Minggu, 20 Aug 2017
Features

Jejak Warisan Nusantara di Georgetown, Pulau Penang, Malaysia

Sabtu, 04 Feb 2017 15:06 | editor : Miftakhul F.S

DUA ABAD: Masjid Melayu Lebuh Acheh di Penang ini dibangun saudagar asal Aceh Tengku Syed Hussein pada 1808. Sampai sekarang masih kukuh berdiri.

DUA ABAD: Masjid Melayu Lebuh Acheh di Penang ini dibangun saudagar asal Aceh Tengku Syed Hussein pada 1808. Sampai sekarang masih kukuh berdiri. (DHIMAS GINANJAR/JAWA POS)

Nama Aceh harum di Georgetown, Penang, Malaysia. Sebab, saudagar asal bumi Serambi Makkah bernama Tengku Syed Hussein tercatat sebagai penggagas perkampungan muslim di kota pelabuhan itu pada 1808. Jejak sejarahnya masih utuh sampai sekarang.

Laporan DHIMAS GINANJAR dari Penang

SUASANA kompleks Masjid Melayu di Jalan Lebuh Acheh Rabu siang (1/2) itu terlihat sepi. Sebagai objek wisata warisan budaya Malaysia, Masjid Melayu tak dikunjungi banyak turis. Pamornya kalah oleh Masjid Kapitan Keling yang berjarak lima menit jalan kaki dari tempat itu. Bisa jadi, karena Masjid Melayu tidak menawarkan keindahan arsitektur modern. Apalagi, tambahan atap saat perluasan masjid justru menutupi keelokan bangunan lawasnya.

Siang itu hanya ada tiga orang di dalam masjid yang sedang melakukan kajian Alquran. Sedangkan di serambi ada dua pria sepuh yang tengah duduk santai dan beberapa lainnya tidur di lantai.

Salah seorang pria lanjut usia itu adalah Mochamed bin Yahya, 79. Dia adalah sosok yang dituakan oleh komunitas muslim Pulau Penang. Mochamed merupakan generasi kelima yang tinggal di kompleks Masjid Melayu dengan beberapa rumah lawas di sekitarnya.

’’Dari dulu daerah ini sudah dijuluki Malay muslim enclave (pusat kantong muslim Melayu, Red) oleh British (Inggris, Red),’’ ujar Mochamed.

Sebagai pensiunan guru SD, dia punya ikatan yang kuat soal pengetahuan. Karena itulah, jamaah masjid merujuk dia untuk menggali informasi tentang Penang.

Mochamed menceritakan, Masjid Melayu dahulu dibangun Tengku Syed Hussein, pedagang peranakan Arab yang cucu sultan Aceh. Dia diminta Kapten Francis Light dari East India Company (EIC) yang membuka trading post pada 1786 untuk ikut menggairahkan perekonomian Pulau Penang.

Syed Hussein dipilih karena dikenal sebagai pengusaha yang sukses dalam berbisnis melalui perkapalan. Salah satu komoditasnya rempah-rempah dari Nusantara. ’’Dulu pulau ini juga menjadi transit bagi jamaah haji yang pergi dengan menggunakan kapal,’’ terangnya.

Sebagai kota transit, Pulau Penang sebenarnya ramai sejak dulu. Bahkan, di pulau seluas 293 km persegi tersebut juga sudah ada warga muslim dari Brunei maupun Indonesia zaman itu. Syed Hussein dan keluarga besarnya yang pindah ke Penang pada 1792 diberi keistimewaan oleh Inggris. Termasuk, boleh menerapkan hukum syariah di komunitasnya.

Keberadaan Syed Hussein di Penang dengan cepat membuat perekonomian di pulau itu jadi bergairah. Muslim dari Aceh dan negara lain yang datang juga makin banyak ke Penang. Syed Hussein lantas membangun masjid pada 1808 untuk menyatukan umat muslim dari berbagai etnis dan bangsa itu. Juga sebagai penanda berkembangnya peradaban muslim Melayu di Penang.

’’Saat itu bangsa Melayu belum dipecah oleh Belanda dan Inggris,’’ tuturnya.

Sebagai muslim asal Aceh, Tengku Syed Hussein menyodorkan desain masjid seperti yang banyak dibangun di era kerajaan Nusantara saat itu. Yakni, memiliki atap berbentuk segi tiga. Berbeda dengan masjid lain di sekitarnya yang memiliki kubah. ’’Ini bukan masjid pertama di sini. Tapi, masjid terbesar pertama,’’ imbuhnya.

Ornamen khas Aceh yang tidak ditinggalkan Tengku Syed Hussein masih dipertahankan hingga saat ini. Bentuknya seperti kelopak bunga matahari berukuran besar. Kata para pendahulu Mochamed, hiasan yang diletakkan di atas pintu dan jendela masjid juga dibawa langsung dari Aceh.

Bukan hanya itu. Banyaknya umat muslim asal Aceh dan daerah lain di Indonesia ikut memengaruhi tradisi pembuatan kompleks makam di samping masjid. Salah satunya makam Tengku Syed Hussein. Hal itu tidak banyak ditemui di masjid-masjid Malaysia.

Banyaknya muslim asal Aceh di Penang diabadikan untuk nama jalan di pusat kota, Jalan Lebuh Acheh. Masjid Melayu termasuk berada di jalan itu.

Menurut Mochamed, Masjid Melayu dulu dibangun dengan fondasi cerucuk bakau. Sebab, kawasan kompleks masjid tersebut dulu berupa rawa-rawa. Dengan begitu, tumbuhan bakau dinilai kuat untuk menahan resapan air daripada fondasi kayu. Buktinya, sampai sekarang masjid berusia lebih dari dua abad itu masih kuat.

Kondisinya berbeda dengan bangunan baru yang merupakan perluasan masjid. Bangunan baru itu tidak menggunakan pola yang sama dengan bangunan lama. Sehingga tidak sekuat bangunan lama dalam menyerap air. ’’Masjid ini berdiri pada 1808. Pembangunannya memang lama,’’ katanya.

Mochamed teringat bencana tsunami dahsyat yang menerpa Aceh pada 2004. Saat itu warga muslim keturunan Aceh yang tinggal di Penang berduyun-duyun ke Masjid Melayu untuk salat dan berdoa bersama. ’’Saya sangat terharu ketika itu. Banyak orang Aceh kemari,’’ kenangnya.

Mochamed yang 33 tahun menjadi guru itu menambahkan, pada 1820 Syed Hussein mewakafkan kompleks masjid yang dibangun, termasuk 16 rumah di sekitarnya. Tak heran, masjid itu dipertahankan umat Islam di Penang dari kehancuran gara-gara pendudukan Jepang pada 1941–1945.

’’Masjid ini menjadi salah satu penanda majunya umat muslim Melayu saat itu,’’ tuturnya.

Makin populernya Georgetown sebagai destinasi wisata membuat pemerintah makin rajin melakukan pembangunan infrastruktur, termasuk hotel dan apartemen. Sempat muncul rencana menggusur bangunan di sekitar kompleks masjid. Namun, rencana itu ditolak keras oleh Badan Warisan Masjid Melayu Pulau Penang.

Mereka berkeberatan atas rencana itu karena kompleks Masjid Melayu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. ’’Ini kampung muslim Melayu pertama di sini. Jadi, ironis bila digusur,’’ kata mantan ketua Badan W Arisan Masjid Melayu Pulau Penang itu.

Generasi kelima dari imam pertama Masjid Melayu Syekh Omar Basheer itu mengakui, usia bangunan yang sudah tua membutuhkan perawatan ekstra. Untung, kini pemerintah sudah memasukkan masjid itu ke daftar warisan budaya nasional sehingga pengelola tidak bingung saat harus melakukan perbaikan.

Diakui pula, saat ini jamaah Masjid Melayu sudah banyak menyusut. Ketika salat-salat wajib, tidak lebih dari dua saf yang salat berjamaah.’’Dulu, pada 1950-an, jamaahnya banyak. Setiap salat fardu, masjid selalu penuh. Sekarang sudah sepi,’’ kenangnya. (*/c10/ari)



Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia