Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Februari 2017 | 22.05 WIB

Banjir Kembali Tinggi, Anak-Anak Kini Tidak Bisa Sekolah

JALAN JADI SUNGAI: Mukidin, warga Desa Kupang, Jabon, Sidoarjo memanfaatkan perahunya untuk mengantarkan warga mengambil obat dan bantuan sembako di balai desa setempat. - Image

JALAN JADI SUNGAI: Mukidin, warga Desa Kupang, Jabon, Sidoarjo memanfaatkan perahunya untuk mengantarkan warga mengambil obat dan bantuan sembako di balai desa setempat.


JawaPos.com- Ribuan warga di lima desa wilayah Kecamatan Jabon belum bisa hidup tenang. Genangan air di kawasan tersebut kembali naik. Ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Selain menenggelamkan banyak rumah dan berhektare-hektare sawah, banjir menggenangi sekolah.



Titik genangan air tertinggi terdapat di Kupang Kidul, Desa Kupang. Ketinggian air di jalan desa mencapai 70 sentimeter. Aspal jalan sama sekali tidak terlihat. Yang tampak hanya luberan air. Warga setempat memasang kursi kayu dan bambu secara melintang di tengah jalan. Fungsinya menandai ketinggian air.



Selain itu, pemasangan tersebut bertujuan mengingatkan pengendara yang melintas untuk mengurangi kecepatan. Air berwarna keruh cokelat kehitaman. Baunya kurang sedap. Kondisi itu membuat warga menderita. Toko dan tempat usaha lain menjadi sepi. ”Yang beli hanya tetangga kanan kiri. Sebelum banjir, lumayan ramai,” ujar Luluk Makrufah, salah seorang pemilik toko.



Perempuan 50 tahun tersebut mengaku sempat lega saat air susut beberapa hari sebelumnya. Bersama anak dan suami, Luluk menguras air yang menggenangi toko. Sayang, baru beberapa jam kering, air kembali datang. ”Saya sudah lelah. Dikuras, air kembali datang,” tuturnya pasrah.



Banjir juga membuat istirahat warga tidak nyenyak. Menurut Aspiah, warga lain, ketinggian air di rumahnya sempat turun. Namun, hujan yang mengguyur pada Rabu (1/2) mengakibatkan air naik selutut. Seluruh bagian rumah, mulai ruang tamu, dapur, hingga kamar, menjadi seperti kolam. ”Saya takut air semakin tinggi. Kalau malam, saya dan anak-anak giliran berjaga,” paparnya.



Perempuan 48 tahun itu berencana mengungsi ke posko penanggulangan banjir di Balai Desa Kupang. Kemarin dia datang ke balai desa untuk melihat tempat pengungsian yang disediakan. ”Kalau anak-anak mau diajak ngungsi, kami secepatnya menuju balai desa,” jelasnya.



Ketinggian air itu membuat warga sulit datang ke balai desa untuk mengambil obat dan sembako. Sebagai solusi, warga mengoperasikan perahu miliknya. ”Saya mengantar warga ke balai desa untuk ambil obat-obatan dan sembako,” ujar Mukidin, pemilik perahu.



Terhitung sudah hampir tiga minggu, lima desa di Kecamatan Jabon terendam banjir. Total ada 2.600 kepala keluarga (KK ) yang menjadi korban bencana tahunan itu. Kelima desa terdampak adalah Desa Semambung, Tambak Kalisogo, Kedungpandan, Kupang, dan Kedungrejo.



Kepala Desa Semambung Zainuri menyebut ada 700 rumah yang terendam banjir di wilayahnya. Ketinggian air berkisar 70 sentimeter. Wilayah yang terparah berada di RW 4 dan RW 5. ”Ketinggian air mencapai 1 meter,” katanya ketika ditemui di posko penanganan banjir di Desa Kupang kemarin.



Selain rumah, genangan air tersebut kembali menerjang areal pertanian. Sekitar 130 hektare sawah terendam. Para petani jelas dirugikan. ”Kami berusaha mengurangi air dengan menggunakan pompa air,” tuturnya.



Sekretaris Desa Kupang Isman mengungkapkan, 600 rumah terendam banjir. Petugas desa meminta warga segera mengungsi ke balai desa. ”Saat ini kami data warga yang mau mengungsi,” ungkapnya.



Menurut dia, areal persawahan di Kupang juga tergenang banjir. Luasnya mencapai 241 hektare. Kemarin warga mendatangi kantor desa. Mereka menuntut pemkab untuk mengganti rugi. ”Warga meminta pemkab memberikan sumbangan bibit serta modal untuk menggarap sawah,” terangnya.



Selain itu, proses belajar-mengajar anak-anak sekolah mandek sementara. Siswa SDN Kupang terpaksa diliburkan. Isman memaparkan, desa meminta sekolah meliburkan para murid. Sebab, air sudah masuk ke ruang kelas.



Sementara itu, Kabid Operasional Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pemkab Sidoarjo Agus Hidayat menjelaskan, selain hujan deras, banjir itu disebabkan limpahan air dari Desa Kedungboto, Pasuruan. Penahan air di desa tersebut jebol. Alhasil, luberan air menggenangi wilayah Jabon. ”Air lari ke Kedungpandan, Semambung, dan Kupang,” jelasnya.



Dia menegaskan, pihaknya meminta petugas menanggul bocoran tersebut. Kemarin tim Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS) meninjau lokasi banjir Jabon untuk melihat penyebab banjir.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore