yang ikut dalam kapal tersebut Sabtu (4/2). Setelah semuanya siap, Alfon memerintah anak buahnya segera berlayar. Dia juga melapor kepada Kasi Patwal Air Kompol Ariyanto Agus. Kebetulan, Agus berencana ikut dalam rombongan itu.
Kapal yang dibeli dari Singapura pada 2003 tersebut mulai menyusuri perairan Surabaya. Pagi itu, ombak cukup tenang. Setiap personel bersiaga di posisi masing-masing. Meski sudah digunakan Ditpolair Polda Jatim sejak sebelas tahun lalu, mesin KP Brantas X-3001 masih terdengar garang. Akselerasinya masih baik di tengah terpaan ombak. ”Walau tua, perawatan rutin terus jalan. Biar tetap hebat, tidak kalah dengan kapal-kapal baru,” jelas Alfon.
Tak sampai 15 menit lepas dari mako Ditpolair Polda Jatim, KP Brantas X-3001 mendekati sebuah kapal kargo. Alfon mengurangi kecepatan kapal. Kurang dari tiga menit, KP Brantas X-3001 menempel di sisi kiri kapal bernama Intan Jaya 4 tersebut.
Setelah lepas jangkar, Agus langsung memimpin personel Ditpolair Polda Jatim untuk naik ke kapal bermuatan kertas itu. Agus memanggil kapten kapal, Taufik. Seluruh ABK dikumpulkan. Total ada 12 orang, termasuk Taufik.
Beberapa ABK tampak heran dengan kehadiran polisi-polisi tersebut. Ada pula yang terlihat takut. Agus lantas menerangkan maksud kedatangannya. ”Tenang, tidak ada masalah di kapal ini. Kami hanya menjalankan ritual rutin,” tutur Agus. ”Saya ingin tahu, Anda-Anda di sini hafal Pancasila dan lagu nasional nggak?” lanjutnya. Sontak, beberapa ABK saling berbisik.
Polisi asli Surabaya itu lantas menunjuk salah seorang ABK untuk mengucapkan Pancasila dengan lengkap. Meski gelagapan, Andi Wahyu, nama ABK tersebut, berhasil menyebutkan satu per satu sila dasar negara itu. ”Siap, saya punya sedikit hadiah untuk sampeyan,” kata Agus, lalu memberikan bingkisan kepada Andi. ’’Selamat datang di Surabaya,” ucapnya.
Agus kemudian menunjuk Didi Jumadi, ABK lainnya. Pria asal Padang tersebut diminta menyanyikan lagu Padamu Negeri. Sayang, Didi tidak hafal. ”Lagu nasional seharusnya dihafalkan. Itu bukti cinta kita pada tanah air. Lain kali, kalau ketemu saya, harus hafal ya,” kata Agus yang disambut anggukan oleh Didi.
Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, Agus memberikan bendera merah putih kepada Taufik. Bendera dipasang di kapal itu sebagai pengganti bendera lama yang lusuh. ”Biar Indonesia terus berkibar di lautan. Biar bangga jadi orang Indonesia,” tegasnya.
Selain kapal Intan Jaya 4, KP Brantas X-3001 menyambangi dua kapal kargo lainnya. Di dua kapal tersebut, ’’ritual” serupa dilakukan. Yakni, memberikan hadiah berupa bendera merah putih serta bertanya tentang Pancasila dan lagu nasional. ”Rutin dilakukan saat patroli. KP Brantas X-3001 mengunjungi kapal untuk menularkan semangat nasionalisme,” terang Agus.
Perwira dengan satu melati di pundak itu menyatakan, dirinya lupa kapan persisnya ’’ritual” tersebut mulai dilakukan. Yang jelas, dengan menyandang predikat tertua di antara kapal Ditpolair Polda Jatim lainnya, KP Brantas X-3001 ingin melakukan sesuatu yang berbeda untuk mendekatkan diri kepada masyarakat di pelabuhan. ”Ya, kami memilih semangat nasionalisme agar kecintaan terhadap republik tidak luntur,” tuturnya. (*/c18/fal/sep/JPG)

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
