
PENGGERAK EKONOMI: Anik (kiri) dan Siti Ulumiah melakukan pengasapan ikan bader di Desa Premisan, Jabon, Selasa (31/1). Desa tersebut mempunyai potensi ikan asap. Selain bader, ada juga bandeng dan mujair.
Posisi Desa Permisan, Kecamatan Jabon, yang dekat dengan Kali Porong terkenal sebagai daerah tambak. Namun, mereka tidak mengandalkan hasil ikan mentah, tapi meningkatkan nilai tambah dengan pengasapan.
BISNIS pengasapan ikan tidak hanya menjadi cara penduduk Desa Permisan untuk mencari nafkah. Kegiatan itu merupakan budaya yang mendarah daging sejak tiga dekade silam. Kini tersisa enam keluarga yang meneruskan. Mereka memilih setia tidak hanya mencari rupiah, tapi juga mempertahankan kearifan lokal yang dipegang keluarga sejak generasi sebelumnya.
Salah satu pengolah ikan asap yang dapurnya masih mengepul dengan asap tebal adalah pasangan suami istri (pasutri) Nur Khasanah dan Supaat. Mudah saja menemukan rumah pasutri tersebut. Tinggal dicari rumah yang menjemur batok kelapa secara berjajar. Batok kelapa itu menjadi bahan bakar untuk pengasapan ikan. Rumah bercat biru di RT 6, RW 2, tersebut ditandai dengan asap mengepul tebal di bagian belakang. Tanda pengasapan tengah berlangsung saat Jawa Pos berkunjung pukul 11.00, Selasa (31/1).
Khasanah dan Supaat menjalankan usaha pengasapan ikan itu sejak 9 tahun lalu. Kedekatan Supaat dengan para petambak dan nelayan di pelelangan ikan membuatnya tidak sulit mendapat pasokan ikan bader. Ikan bader dipilih karena permintaan dari wilayah Mojokerjo cukup besar. Apalagi, cita rasa khas ikan bader gurih dan berprotein tinggi. Langganan mereka terjaga sejak 1980.
Khasanah menuturkan bahwa tujuan penjualannya masih sebatas Kecamatan Mojosari, Mojokerto. Meski demikian, mereka mengaku kewalahan untuk menyuplai. ”Tiap hari rata-rata minta 1 kuintal. Minimal 60 kilogram,” ungkap Supaat.
Supaat menjalankan usaha tersebut dengan dibantu enam karyawan, dua pengasap dan empat orang bagian membersihkan ikan. Dalam sehari, omzet mereka mencapai Rp 3,7 juta. ”Yang bikin susah itu bukan karena kurangnya tenaga. Melainkan kalau kemarau, ikan susah didapat,” jelas Khasanah.
Melihat peluang itu, Kepala Seksi Perekonomian Kecamatan Jabon Juwariyah berupaya merealisasikan pembangunan pelelangan ikan untuk wilayah Kecamatan Jabon yang dipusatkan di Wisata Bahari Tlocor. Dia berharap masyarakat bisa menggantungkan hidup di wilayah sendiri tanpa harus membeli atau menjual ikan ke daerah lain. ”Kalau ada tempat pelelangan ikan (TPI, Red), nelayan dan pemilik usaha seperti ikan asap pasti bisa memangkas dana mobilitas ke dermaga kota,” ujarnya yang turut serta menilik UMKM pengasapan ikan di Desa Permisan. (via/c16/dio/sep/JPG)

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
