
CARI SPONSOR: Adi menunjukkan papan permainan Mystique yang telah dipresentasikan pada seminar internasional.
Belajar bahasa Inggris bisa menggunakan berbagai metode. Salah satunya dengan media buatan Adi Sasongko Romadhon ini. Mahasiswa Unesa angkatan 2012 tersebut menciptakan game unik yang dia namai Mystique.
DRIAN BINTANG SURYANTO, Surabaya
MIRIP permainan monopoli yang dikombinasikan dengan catur. Itulah gambaran paling mudah dari Mystique. Sama-sama menggunakan papan dan pion. Bedanya, jumlah pion hanya lima. Ada yang berbentuk segi empat, segi delapan, dan segi lima. Ada pula dadu yang terbuat dari kayu. Semua didesain sendiri oleh Adi. ”Ini kalau tukang kayunya bukan saudara sendiri gak akan bisa bikin,” kata Adi, lantas tertawa.
Para pemain mendapat lima kartu. Kartu-kartu tersebut bertulisan cerita berbahasa Inggris. Isinya tentang legenda-legenda negeri ini. Misalnya, Malin Kundang, Keong Mas, dan Danau Toba. Seperti di permainan monopoli, kartu-kartu tersebut menandakan kepemilikan atau aset milik pemain. ”Meski mirip monopoli, cara kerjanya beda,” jelas mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris itu.
Adi kemudian menjelaskan cara bermain Mystique. Dengan cekatan, pria 23 tahun tersebut membeber papan permainan yang terlipat di atas meja. Dia menaruh semua pion ke tempat yang disediakan. Setiap pemain diberi kesempatan memilih di pihak mana mereka memulai. Ada empat pilihan kubu. Yakni, time, space, death, dan life. Kubu time diwakili warna hijau, space warna kuning, death merah, dan life berwarna biru. Setiap pemain mendapat lima pion yang masing-masing memiliki bentuk dan fungsi berbeda. Ada yang bergerak vertikal, horizontal, diagonal, dan semua arah. Mirip gerakan pion catur. Gerakan pion-pion tersebut ditentukan oleh hasil lemparan dadu.
Kartu yang dipegang pemain menandakan wilayah yang mereka kuasai. Jika ingin memenangi pertandingan, pemain lain harus melengkapi koleksi kartunya dengan cara ”merampas” dari pemain lain. Pemain yang mengumpulkan kartu secara lengkap adalah pemenangnya. Rencananya permainan tersebut diperkenalkan kepada sekolah-sekolah. Harapannya, pembelajaran bahasa Inggris bisa menggunakan permainan Mystique. ”Karena itu, permainan ini dibatasi berakhir sekitar 30 menit, menyesuaikan dengan jam pelajaran sekolah,” terangnya.
Adi sudah mengikuti dua seminar untuk memperkenalkan karyanya itu ke publik. Salah satunya malah seminar bertaraf internasional. Seminar bertajuk Teaching English as Foreign Language in Indonesia itu berlangsung pada September 2016 di Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya. Seminar tersebut dihadiri perwakilan guru dan dosen bahasa Inggris dari beberapa negara di Asia. ”Ada juga sih yang dari Australia dan Amerika,” ujar Adi.
Dia merasa bangga bisa hadir dalam acara tersebut. Apalagi, tiket masuknya cukup mahal bagi Adi, Rp 1,3 juta per orang. Adi beruntung bisa mendapat bantuan biaya dari kampusnya. Adi menjelaskan, tidak banyak guru yang datang dalam perhelatan tersebut. Kebanyakan hanya berasal dari beberapa sekolah swasta yang bonafide. ”Yang datang kebanyakan dosen,” ujar Adi. Rencananya seminar serupa diadakan di Jogjakarta pada pertengahan tahun ini. Adi berencana kembali mengikutinya. Kala ini dia punya target khusus. Yakni, mencari investor yang mau membiayai pengembangan Mystique.
Dari mana Adi mendapat ide menciptakan Mystique? Ternyata dia mendapatkan inspirasi dari beberapa game yang pernah dimainkannya. ”Terutama dari catur dan Yugioh(nama salah satu game online, Red),” ujarnya. Ide untuk membuat papan permainan itu sebenarnya muncul saat Adi masih kuliah semester VII. Waktu itu dia mengambil mata kuliah games and songs. Mata kuliah tersebut mengharuskan mahasiswa menciptakan inovasi baru untuk praktik mengajar. Adi pun membuat papan permainan Mystique. Karya tersebut mendapat apresiasi positif dari dosennya. Adi bahkan ditawari mempromosikan karyanya ke forum-forum internasional.
Adi sengaja memilih nama Mystique yang berarti mistis. Alasannya, temuannya menarik perhatian dan mudah diingat. ”Emang kalau di sini, apa pun yang berbau mistis itu selalu menggigit,” ujarnya, lantas tertawa. Dia juga sengaja menulis cerita-cerita legenda di kartu permainan itu. Sebab, Adi ingin melestarikan cerita-cerita rakyat agar tidak punah. ”Dosen pembimbing juga meminta agar permainan yang saya ciptakan harus mengandung unsur budaya daerah,” terangnya.
Dihubungi secara terpisah, Lies Amin Lestari, dosen pembimbing Adi, mengatakan bahwa mahasiswa-mahasiswa Unesa memang sering dikirim untuk mengikuti event berskala internasional. ”Ini memang sudah tradisi,” ujarnya ketika ditemui di rapat koordinasi Eastern Part of Indonesia (EPI) University Network di kampus C Unair pekan lalu. Dosen yang akrab disapa Mam Lies itulah yang meminta Adi menciptakan inovasi pembelajaran bahasa Inggris. Saat Adi masih semester VII, Lies pula yang mengajar mata kuliah games and songs.
Dia menyatakan, karya Adi akan dipatenkan. Prosesnya diurusi Lembaga Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unesa. Berkas perizinan sudah dikirim ke Ditjen HAKI. Dosen yang baru menjabat ketua LPPM Unesa itu mengaku tidak tahu kriteria Ditjen HAKI memberikan persetujuan atas hak paten. ”Tapi, karya Adi itu otentik milik dia,” jelas perempuan 50 tahun tersebut. (*/c10/oni)

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
