Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Februari 2017 | 06.41 WIB

Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Prof Joni Hermana, Berjodoh dengan Teknik Lingkungan

PAKAR TEKNIK LINGKUNGAN: Prof Joni di depan kantor Rektorat ITS - Image

PAKAR TEKNIK LINGKUNGAN: Prof Joni di depan kantor Rektorat ITS

Jalan hidup Prof Joni Hermana, rupanya, sudah digariskan Tuhan agar tidak jauh-jauh dari teknik lingkungan. Berkali-kali ingin pindah konsentrasi, dia tetap kembali pada bidang ilmu yang sama. Akhirnya, jurusan itu membawa keberkahan tersendiri bagi hidupnya.



SEJAK diterima menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1980, Joni terus mengincar jurusan teknik sipil. Dia berharap bisa mengikuti jejak idolanya. Yakni, Presiden pertama Indonesia Ir Soekarno.


Menjelang tahun kedua di perguruan tinggi teknik pertama tersebut, dia iseng melewati gedung jurusan teknik lingkungan. Kala itu namanya masih teknik penyehatan. Bidang yang dipelajari lebih banyak berkaitan dengan limbah air. Kebetulan, saat itu ada open house. Seluruh karya dan penelitian mahasiswa ditampilkan. Karena penasaran, Joni pun melihat isi pameran. ’’Dari situ saya langsung berubah haluan. Saya tidak jadi masuk teknik sipil dan memilih teknik lingkungan,’’ ungkap pria kelahiran Bandung, 18 Juni 1960, tersebut.


Keputusan itu bukan tanpa dasar. Saat melihat karya yang ditampilkan dalam open house, Joni beranggapan bahwa ilmu yang dipelajari dalam teknik lingkungan adalah ilmu masa depan. Sampai kapan pun, manusia akan terus menghasilkan sampah dan limbah. Karena itu, harus ada yang mau mengolah limbah tersebut agar tidak terus menumpuk dan menimbulkan penyakit.


Joni telah menetapkan pilihan dengan mantap. Namun, pertentangan dari orang-orang terdekat terus berdatangan. Mereka beranggapan bahwa Joni mengambil pilihan yang salah. ’’Buat apa jadi insinyur got,’’ ujarnya menirukan ucapan saudara-saudaranya kala itu. Meski demikian, Joni tidak goyah. Dia tetap yakin terhadap pilihannya. Suatu saat, ilmunya bermanfaat bagi banyak orang.


Enam tahun kemudian, Joni menyelesaikan pendidikan di ITB. Setahun berikutnya, dia menjadi dosen di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Dari situ dia berkesempatan mengikuti pelatihan tentang pengolahan air limbah di Belgia selama satu tahun.


Pada 1989, Joni kembali ke Belgia untuk melanjutkan program magister. Dia mendapatkan beasiswa pada bidang studi Sanitasi Lingkungan University of Ghent, Belgia. Dua tahun berselang, dia pulang ke Indonesia dan melanjutkan tugas sebagai dosen di ITS. Setahun Joni mengajar, tebersit keinginan untuk melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar doktor. Akhirnya, melalui beasiswa Asian Development Bank (ADB), dia menempuh S-3 di University of Newcastle, UK.


Pada waktu menempuh S-3, sebenarnya Joni ingin mengambil konsentrasi tentang pencemaran limbah laut. Sebab, ketika itu ITS sedang berfokus terhadap dunia kemaritiman. Tetapi, untuk mengambil konsentrasi tersebut, Joni harus menambah kuliah setahun untuk penyesuaian. Padahal, beasiswanya hanya tiga tahun. Dia pun kembali melanjutkan program teknik lingkungan sehingga tidak perlu menambah setahun untuk penyesuaian.


Kontribusi orisinalnya berkaitan dengan percepatan pengolahan air limbah secara anaerobik. Selama ini pengolahan limbah menggunakan bakteri anaerob karena tidak melibatkan oksigen. Namun, dengan manipulasi yang diciptakan suami Devi Prasasti itu, proses bisa lebih cepat. Asalkan, bakteri di dalamnya bekerja maksimal. Caranya, menyesuaikan kondisi sesuai dengan keinginan bakteri. ’’Teknik lingkungan itu begitu. Bakteri saja diperhatikan, apalagi manusia. Hehehe,’’ katanya.


Mendalami ilmu teknik lingkungan membawa berkah tersendiri bagi Joni. Dia bisa membantu masyarakat menyelesaikan masalah lingkungan. Khususnya di Surabaya. Pria 56 tahun itu membuat model instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Genteng dan Keputih. Bahkan sudah dikembangkan dan digunakan di 60 daerah lainnya di Surabaya.


Dalam event Surabaya Green and Clean (SGC), Joni juga didapuk sebagai narasumber untuk pengolahan limbah. Dia membantu masyarakat membuat instalasi pengolahan limbah sederhana. Air bekas cucian diolah lagi agar bisa dimanfaatkan. Misalnya, untuk menyiram tanaman. ’’Kalau untuk mandi, saya tidak menyarankan,’’ tegas bapak empat anak tersebut.


Usut punya usut, Joni sempat dibuat kaget ketika menjadi narasumber dalam event SGC. Ceritanya, ada ibu-ibu yang mendatanginya sambil membawa flash disk. Mereka adalah kader lingkungan yang minta dikopikan materi presentasi berisi rancangan sistem pengolahan limbah. ’’Ibu-ibu bawa flash disk saja saya kaget, apalagi waktu meninjau ke lokasi. Rupanya, mereka antusias sekali, bahkan bisa mengembangkan rancangan saya menggunakan hukum fisika,’’ paparnya, lalu terkekeh.


Dari situ Joni banyak belajar dari masyarakat. Ke depan, dia juga ingin terus mengembangkan ilmunya. Diharapkan, setelah tidak lagi menjadi rektor, dia bisa banyak berkontribusi untuk lingkungan. Meski harus belajar lagi, Joni tidak berkeberatan. Sebab, yang dikerjakan sesuai dengan keinginannya.



Dia juga berharap suasana kerja di ITS sampai saat ini bisa terus dilanjutkan. Sebelum Joni menjadi rektor, peringkat ITS dalam penilaian kampus hijau masih ratusan di dunia. Sekarang ITS sudah menempati urutan ke-43. Capaian itu tidak lepas dari peran seluruh warga ITS yang berbondong-bondong membantu mewujudkan ecocampus. ’’Yang seperti ini harus terus dilanjutkan. Masak kalah sama ibu-ibu di kampung Surabaya,’’ tuturnya, lantas tersenyum. (ant/c14/jan/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore