Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Februari 2017 | 03.15 WIB

Cerita Sedih SBY Soal Penyadapan

Mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono - Image

Mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono

JawaPos.com - Ketua Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengisahkan pengalamannya, bahwa ada temannya tidak berani mengangkat telpon darinya.


Hal itu dikarenakan, temannya tersebut takut kalau percakapan telpon dengan mantan Presiden Indonesia  disadap.


"Karena diingatkan lingkar kekuasaan teleponnya disadap, sehingga saya bicara pakai utusan," ujar SBY di DPP Partai Demokrat, Jakarta, Rabu (1/2).


Sementara SBY juga mengaku pernah diingatkan oleh seseorang, pada awal September 2016 lalu, saat melakukan kunjungan ke Jawa Tengah dan Jawa Barat. Jika seseorang mantan presiden dan ketua umum partai semua ponselnya telah disadap.


Namun SBY mengaku tidak percaya telponnya telah disadap, karena dirinya selalu mendapatkan pengawalan ketat dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspamres). Sehingga tidak mungkin akan disadap.


"Tapi saya masih belum yakin, apa iya telepon saya disadap," katanya.


Menurut pria kelahiran Pacitan ini, apabila benar telponnya telah disadap dirinya mengaku kecewa. Pasalnya seorang mantan kepala negara dengan mudahnya disadap oleh orang lain. Padahal selalu mendapatkan pengawalan dari Paspamres.


Karenanya, dia menduga kalau dirinya dengan mudah disadap, apalagi politikus lain dan juga masyarakat biasa. Hal itulah yang membuat dirinya kecewa.


"Nah kalau itu terjadi negara kita seperti rimba raya, hukumnya hukum rimba. artinya yang kuat menang dan lemah kalau. Padahal yang betul itu yang benar menang yang salah kalah," katanya.


Sementara, adanya dugaan penyadapan dirinya dengan Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin, yang terungkap pada saat persidangan kasus dugaan penistaan agama. SBY meminta aparat penegak hukum bertindak. Karena penyadapan tersebut bersifat ilegal dan melanggar Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), yang acamannya bisa 10 tahun penjara.


"Hukum musti ditegakkan kalau institusi negara misal Polri atau BIN, menurut saya negara bertanggung jawab," katanya.


"Saya juga memohon Pak Jokowi Presiden kita memberi penjelasan, dari mana transkrip didapat, siapa yang menyadap," pungkasnya.


Sekadar informasi, Ahok sudah memberikan klarifikasi terkait adanya percakapan lewat telpon antara SBY dengan Ma'ruf Amin. Menurut Ahok dirinya bersama dengan kuasa hukumnya tidak pernah melakukan penyadapan terhadap SBY.


Menurut Ahok, informasi percakapan antara SBY dengan Ma'ruf Amin ia dapat dari situs media online tertanggal 7 Oktober 2016.(cr2/JPG)

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore