
Ilustrasi
Wacana pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Palangka Raya kembali mengemuka. Adalah Presiden Joko Widodo yang meminta Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro kembali mengkaji wacana yang sudah digagas sejak era Presiden Soekarno itu.
Ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah tersebut dipilih sebagai pengganti Jakarta memang bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah alasan pemerataan. Bahwa Indonesia bukan hanya Pulau Jawa, bukan hanya Jakarta.
Sudah menjadi hal yang lumrah, banyak orang yang menganggap Jakarta adalah segalanya. Sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian, yang terjadi di Jakarta menjadi barometer Indonesia. Tak heran bila pemilihan gubernur DKI Jakarta begitu menyita perhatian dan menjadi ajang perebutan banyak kepentingan. Karena itu, kembali munculnya wacana pemindahan ibu kota negara cukup melegakan.
Pertimbangan lain, Jakarta saat ini sudah tak nyaman sebagai ibu kota negara. Penghuni sudah sesak, jalanan macet parah, dan kriminalitas merajalela. Dari sisi lingkungan, permukaan tanah juga terus menurun lantaran pembangunan dan eksploitasi berlebihan.
Selain itu, kota di Kalimantan dipilih sekaligus untuk mencegah konsentrasi pembangunan yang selama ini terkesan hanya di Jawa. Nanti Jakarta hanya menjadi pusat ekonomi dan bisnis. Sedangkan pusat pemerintahan bergeser ke Palangka Raya.
Pemisahan pusat pemerintahan dengan pusat ekonomi dan bisnis sebenarnya bukan barang baru. Sudah banyak negara lain yang melakukannya. Sebut saja Malaysia, Amerika Serikat, Australia, atau Jerman. Masing-masing punya pusat pemerintahan dan pusat bisnis. Tak ada problem dengan pemisahan itu. Yang terjadi malah tiap-tiap kota bisa tumbuh maksimal dan menjadi stimulus bagi wilayah-wilayah di sekitarnya.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), per 2013 Kota Palangka Raya dihuni 244.500 jiwa. Bandingkan dengan Jakarta yang sudah disesaki lebih dari 10 juta jiwa. Lebih dari 68 persen penduduk Palangka Raya juga tergolong usia produktif, yakni di atas 15 tahun.
Sebagian besar dari penduduk yang berusia 15 tahun tersebut bekerja di sektor perdagangan. Bukan hanya itu, Palangka Raya juga merupakan kota dengan peristiwa bencana atau musibah terkecil dibanding kabupaten/kota lain.
Memang pemilihan Palangka Raya belum final. Setidaknya diperlukan kajian mendalam untuk memilih Palangka Raya atau kota lain di luar Jawa sebagai ibu kota baru. Pemindahannya pun tak cukup sekejap. Butuh waktu panjang, bahkan kabarnya bisa sampai sepuluh tahun.
Tapi, paling tidak, semangat untuk memindahkan ibu kota negara kembali mencuat. Dengan begitu, mindset bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta atau Jawa mulai terkikis habis. (*)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
