
KEKAYAAN BUDAYA: Pentas wayang potehi di Konsulat Jenderal Amerika di Surabaya kemarin. Pertunjukan itu digelar dalam rangka Tahun Baru Imlek.
JawaPos.com – Memperingati Tahun Baru Imlek 2568, Konsulat Jenderal (Konjen) Amerika Serikat di Surabaya mengadakan pergelaran wayang potehi dengan kolaborasi pertunjukan di dua panggung berbeda. Yakni, dari Pusat Kebudayaan AS di @america Pacific Place, Jakarta, dan kantor Konjen AS di Surabaya, Rabu (1/2).
Dua panggung itu tersambung melalui live streaming video. Toni Harsono, budayawan asal Gudo, Jombang, adalah dalang utama yang memainkan lakon di Jakarta. Sementara itu, latar, musik, dan peralatan panggung dimainkan dari Surabaya.
Sebelum pertunjukan digelar, diadakan diskusi seputar sejarah wayang potehi oleh penulis buku Sejarah Wayang Potehi Adrian Purwoseputro dan Toni Harsono sebagai narasumber utama. Di jajaran kehormatan, hadir Bupati Jombang Nyono Suharli bersama pejabat teras serta tokoh-tokoh Tionghoa di Jatim. Di Jakarta, audiens didominasi pelajar dan mahasiswa. Penonton di dua tempat yang berjauhan tersebut bisa saling menyapa lewat live video.
Lakon yang dimainkan adalah Kwan Kong Kwe Ngo Kwan. Ceritanya tentang panglima perang dari zaman tiga kerajaan, Kwan Kong, yang berniat menuju Kota Ho Pak. Di perjalanan dan kota-kota yang disinggahi, Kwan Kong dihadang banyak musuh. Namun, dia berhasil menumpas mereka semua dan melanjutkan perjalanan. Arti judul lakon itu adalah Kwan Kong Memukul 5 Kota.
Pertunjukan berlangsung selama sekitar 25 menit. Toni Harsono memainkan lakon. Beberapa adegan dilakukan Purwanto, dalang yang duduk di belakang panggung di Surabaya.
Konsul Jenderal AS di Surabaya Heather Variava menyatakan bahwa keanekaragaman budaya merupakan kekayaan tidak bernilai yang dimiliki dua negara. Baik Indonesia maupun AS. ’’Kami ingin menunjukkan bahwa keberagaman adalah hal yang dijunjung tinggi oleh kami,’’ jelasnya.
Heather menegaskan, AS merupakan negara yang menjunjung tinggi keberagaman sebagaimana Indonesia. Apalagi, AS juga merupakan negara dengan banyak etnis. ’’Beberapa pecinan (China town) besar juga tersebar di seluruh Amerika,’’ katanya.
Pergelaran yang diadakan Konjen AS tersebut, kata Heather, adalah salah satu bentuk upaya AS untuk mempromosikan kebudayaan khas Indonesia. ’’Sangat senang melihat semua orang menyatu dan duduk bersama,’’ ungkapnya.
Dari diskusi yang dilakukan, muncul banyak ide untuk semakin menguatkan wayang potehi. Beberapa tokoh menawarkan untuk membuat buku tentang wayang potehi dan menggiatkan pentas di berbagai tempat. Hal itu terjadi setelah Freddy Istanto, penggiat sejarah dari Surabaya, mengkritik bahwa wayang potehi justru semakin tidak diminati orang-orang Tionghoa sendiri. Toni dan beberapa seniman di Jombang memang bukan orang Tionghoa. ’’Harusnya yang menggairahkan wayang potehi adalah pewarisnya sendiri, yakni orang Tionghoa,’’ tutur Freddy yang diamini Toni. (tau/c15/dos/sep/JPG)
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
