
ILUSTRASI
JawaPos.com - Kegiatan belajar-mengajar di Taman Kanak-Kanak (TK) PKK Kedungputri III, Paron, berubah mencekam. Tidak ada hujan maupun angin, bangunan TK tersebut tiba-tiba runtuh serta menimpa guru dan murid kemarin pukul 09.20.
Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ngawi, peristiwa itu terjadi saat salah seorang guru, Nurdiyanti, mengajar murid TK B. Awalnya, Nur merasakan getaran dari atap ruang kelas, lalu diikuti plafon yang melengkung.
Perempuan 46 tahun itu lantas meminta 17 muridnya untuk berlindung di bawah meja. Berselang 10 detik kemudian, plafon beserta atap ambrol dan menimpa dirinya. Reruntuhan atap pun mengubur murid-muridnya. "Allahu Akbar, metu, Le, metu (Allahu Akbar, keluar, Nak, keluar, Red)," kata Nur di RSUD dr Soeroto, menceritakan saat dirinya meminta anak didiknya keluar dari reruntuhan.
Suasana, tambah Nur, semakin kacau karena murid-murid menangis histeris. Mereka kesakitan karena terkena reruntuhan bangunan sekaligus takut. Nur berusaha menenangkan mereka sambil menahan beton kuda-kuda ruang kelas agar tidak menimpa anak-anak itu. Dia lantas meminta seluruh murid keluar. Nur mengatakan bahwa kejadian tersebut berlangsung begitu cepat.
"Ada dua anak yang minta tolong, tapi saya sudah tidak kuat menahan reruntuhan," katanya.
Nur memastikan bahwa tidak ada hujan maupun angin saat bangunan buatan 2008 itu roboh. Setelah atap ambrol, dinding bagian timur ikut ambruk dan rata dengan tanah. "Yang terpenting, anak-anak (murid, Red) selamat," jelas Nur, yang masih terlihat shock setelah insiden itu.
Sri Retnowati, guru lain, menambahkan, saat kejadian dirinya hendak membersihkan teras depan. Insiden tersebut terjadi 10 menit sebelum waktu pulang sekolah.
Namun, sebelum membersihkan teras, Sri melihat tanda-tanda plafon akan ambrol. Dia langsung berlari untuk mencari perlindungan sembari mengajak muridnya. "Saya lihat plafon bengkah seperti mau runtuh dan ternyata runtuh beneran," bebernya.
Total, menurut Sri, ada 38 murid di ruang tersebut. Sebanyak 18 anak merupakan murid TK B. Tapi, satu anak sakit sehingga tidak masuk. Sebanyak 20 anak sisanya merupakan murid pendidikan anak usia dini (PAUD) yang sudah pulang 20 menit sebelum insiden itu. Empat guru, yakni Nur, Sri, Nurgianti, dan Umi Wiyanti, berada di ruangan tersebut saat insiden itu terjadi. "Selama ini kelasnya kami sekat untuk TK dan PAUD," tambahnya.
Sebanyak sebelas murid dilarikan ke puskemas. Mereka adalah Anggun, Zaky, Pambayun, Adelia Eka Purwanti, Nurin Ratika Zaidah, Iqbal Saputra, Zahra, Citra, Satria, Abit, dan Zaila. Empat murid lain dirujuk ke RSUD dr Soeroto lantaran terluka parah. Termasuk dua guru, yakni Sri dan Nur. Enam murid lain langsung dipulangkan karena hanya mengalami luka ringan.
"Semuanya langsung dibawa ke puskesmas," beber Sukatni. Ambruknya bangunan itu membuat Bupati Ngawi Budi "Kanang" Sulistyono langsung melakukan inspeksi mendadak bersama sejumlah pejabat. (ian/pra/c11/diq)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
