
Djadjang Nurdjaman tak masalah dengan regulasi pemain muda.
JawaPos.com - Pelatih Persib, Djadjang Nurdjaman, mengaku akan mematuhi segala regulasi yang dikeluarkan oleh PSSI. Termasuk aturan yang mengharuskan tiga pemain muda di bawah 23 tahun minimal main selama 45 menit pada Piala Presiden 2017.
”Karena ini turnamen kita ikuti saja, jangan terlalu cepat bilang setuju atau enggak setuju,” kata Djadjang di Mes Persib, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, kemarin (1/2).
Pelatih yang karib disapa Djanur ini pun menilai adanya regulasi tersebut guna mendongkrak potensi pemain muda. Namun bila diterapkan di kompetisi kasta tertinggi, seperti Liga 1, aturan soal pemain muda ini sedikit menyulitkan untuk timnya, yang notabene mendapat tuntutan untuk selalu juara.
Apalagi, kata dia, jika aturannya pemain muda harus turun selama 90 menit penuh. Itu akan lebih berat. ”Itu berat sekali karena rencana yang saya susun dari awal jadi buyar karena (regulasi) itu,” ucapnya.
Dia menilai tidak mudah untuk sebuah negara menelurkan pemain hebat. ”Untuk menjadikan pemain hebat itu mahal, tergantung talenta juga. Maradona muncul kapan? Lalu Lionel Messi juga munculnya kapan? Tapi kita harus tetap optimistis pada regulasi itu,” ulasnya.
Musim 2016 lalu Persib telah mengorbitkan pemain muda, yaitu Febri Haryadi yang tampil cukup gemilang di Indonesia Soccer Championship (ISC). Memang pemain jebolan Diklat Persib U-21 tersebut, dia menilai, belum bisa dibilang sebagai pemain bintang.
”Tapi untuk menuju ke arah sana (pemain bintang) ada. Saya sudah lihat Febri waktu masih bermain di Sekolah Sepak Bola (SSB) UNI,” tuturnya.
Lebih lanjut, di Piala Presiden 2017 nanti timnya satu grup dengan PSM, Persiba Balikpapan dan Perselan. Walaupun Maung Bandung akan berlaku sebagai tuan rumah di grup C, dia ogah terlalu percaya diri. ”Yang pasti harus optimistis. Tapi ini turnamen harus step by step. Di grup dulu, baru pikirkan ke depan,” katanya.
Dia atas kertas Persib boleh dibilang lebih diunggulkan, karena pada setiap pertandingan di fase penyisihan nanti bisa tampil di depan bobotoh secara langsung. Namun bagi Djanur, sepak bola tidak bisa dihitung secara matematis.
”Tapi secara persiapan setiap tim sama, mereka (peserta lain) juga masih membangun pemain. Latihan juga masih seperti kita,” tuntas Djanur. (asb/bbs/rie/ira/JPG)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
