
Seorang warga melintas Jembatan Bakubung yang telah berusia dua abad lebih.
JawaPos.com - Di tengah modernisasi, khususnya pembangunan kontruksi, ada satu yang jembatan unik yang tetap kokok berdiri di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimatan Selatan. Namanya, Jembatan Bakubung yang terbuat dari kayu ulin ini, tetap kokoh berdiri menghubungkan warga Kecamatan Sungai Pandan (Alabio) dan Sungai Tabukan.
Berada di Desa Galagah,jembatan ini sangat unik karena dilengkapi atap seperti bangunan tradisional. Desain khas Banjar menjadikan jembatan berkontruksi ulin ini menjadi ikon di dua kecamatan tersebut . Warga HSU sangat familiar dengan Bakubung yang konon tinggal satu-satunya di kota berjuluk "Kota Itik" tersebut.
Pemerhati Budaya dan Sejarah HSU Ahdiat Gazali Rahman mengatakan, Jembatan Bakubung yang dulunya merupakan wilayah Sungai Pandan atau lebih dikenal sebagai Alabio kala itu, merupakan salah satu akses penyeberangan warga yang paling terkenal dizamannya.
Jembatan ini telah berdiri pada tahun 1835 sampai pada hari ini. Selama waktu itu, jembatan masih tetap kokoh dan hanya dua kali mengalami mengalami rehab total, pada 1998 sampai 1999 tadi. "Jadi ada hampir dua abad Jembatan Bakubung kami baru mengalami perubahan," sebutnya.
Terkait nama Bakubung yang melekat di fasilitas penyeberangan kayu berbahan kayu ulin super kokoh tersebut, mungkin secara kasat mata karena adanya serobong (Tenda, red) yang menutupi tengah jembatan.
"Fungsinya sebagai sarana komunikasi warga, entah bertukar pikiran atau informasi kala itu. Selain lokasi berteduh warga dikala hujan," terangnya seperti ditulis Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Minggu (5/2).
Dia mengatakan ini merupakan jembatan satu-satunya di HSU bahkan mungkin di Provinsi Kalimantan Selatan yang unik, dan harus tetap dilestarikan keberadaannya.
"Memang tantangan jembatan kayu saat ini memiliki kapasitas beban yang terbatas. Jikapun mungkin pesona Bakubung sebagai jembatan informasi dan silaturahmi warga tetap dipertahankan, meskipun berubah raga menjadi beton dan baja," cetusnya.
Fakta unik jembatan bercat kuning dan hijau tersebut, juga diutarakan oleh Anang Sufri warga Desa Gelagah yang tepat bermukim di samping jembatan.
"Ini jembatan kebanggaan masyarakat Alabio, meski saat ini Alabio dimekarkan menjadi satu kecamatan yakni Sungai Tabukan. Ini jembatan legenda, sebab umurnya yang lebih dari dua ratus tahun," sebutnya.
Keunikannya lagi kubung jembatan tetap mempertahankan atap rumah orang Banjar. Tak terhenti disitu saja, jembatan ini juga diapitdua musalah yakni Musala di Desa Gelagah Hulu bernama Nur Hidayah, dan satu Musalah Nuruz Sahbirin di Desa Pemetang Benteng Hilir yang berada di sisi lainnya. (mar/by/ran/nas)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
