
Tentang Prof Joni Hermana
PERJALANAN menjadi guru besar merupakan ingatan yang paling emosional bagi Prof Joni Hermana. Awalnya, dia tidak pernah terpikir bisa menjadi profesor. Sejak kecil, cita-cita terbesarnya adalah menjadi doktor. Impian sejak kecilnya itu pun tercapai pada 1997. Joni meraih gelar doktor teknik lingkungan dari University of Newcastle, UK. Setelah itu, dia kembali ke ITS untuk mengabdikan diri.
Pikiran tersebut berubah saat dia mudik Lebaran ke Bandung pada 2005. Kala itu sang ibu sakit keras. Sesampai di Surabaya, dia terus memikirkan kondisi ibunya. Sampai terlintas di pikirannya untuk membahagiakan perempuan yang telah melahirkannya tersebut.
Satu tahun sebelumnya, sang ibu pernah bertanya tentang waktu wisuda Joni. Anak ke-8 di antara 11 bersaudara itu lantas bingung. Sebab, gelar pendidikan tertinggi sudah diraihnya. Rupanya, yang dimaksud sang ibu adalah menjadi profesor.
Keinginan untuk membahagiakan orang tua memacu semangatnya untuk mengurus gelar guru besar. Prosesnya cukup lama. Dibutuhkan dua tahun sampai surat keputusan (SK) profesor turun. Sayangnya, sebelum hal tersebut terwujud, sang ibu wafat. Untuk melegakan kesedihannya, Joni minta dikukuhkan pada 27 Januari 2008. Tepat satu hari sebelum ulang tahun ibunya. ’’Meski beliau tidak bisa melihat saya dikukuhkan, setidaknya saya sudah berusaha memenuhi keinginannya,’’ ujar Joni.
Lama berselang, Joni terus mengabdikan diri kepada ITS. Hingga 2011, jabatannya sebagai dekan fakultas teknik sipil dan perencanaan (FTSP) berakhir. Joni berniat mundur dari manajemen kampus dan menjadi dosen biasa. Namun, tampaknya takdir berkata lain. Pada pemilihan rektor 2015, banyak yang merekomendasikannya menjadi pimpinan tertinggi ITS. Awalnya, tawaran itu dia tolak. Tetapi, desakan dari orang-orang di sekitarnya makin kuat. Akhirnya, Joni menyerah. Dia mendaftar sebagai rektor. ’’Saya pikir belum tentu terpilih. Yang penting, saya sudah memenuhi keinginan teman-teman yang merekomendasikan,’’ ungkapnya.
Selama babak penyisihan, namanya terus menonjol. Dukungan pun makin deras mengalir. Bukan hanya dari para dosen dan petinggi ITS, tetapi juga dari para mahasiswa. Akhirnya, pada April 2015 Joni ditetapkan sebagai rektor ITS. ’’Ini amanah dari teman-teman,’’ tuturnya.
Karena sudah terpilih, Joni berupaya bekerja maksimal. Dia ingin, setelah masa jabatannya berakhir, ITS mampu menjadi kampus andalan di Indonesia. Saat ini Joni juga mempersiapkan kandidat yang bisa menjadi penerusnya. ’’Khususnya yang muda-muda, diharapkan bisa membuat inovasi dan terobosan-terobosan untuk kemajuan kampus,’’ tandasnya. (ant/c14/jan/sep/JPG)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
