
BARANG BUKTI: Sabu seberat 20 kg yang berhasil diamankan Polda Jatim.
JawaPos.com- Polda Jatim memamerkan pengungkapan jaringan besar narkoba yang digerakkan dari dalam penjara. Empat tersangka ditangkap dalam kasus itu. Barang bukti sabu-sabu seberat 20 kg disita.
Secara khusus, Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifinmembeberkan pengungkapan kasus itu. Menurut Kapolda, otak jaringan tersebut adalah tahanan yang mendekam di Rutan Kelas II-B Depok. Jaringan itu juga melibatkan dua pegawai rutan lainnya. ”Kami akan kejar di mana saja ada narkoba,” terangnya.
Machfud menyatakan terus berupaya mengembangkan pengusutan kasus itu. Diduga, jaringan tersebut tidak hanya bergerak di lintas daerah. Namun, juga menggandeng jaringan internasional agar pasokan sabu-sabunya besar. ”Saat ini, petugas kami masih ada di lapangan, sedang mengejar tersangka-tersangka lain,” lanjut mantan Kadiv TI Mabes Polri tersebut.
Terungkapnya sindikat tersebut berawal dari ditangkapnya YN di hotel di Jl Pregolan, Tegalsari. Pria asal Jakarta itu ditangkap pada Kamis pagi (19/1) di kamar nomor 219. Dari tangan pria 41 tahun tersebut, Subdit 1 Ditresnarkoba Polda Jatim menyita barang bukti sabu-sabu seberat 1 kg. Rencananya, sabu-sabu itu diedarkan di Surabaya. ”Dari keterangan YN itu kemudian berkembang ,” ujar Direktur Reserse Narkoba Polda Jatim Kombespol Gagas Nugraha yang mendampingi Kapolda.
Polisi lantas mengejar pelaku lain di daerah Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur; dan Cilodong, Depok. Rupanya, jaringan tersebut melibatkan pegawai Rutan Depok. Mereka adalah D. Yanto (kepala kepegawaian Rutan Kelas II-B Depok) dan Rypan (sipir di Rutan Kelas II-B Depok).
Dari tangan Yanto, polisi menyita barang bukti 2 kg sabu-sabu dan beberapa paket narkoba dalam jumlah kecil. ”Barang bukti itu disimpan di sebuah kos-kosan di daerah Cijantung,” lanjut Gagas.
Polisi membeberkan bahwa Yanto punya dua tempat tinggal dan dua istri. Istri pertama berada di Bekasi. Istri kedua tinggal di sebuah kos di daerah Cijantung. Ketika ditanya, Yanto mengaku baru enam bulan terakhir membantu seorang tahanan mendistribusikan serbuk haram tersebut kepada pengguna narkoba. ”Setiap kali mengantar, imbalannya adalah 75 gram narkoba. Nilainya lebih dari Rp 100 juta,” jelas Gagas.
Dia menjadi perantara untuk menyalurkan narkoba ke dalam dan ke luar rutan. Selain itu, keduanya positif menggunakan narkoba. Untuk penghuni lapas yang dicokok, Gagas belum mau menguak identitasnya. Sebab, pihaknya masih berupaya mengembangkannya. ”Karena narkoba tidak seperti kasus konvensional lainnya, perlu kehati-hatian,” urainya.
Dua pegawai rutan itu lalu dikeler untuk menunjukkan gudang penyimpanan narkoba tersebut. Keduanya sempat menolak karena takut keluarganya diteror di kemudian hari. Namun, petugas meyakinkan keduanya. ’’Akhirnya, keduanya menunjukkan sebuah gudang di daerah Jakarta,” tutur pria dengan tiga melati di pundak itu.
Dari gudang tersebut, polisi membekuk Saiful yang selama ini menjadi penjaga gudang. Dia terpaksa dilumpuhkan karena melawan saat akan ditangkap. Dari sana, polisi menyita 17 kg sabu-sabu. ”Saat itu, pistol petugas mau dirampas,” ungkap Gagas. Dari penangkapan pertama hingga tertangkapnya Saiful, polisi membutuhkan waktu yang relatif singkat. Hanya sepuluh hari.
Gagas menjelaskan, sabu-sabu yang didistribusikan keempat tersangka merupakan narkoba unggulan. Bentuknya lebih bagus dan warnanya lebih putih. Diduga, narkoba tersebut diselundupkan dari luar negeri. ”Tapi, kami belum bisa memastikan dari mana,” ujarnya.
Selain sabu-sabu, polisi juga menyita dua jeriken cairan yang diduga mengandung narkoba. Saat ini, pihaknya masih melakukan pengecekan di laboratorium forensik. ”Ini juga modus baru,” tambahnya.
Yang dimaksud Gagas adalah pencampuran serbuk narkoba dengan cairan efedrin. Saat akan digunakan, cairan tersebut dikeringkan. Setelah proses pengeringan selesai, serbuk sabu-sabu akan tampak. ”Itulah kenapa, kami juga menyita sebuah alat pengering dari tersangka ,” imbuhnya.
Temuan tersebut merupakan salah satu modus baru yang sekarang tren dilakukan pengedar narkoba. Terutama yang dipasok ke lapas/rutan. Cara itu cukup efektif mengelabui petugas. Petugas akan mengira mereka hanya membawa air biasa. ”Ini perlu dikenalkan agar petugas lebih cermat,” lanjutnya.
Terkait keterlibatan para pegawai rutan, Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera menyatakan bahwa pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan KemenkumHAM. Itu dibuktikan dengan penandatanganan MoU untuk memberikan ruang kepada polisi dalam melakukan pengungkapan. Terutama terhadap peredaran narkoba di dalam lapas atau rutan. ”Selain untuk penindakan, ada juga langkah-langkah yang sifatnya antisipatif,” jelasnya. Namun, dia mewanti-wanti bahwa saat ini narkoba bisa menjangkiti siapa saja. Sasaran peredaran sabu-sabu tersebut menjangkau semua lapisan warga.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Sassuolo vs Cesena di Coppa Italia: Jay Idzes Berpeluang Starter!
