Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Februari 2017 | 05.55 WIB

Sadar Keselamatan Diri Rendah, 194 Nyawa Melayang

CUACA BURUK: Boat pukat langgar tenggelam dan terdampar ke bibir PKuala Bugak saat memasuki kuala akibat diterpa gelombang besar, Peureulak, Aceh beberapa waktu lalu - Image

CUACA BURUK: Boat pukat langgar tenggelam dan terdampar ke bibir PKuala Bugak saat memasuki kuala akibat diterpa gelombang besar, Peureulak, Aceh beberapa waktu lalu

JawaPos.com - Kesadaran masyarakat Aceh dalam berpergian, baik menggunakan moda transportasi darat maupun laut masih rendah. Buktinya sepanjang 2016 terdapat 135 musibah kecelakaan dalam berlalu lintas. Baik di jalan raya maupun laut yang menyebabkan 194 orang meninggal.


"Mayoritas korban sendiri yang mengabaikan keselamatan diri pada saat melakukan kegiatan pada tempat, seperti gunung, laut dan jalan raya," kata Kepala Kantor SAR Banda Aceh, Suyatno Harjo, Jumat (3/2).


Dia mencontohkan, rendahnya kesadaran warga untuk taat aturan lalu lintas. "Kita lihat sendiri seperti di jalan raya, masih banyak yang melanggar lalu lintas. Kemudian di laut, pada saat cuaca ekstrim walau sudah ada imbauan dilarang melaut, tapi tetap juga ada nelayan yang melaut," jelasnya.


Selain faktor tersebut, menurutnya, kondisi cuaca dan bencana alam turut memicu tingginya musibah. Dia meyakini bila kesadaran safety meningkat, maka jumlah kejadian dan korban dapat diminimalisir.


Sementara kejadian terbanyak ditangani terjadi di wilayah kerja Kantor SAR Banda Aceh, mencapai 51 kejadian. Berikutnya, pos SAR Meulaboh 29 kejadian. Sepanjang tahun lalu, juga tercatat 77 kondisi membahayakan jiwa, 21 bencana, 37 kecelakaan di laut. "Kita (Aceh) nomor urut kelima di Indonesia yang banyak kejadian kecelakaan,"sebutnya.


Sepanjang Januari tahun ini, total kecelakaan telah mencapai 21. Akibatnya, sebanyak delapan orang meninggal, hilang dua dan selamat sebanyak 14 orang. Kejadian itu, tujuh di laut, lima bencana alam dan sembilan tempat yang membahayakan jiwa seperti tempat parisiwata.


Suyatno menyebutkan, menciptakan safety minded (pemahaman keselamatan) tidak gampang semudah membalikkan telapak tangan, perlu proses panjang yang terus menerus bahkan butuh dukungan dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah.


"Saat safety menjadi karakter setiap orang, maka semua akan berjalan sesuai rel yang telah dibangun. Contoh, petugas apapun akan bekerja dengan hati-hati dan tidak memaksakan masuk wilayah tugas apabila ada potensi yang membahayakan," jelas Suyatno Harjo.  (ibi/mai/iil/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore