
MANUAL: Para pekerja menggotong karung-karung berisi reruntuhan tembok karena alat berat tak bisa masuk.
JawaPos.com – Brandgang seharusnya digunakan untuk jalan inspeksi saluran air dan jalur evakuasi saat terjadi kebakaran atau musibah lain. Namun, saat ini, banyak bangunan yang menutupi brandgang. Karena itu, jangan heran bila banjir masih sering menggenangi Surabaya.
Terdapat 1.061 brandgang di seluruh Surabaya. Ada yang berupa lorong, ada pula saluran. Sampai saat ini, masih sekitar 10 persen yang dikembalikan fungsinya. ”Yang diprioritaskan itu saluran,” ujar Kepala Satpol PP Surabaya Irvan Widyanto. Rabu (1/2), satpol PP bersama petugas pematusan dan linmas membongkar brandgang sepanjang 300 meter di Jalan Klabat, Petemon. Ada lima brandgang selebar 3 meter yang harus dibebaskan. Bila ditotal, terdapat 1,5 kilometerbrandgang yang selama ini buntu. Warga memanfaatkannya sebagai dapur atau tempat menjemur pakaian. ”Yang mendirikan bangunan langsung kami bongkar,” kata Irvan yang berada di lokasi pembongkaran.
Petugas sempat sulit melakukan pembongkaran. Sebab, alat berat tak bisa masuk. Tembok dan beton fondasi harus dihancurkan secara manual dengan godam. Reruntuhan tembok dimasukkan ke karung, lalu digotong ke ujung brandgang. Karena panjang brandgangmencapai 300 meter, pemindahan reruntuhan dinding tersebut berlangsung lama.
Irvan menerangkan, pendirian bangunan di atas brandgang melanggar Perda 2/2014 tentang Ketertiban Umum dan Perda 7/2009 tentang Bangunan. Sebelum tembok dibongkar, warga diberi surat pemberitahuan. Namun, tetap saja ada satu persil yang meminta penundaan pembongkaran. Sebab, pemilik khawatir rumahnya ikut ambruk. Karena itu, petugas memberinya waktu hingga 5 Februari untuk membuat pagar atau tembok pembatas.
Setelah pembersihan, terlihat saluran air dengan lebar 1 meter. Karena bangunanmenutupibrandgang, otomatis saluran tersebut tak dibersihkan sejak zaman Belanda.
Kepala Pematusan Rayon Genteng Agung Wibisono menuturkan, saluran bakal dilebarkan hingga 3 meter. Nanti dibuat saluran dengan plengsengan batu kali. ”Kalau pakai box culvert (beton gorong-gorong, Red) sulit. Alat berat harus masuk,” ucapnya. Setelah dibikin saluran, akan dibuat pintu air di Kali Greges. Dengan begitu, saat sungai meluap, air tidak menggenangi rumah warga.
Brandgang yang dikerjakan awal Februari itu tergolong paling mudah jika dibandingkan dengan empat brandgang lain. Bangunan yang menutupi tidak terlalu banyak. Karena itu, petugas mengerjakannya lebih dulu. ”Brandgang yang lain lebih rempet,” imbuh Agung.
Edi Sutopo, warga Jalan Klabat, menyebutkan bahwa normalisasi saluran brandgang sudah ditunggu-tunggu warga. Sebab, selama ini, banjir yang menggenang sulit surut. Sekali hujan deras, perkampungan bisa terendam hingga 50 sentimeter. Genangan sulit surut karena saluran air tidak tersambung dengan Kali Greges. ”Air kiriman dari Jalan Kinibalu tidak tersalurkan,” terang pria 44 tahun tersebut. (sal/c18/oni/sep/JPG)

Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Skor DPMM FC vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026: Misi Dalberto Tebar Pesona di Klub Baru!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
An Se Young Mundur dari China Open 2026 karena Cedera, Fokus Pulihkan Kondisi Jelang Kejuaraan Dunia
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
