
BISNIS ESEK-ESEK: AKBP Shinto Silitonga menunjukkan pelaku trafficking yang menawarkan layanan threesome.
JawaPos.com - Psikiater RSUD dr Soetomo dr Nalini Muhdi SpKJ (K) ikut angkat bicara soal fenomena maraknya perdagangan perempuan yang melayani threesome. Apalagi, kebanyakan yang menjual perempuan-perempuan itu adalah suaminya sendiri. Nalini menjelaskan bahwa perilaku threesome merupakan sebuah gaya hidup yang salah dalam sebuah hubungan suami istri.
''Itu jelas menyalahi semua norma yang ada,'' jelasnya. Nalini melanjutkan, tidak ada yang namanya hubungan threesome dilandasi dasar ketidakpuasan saat berhubungan badan dengan pasangan resmi. Kalau kasusnya suami menawarkan istrinya, hal itu dilatarbelakangi paksaan. ''Kalau istri dipaksa, berarti dia jadi korban kekerasan seksual,'' tambahnya.
Namun, pada beberapa kasus lain istri juga menikmati threesome. Meski awalnya dipaksa, selanjutnya dia tidak keberatan. Kalau sudah seperti itu, penyebabnya adalah kontrol diri yang kebablasan.
Seperti yang diberitakan, berdasar catatan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya, para korban rata-rata punya perantara alias muncikari. Hingga Februari ini unit PPA sudah mengungkap enam kasus threesome. Perempuan yang diamankan adalah korban.
''Mereka yang tertangkap butuh perantara untuk melakukan itu (threesome, Red). Kebanyakan adalah orang terdekatnya, yaitu suami sendiri,'' jelas Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni kemarin (4/2).
Para pelaku yang tertangkap tidak memiliki komunitas di kehidupan nyata. Mereka memanfaatkan media sosial yang mewadahi sesama pencari fantasi threesome. Bisa dibilang, mereka masih amatir.
Ruth Yeni menyatakan, para pelaku tidak gampang menunjukkan jati dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tertutup dan cenderung berperilaku seperti orang kebanyakan. ''Makanya, media sosial jadi ajang untuk mewujudkan fantasi itu. Mereka bebas mengekspresikannya di sana,'' tuturnya.
Selama ini unit PPA banyak menemukan para pelaku yang mencari partner lewat Facebook. Rata-rata memang laki-laki. Mereka tidak canggung menawarkan istrinya sendiri. Kalau si pria masih lajang, mereka mencari partner. Pelaku yang tidak punya pasangan tersebut rela membayar.
Nah, terkadang ada oknum yang mencari kesempatan. Mereka menawarkan perempuan-perempuan yang tidak memiliki tali pernikahan. Tentu ada banderol yang dipasang. Harga tersebut tidak untuk si perantara, tetapi perempuan yang memang menjajakan diri. ''Ingat, uang bukan tujuan utama mereka. Tapi, sensasi itu sendiri. Mereka jadi korban fantasi,'' ucap polisi asal Banyuwangi tersebut. (did/c15/fal)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
15 Kata Cristiano Ronaldo ke Lionel Messi Setelah sang Ayah Meninggal Dunia
Biaya Nany Widjaja untuk Lobi Pembelian Tanah Rp 50 M, Harga Tanah Hanya Rp 30 M
Bentrokan di USS Abraham Lincoln: 7 Prajurit Dilaporkan Tewas di Tengah Perang dengan Iran
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
