Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Februari 2017 | 06.03 WIB

Mengikuti Penampilan Karawitan Laras Sekar Arum SMPN 5 Sidoarjo

ASAH KEMAMPUAN: Murlan (kiri) mendampingi siswa-siswi SMPN 5 Sidoarjo saat tampil pada acara pernikahan Rabu (1/2) di Perumahan Tanggulangin Asri, Sidoarjo. - Image

ASAH KEMAMPUAN: Murlan (kiri) mendampingi siswa-siswi SMPN 5 Sidoarjo saat tampil pada acara pernikahan Rabu (1/2) di Perumahan Tanggulangin Asri, Sidoarjo.

Tujuan awalnya menanamkan seni tradisional sejak dini. Kini, Karawitan Laras Sekar Arum SMPN 5 Sidoarjo bukan hanya sebagai pembelajaran sekolah. Para pelajar yang tergabung dalam ekstrakurikuler itu juga memiliki jam terbang tinggi tampil pada acara-acara pemerintahan dan masyarakat.



SEPTINDA AYU PRAMITASARI



TIM Karawitan Laras Sekar Arum SMPN 5 Sidoarjo sudah siap di atas panggung acara pernikahan di Perumahan Tanggulangin Asri pada Rabu (1/2). Mereka berpakaian lengkap adat Jawa. Para putri mengenakan kebaya dengan rambut berkonde. Putra mengenakan beskap dengan belangkon. Dua sinden pun siap di depan panggung untuk menyambut tamu. Begitu juga dua penari yang siap menghibur tamu.


Murlan, guru karawitan Laras Sekar Arum SMPN 5 Sidoarjo, langsung memberikan kode dengan menabuh gendang ketika pasangan pengantin tersebut memasuki ruangan. Para penabuh gamelan mulai memainkan alat-alat musik tradisional itu dengan lincah, mengiringi prosesi sungkeman.


Tidak berselang lama, dua penari SMPN 5 Sidoarjo menarikan salah satu tarian khas Sidoarjo, yakni tari kepis ronjot. Musik gamelan berubah lebih rancak yang dipadu dengan suara merdu para sinden. Kelihaian para pelajar tersebut dalam berkarawitan memikat perhatian para undangan. Tidak sedikit yang mengabadikannya dalam rekaman video.


Ya, Karawitan Laras Sekar Arum SMPN 5 Sidoarjo saat itu memang dipercaya untuk mengisi acara penikahan salah seorang warga di Perumahan Tanggulangin Asri. Meski usia anggota karawitan tersebut masih terbilang belia, mereka mampu tampil dengan sangat apik. Bahkan, tidak ada rasa grogi sama sekali ketika mengiringi acara pernikahan selama hampir lima jam tersebut.


Para anggota Karawitan Laras Sekar Arum itu tetap semangat. Meskikeringat mulai bercucuran di kening. Sebab, mereka telah memainkan kurang lebih 11 lagu untuk mengiringi manten. ”Sudah biasa tampil begini. Capek sih. Tetapi, banyak senangnya,” ungkap Bariq Akmal, siswa kelas VIII SMPN 5 Sidoarjo.


Bariq mengatakan, dirinya sangat tertarik pada seni tradisional sejak masuk SMP. Kebetulan sekolahnya memiliki ekstrakurikuler karawitan yang cukup populer di Sidoarjo. Dia pun berkesempatan mengenal lebih dalam seni tradisionaltersebut.


Menurut dia, suara gamelan yang keluar ketika ditabuh itu terdengar begitu enak dan renyah. Hal tersebut membuatnya semakin tertarik belajar bermain gamelan. Hampir semua alat dipelajari. ”Sekarang saya bermain gambang,” ujarnya.


Bariq mengatakan, tim Karawitan Laras Sekar Arum kerap tampil pada acara-acara besar di Sidoarjo. Misalnya, hari jadi Sidoarjo tahun lalu dan lomba panggung dolanan anak-anak. Selain itu, beberapa kali dia bersama tim karawitan diundang untuk mengisi acara pernikahan. ”Awal-awal sih masih kaku. Sekarang sudah biasa,” ungkapnya.


Setiap kali mau tampil padasebuah acara, lanjut dia, tim ekstrakurikuler Karawitan Laras Sekar Arum selalu berlatih rutin seminggu sekali, tepatnya setiap Jumat. Namun, setiap anggota juga berlatih sendiri saat waktu senggang. ”Saya senang sekali, tidak berpikir dibayar atau tidak. Yang penting main dan dapat pengalaman,” kata Bariq.


Murlan mengatakan, Karawitan Laras Sekar Arum baru dibentuk pada 2015 dalam sebuah wadah ekstrakurikuler sekolah. Anggotanya lebih dari 20 siswa. Namun, karawitan di SMPN 5 Sidoarjo tersebut telah masuk dalam intrakurikuler. Artinya, seluruh siswa di SMPN 5 Sidoarjo telah mengenal seni tradisi karawitan.


Sejak awal masuk sekolah, tambah dia, seluruh siswa dilatih untuk mengenal seni karawitan. Mulai instrumen, teknik tabuhan, hingga maknanya. Hampir seluruh siswa yang belajar karawitan memulai dari nol tanpa memiliki kemampuan dasar di bidang seni. ”Dari yang tidak bisa, kami ajarkan hingga bisa dan terbiasa,” ujarnya.


Murlan menyatakan, pihaknya selalu mengajarkan terlebih dahulu pengertian tentang karawitan. Karawitan diambil dari kata rawit yang berarti halus atau enak didengar. Setelah pemahaman itu sampai kepada anak-anak, dia akan mengenalkan jenis alat gamelan. Kemudian, mereka memainkan gamelan secara langsung. ”Mengajari anak-anak belajar karawitan susah-susah gampang. Tetapi, setelah anak itu bisa, rasanya juga senang,” katanya.


Menurut dia, seni tradisional sangat penting dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Sebab, hal itu dapat melatih kepekaan anak terhadap seni tradisional. Nah, untuk melatih anak-anak agar benar-benar menyelami seni tradisional, dia berupaya menampilkan siswa karawitan di panggung terbuka. Mulai mengikuti lomba-lomba tingkat kabupaten hingga mengisi acara di kalangan pemerintahan maupun hajatan. ”Mental anak-anak dilatih dan kemampuannya diasah di depan umum. Karena seni itu juga harus dinikmati,” ujarnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore