
Grafis Naga-Naga Di Persebaya
JawaPos.com- Goresan jejak sejarah para pemain sepak bola Tionghoa itu diawali dari terbentuknya POR Gymnastiek en Sportvereeniging Tionghoa Surabaya pada 1908. Itulah yang kemudian berubah nama menjadi Naga Kuning pada 1959. Namanya lantas menjadi Suryanaga pada 1966.
Perkumpulan olahraga yang didirikan warga Tionghoa tersebut awalnya hanya punya dua cabang. Yakni, senam dan anggar. Tetapi, mereka kemudian melirik cabang-cabang lain. Termasuk bal-balan.
Dalam buku Peringatan 100 Tahun POR Suryanaga tertulis bahwa bond (istilah saat itu untuk menyebut Persatuan Sepak Bola) Tionghoa Surabaya berdiri pada 1914. Pendirinya adalah Oei Kwie Liem. Dengan banyaknya anggota di awal berdirinya, Bond Tionghoa Surabaya sudah berlatih intensif di Lapangan Quick. Kini lapangan itu masuk areal Stasiun Pasar Turi.
R.N. Bayu Aji, penulis buku Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola, mengungkapkan bahwa saat itu banyak anggota bond tersebut yang enggak mengerti cara bermain bola yang benar. Yang penting main. Yang penting bola disepak-sepak sampai nyemplung ke gawang lawan. ’’Belum menguasai teknik permainan serta mutu pertandingan yang baik,’’ kata Bayu.
Problem pun datang silih berganti. Salah satunya, Lapangan Quick sudah diincar untuk dibangun sebagai stasiun kereta api. Walau begitu, semangat agar diakui badan sepak bola kala itu, Soerabajasche Voetbal Bond (SVB), sangat tinggi. ’’Kejuaraan antarklub Tionghoa diadakan untuk pengakuan itu. Biar Tionghoa Surabaya masuk dalam anggota SVB,’’ jelas pria yang kerap dipanggil Rojil tersebut.
Akhirnya, pada 1919 Tionghoa Surabaya diakui sebagai anggota oleh SVB. Mereka ikut berkompetisi di SVB. Kiprah mereka cukup diperhitungkan. Bahkan, dalam kurun tiga tahun setelah bergabung, Tionghoa Surabaya sudah berhasil menembus final dalam tiga kelas sekaligus. ’’Pendanaan, pengelolaan, serta infrastruktur yang baik membuat Tionghoa Surabaya jadi salah satu bond yang diperhitungkan di SVB,’’ ujar Rojil.
Akhirnya, prestasi Tionghoa Surabaya kian bersinar setelah pindah ke Lapangan Canalaan yang kini menjadi Taman Remaja Surabaya. Mereka ikut membentuk kepengurusan panitia yang mengadakan pertandingan sepak bola antar-bond milik masyarakat Tionghoa di Indonesia. Namanya Comitee Kampioenswedstrijden Tionghoa (CKTH). Setiap tahun kepengurusan itu menyelenggarakan pertandingan sepak bola.
Menurut Rojil, CKTH akhirnya berubah nama menjadi Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) pada 1929. Badan tersebut langsung mendatangkan tim kesebelasan tangguh dari Hongkong bernama Loh Hwa dan Nan Hua.
Walau masih terhitung muda, Bond Tionghoa Surabaya sudah punya keunggulan jika dibandingkan dengan bond lainnya. Yakni, pembinaan pemain muda. Penulis kelahiran 2 Mei 1985 itu menyatakan bahwa Tionghoa Surabaya sudah punya pembibitan pemain muda. Setiap bertanding, anak-anak muda diberi kesempatan untuk bermain. ’’Regenerasinya sangat baik, jadi tidak kehabisan stok pemain bagus,’’ jelasnya.
Puncaknya, pada 1938, memanfaatkan perselisihan antara NIVB (Perkumpulan Persepakbolaan Belanda) dan PSSI, pemain dari bond Tionghoa kecipratan keberuntungan untuk ikut dalam rombongan tim Dutch East Indies atau Hindia Belanda ke Piala Dunia di Prancis. Dua pemain Surabaya ikut dalam rombongan tersebut. Yaitu, Tan Hong Djien dan Tan Mo Hen. ’’Tim pertama Asia yang ikut Piala Dunia. Sayang, satu kali bertanding sudah pulang. Waktu lawan Hungaria, kalah 6-0,’’ ungkap alumnus Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga tersebut.
Setelah itu, berangsur-angsur pemain-pemain Tionghoa Surabaya menjadi bintang. Puncaknya, Tionghoa Surabaya berhasil merebut treble winners pada 1939. Bond itu berhasil menjadi juara SVB, HNVB, dan Java Club Kampioen. ’’Banyak pemain yang dilirik tim sepak bola saat itu, termasuk Persebaya,’’ terangnya.
Selanjutnya, beberapa pemain Tionghoa Surabaya ditarik ke Persebaya. Sebut saja Tee San Liong, Liem Tiong Hoo, Bhe Ing Hien, hingga Januar Pribadi. Bersama seluruh pemain, mereka membuat Persebaya menjadi tim yang disegani pada 1931–1973.
Tiga kali juara perserikatan direbut, yakni pada 1941, 1951, dan 1952. Untuk runner-up, Persebaya sudah empat kali. ’’PSSI sering manggil pemain-pemain Persebaya. Januar Pribadi, contohe, sudah memperkuat PSSI di Asian Games II Manila,’’ papar lelaki yang kini mengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut.
Menginjak era 80-an, kiprah para pemain berdarah Tionghoa itu meredup. Rojil tidak memastikan penyebabnya. Yang jelas, banyak warga Tionghoa yang memilih olahraga dalam ruangan. Misalnya, bulu tangkis.
Menurut Ketua Umum POR Suryanaga Yacob Rusdianto, kondisi Indonesia era 80-an membuat warga Tionghoa memilih olahraga yang menghindari kontak fisik. Dikhawatirkan, kalau ada gesekan di olahraga fisik, warga Tionghoa menjadi sasaran kerusuhan. Kala itu situasi memang begitu. Sentimen terhadap orang Tionghoa cukup tinggi. ’’Lebih memilih olahraga yang ada pembatasnya, bulu tangkis, tenis meja, atau olahraga perorangan,’’ jelasnya. Terakhir, tercatat hanya Suwito ’’Ahong’’ yang menjadi satu-satunya pemain Tionghoa bersama Persebaya pada 2002.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
