Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Februari 2017 | 18.34 WIB

Cerita Tentang CAP12, Komunitas Street Art Khusus Persebaya dan Bonek

DUKUNG PERSEBAYA: Komunitas CAP12 dengan mural hasil kreasinya. - Image

DUKUNG PERSEBAYA: Komunitas CAP12 dengan mural hasil kreasinya.


Dukungan Bonek kepada Persebaya kian beragam. Tidak hanya lantang bernyanyi di dalam stadion, mereka juga punya karya di luar tribun. Misalnya, yang dilakukan CAP12. Lewat karya-karya street art, komunitas itu membuktikan bahwa Bonek punya banyak cara untuk mendukung tim kesayangannya.




FARID S. MAULANA, Surabaya




STREET art masuk ke Indonesia pada era 1990-an. Seni yang menggunakan ruang publik sebagai medianya itu muncul berbarengan dengan masuknya musik hiphop ke Nusantara. Seni jalanan tersebut terus berkembang hingga akhirnya muncul berbagai kelompok yang menggunakannya sebagai alat propaganda.



Street art juga terbukti mampu memikat anak-anak muda Indonesia. Walau lekat dengan aksi vandalisme, karya-karya mereka tidak jarang menjadi warna tersendiri dalam sebuah kota. Menjadi media komunikasi dua arah guna menyampaikan pendapat dari seniman untuk masyarakat yang ’’menikmatinya’’.



Di kota besar seperti Surabaya, komunitas street art tumbuh subur. Mereka saling berebut memamerkan hasil karyanya di tembok-tembok kota. Tidak sedikit pula komunitas yang menyelipkan ideologi dalam setiap karyanya.



Nah, salah satu yang selalu menampilkan ideologi dalam setiap karya street art-nya adalah komunitas CAP12. Komunitas seniman jalanan yang berasal dari pendukung Persebaya itu menarik perhatian masyarakat sejak kali pertama muncul pada 2014.



Lewat karya-karya beraroma dukungan terhadap Green Force, CAP12 punya andil besar turut menyuarakan perlawanan terhadap PSSI ketika Persebaya dipaksa berhenti berkompetisi. Dengan coretan-coretan perlawanan terhadap rezim PSSI yang menindas, komunitas yang digawangi para pemuda berusia rata-rata 20 tahun tersebut berhasil membangun semangat Bonek melalui karya street art.



CAP12 terbentuk dari anak-anak muda yang rindu melihat Persebaya kembali berlaga. Mereka yang biasanya bernyanyi dan berteriak bersama di balik pagar tribun berkumpul untuk saling bertukar kerinduan. Lalu, ide untuk mengungkapkan kerinduan itu tercetus lewat karya. ’’Dari situ ide untuk melakukan movement lewat street art tercetus,’’ ucap Mahardika Nurdian S., salah satu anggota yang ikut membentuk CAP12.



Nah, karya pertama mereka dilakukan di Jalan Ngagel. Karya tersebut cukup fenomenal. Sebab, dari situ nama CAP 12 dikenal luas oleh masyarakat metropolis.



Karya pertama itu berbentuk mural. Sebenarnya, karya tersebut tidak bagus-bagus amat untuk kelas seniman street art di Surabaya. Bentuk tulisan dan gambarnya memang terkesan compang-camping. Seakan digambar asal-asalan.



Namun, mural bertulisan Persebaya Ndang Tangio (Ayo Segera Bangun, Persebaya, Red) itu begitu berkesan. Mural tersebut seakan mewakili ungkapan kerinduan jutaan Bonek di seluruh Indonesia. Menyiratkan harapan untuk bisa kembali melihat Persebaya berlaga.



Warna mural tersebut khas tim Green Force, yakni hijau dan putih. Ada gambar megafon di sebelah kanannya yang merupakan simbol suporter dalam dunia sepak bola. Sebelah kirinya adalah asal mula nama Persebaya sejak 1927 hingga 2014.



Mahardika mengatakan, saat membuat konsep mural itu, komunitas tersebut sebenarnya sulit cari nama. Berbagai pilihan nama sempat terpikir, mulai dari kata berbahasa Indonesia, Inggris, hingga Amerika Latin. Istilah-istilah khas Ultras alias pendukung klub sepak bola garis keras.



Setelah berdebat lama, nama CAP12 muncul. Nama itu merupakan singkatan dari Coretan Arek Persebaya 12. ’’Daripada keminggris, mending Indonesia saja. Tetap sederhana tapi maknanya ada,’’ lanjut pria yang sempat mengenyam pendidikan di UPN tersebut. Angka 12 di belakang CAP merupakan simbol suporter dalam dunia sepak bola sebagai pemain ke-12.



Istilah CAP juga lekat dengan alat yang digunakan untuk membuat mural atau grafiti. Yakni, Pylox. Untuk anak street artist, istilah CAP tentu tidak asing di telinga. ’’Pencetane (ujung yang dipencet) Pylox itu cap,’’ sahut Abryanto Pratama Putra atau biasa dipanggil Abre, anggota lainnya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore