
Ilustrasi
KETIDAKPASTIAN prospek pemulihan ekonomi global saat ini dibebani masalah baru. Sebuah problem yang bahkan dua tahun lalu sekalipun belum banyak analis yang memprediksi. Batu sandungan itu adalah benteng proteksionisme yang kini tengah dibangun tinggi-tinggi oleh dua kekuatan ekonomi global: Inggris dan Amerika Serikat (AS).
Inggris telah memulai lebih dulu dengan hasil mengejutkan dari referendum yang mengharuskan Negeri Ratu Elizabeth II itu hengkang dari Uni Eropa. Titah suara rakyat Inggris Raya harus membuat negeri tersebut keluar dari pasar tunggal Uni Eropa, sebuah blok perdagangan paling raksasa di muka bumi. London, yang dikenal sebagai ibu kota institusi keuangan global, ironisnya, kini menjadi tempat proteksionisme ditabalkan.
Benteng berikutnya dibangun di Washington, tempat dua lembaga promotor pasar bebas, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, bermukim. Sebuah ironi yang tak kalah tragis. Presiden AS Donald Trump menjadi pemimpin yang berada di garis depan pembela proteksionisme.
Proteksionisme memang bukan suatu dosa. Sebagaimana pasar bebas juga bukan hal mulia. Setiap negara memang berwenang memayungi kepentingan industri dalam negerinya. Juga berhak melindungi pasar domestiknya.
Namun, apabila negara besar seperti Inggris dan AS membangun benteng proteksionisme, itu hanya akan memicu perang dagang. Imbasnya bisa ditebak. Kelancaran arus barang secara global menjadi tersendat. Pemulihan ekonomi dunia kian jauh panggang dari api.
Terlebih, kita sudah hidup di era rantai pasok global yang menggurita. iPhone yang didesain di Cupertino, AS, dibangun di pabrik Tiongkok dengan bahan baku mulai Asia Tenggara hingga Jepang. Memaksakan diri memproduksi iPhone di AS justru melawan keefisienan rantai pasok global yang selama ini telah terbangun.
Lagi pula, perang tarif tidak hanya merugikan pebisnis. Border tax atau bea masuk pada dasarnya akan menjadi beban konsumen dengan harga yang berangsur melonjak.
Globalisasi, juga pasar bebas, memang bukanlah sistem sempurna. Tak sedikit yang kehilangan pekerjaan (atau kesempatan bekerja) karena pasar bebas. Namun, seperti ditulis John Micklethwait dan Adrian Wooldridge, dua jurnalis The Economist dalam buku A Future Perfect, dibandingkan yang kalah, pasar bebas terbukti telah melahirkan lebih banyak pemenang. (*)

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
