
TERAKHIR: Suwito Ahong pernah memperkuat Persebaya pada musim 2002.
JawaPos.com- Kho Gieng Sien alias Suwito sudah masuk skuad inti Persebaya pada Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia (Ligina) musim 2002. Kala itu, usianya masih 20 tahun. Tentu, masuk ke klub besar adalah sebuah kebanggaan tak ternilai bagi anak muda itu.
Perjalanan karir tersebut dibentuk dari pengalamannya sejak kanak-kanak di sebuah desa kecil bernama Cokrowati, Kabupaten Tuban.
Seperti anak-anak sebayanya, masa kecilnya juga diisi dengan berbagai aktivitas. Salah satunya adalah sepak bola. Suwito yang berpostur jangkung sudah mengakrabi posisi striker. Dia mudah menguasai bola di depan gawang.
Jalan hidupnya mulai berubah ketika dirinya hijrah ke Kota Pahlawan. Suwito lantas bersekolah di SMAK St Agnes di Jalan Mendut, Surabaya. Tak jauh dari Stadion Gelora 10 Nopember. ’’Waktu itu ya masih tetap sering main bola plastik di sekolah. Pas SMA saya semakin tahu Persebaya soalnya dekat sama sekolah,’’ cerita Suwito, Senin (23/1).
Lelaki kelahiran 4 Februari 1982 tersebut lantas bergabung dengan klub amatir Putra Gelora. Di sana, skill olah bolanya kian terasah. Tentu, dia tidak pernah berpikir bahwa suatu saat akan bergabung dengan Green Force -julukan Persebaya.
Tapi, pada sebuah sore di tahun 2000, selepas latihan di lapangan hoki, markas Putra Gelora, Suwito mendengar tentang pendaftaran Diklat Persebaya. Diklat tersebut merupakan wadah untuk menjaring pemain lokal klub-klub amatir. Pemain dilatih menjadi profesional. ’’Saya daftar saja. Ikut seleksi, tanpa koneksi, tidak ada mentor, yang penting coba,’’ ungkap bungsu dari sepuluh bersaudara tersebut.
Suwito akhirnya bergabung dalam diklat tersebut. Dia ingat, ketika itu salah seorang mentornya adalah Rudy William Keltjes. Selama setahun, kemampuannya mengolah si kulit bundar semakin terasah. Hingga akhirnya, dia direkrut manajemen Persebaya untuk semusim kompetisi. ’’Ada dua orang hasil diklat yang masuk tim senior untuk ikut Divisi Utama 2002,’’ tuturnya.
Ketika itu, Suwito bermain satu tim bersama nama-nama besar lainnya. Sebut saja libero sekaligus kapten tim Bejo Sugiantoro, Khairil ’’Pace’’ Anwar, Andi ’’Gepeng’’ Budianto, dan Uston Nawawi. Bersanding dengan mereka tidak membuat pria bertinggi 180 cm itu keder. Nervous memang ada, tapi Suwito berusaha mengikisnya dengan terus berlatih keras.
Di tangan Rusdi Bahalwan, Suwito muda ingin membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi penyerang andalan Persebaya. Sayangnya, pada musim kompetisi itu, suasana tim sedang tidak kondusif. ’’Ganti manajemen sampai tiga kali. Saya masih muda, jadi lebih banyak diam,’’ kata putra pasangan Kho Tjien Eng dan Oei En Nio tersebut.
Awalnya Suwito dikontrak untuk semusim kompetisi. Namun, di tengah jalan, kontrak itu diputus. Bahkan, pemutusan kontrak tersebut tidak pernah disampaikan langsung kepadanya. Suwito malah mengetahui namanya dicoret dari koran.
Meski begitu, kecintaan Suwito pada Persebaya tidak pernah padam. Dia tidak dendam sedikit pun. Dia tetap bangga pernah menjadi bagian dari kesebelasan dengan kostum kebesaran hijau-hijau tersebut.
Demi Persebaya, Suwito yang kerap disapa Ahong itu mempertaruhkan segalanya. Dia sempat meninggalkan bangku kuliah untuk Persebaya. Waktu itu yang dicari bukanlah materi, tapi sebuah loyalitas yang ingin dibuktikannya kepada pencinta sepak bola Surabaya.
Suwito mengenang, atmosfer Stadion Gelora 10 Nopember memang tiada duanya. Bagi anak muda sepertinya, menjejakkan kaki di rumput hijau Tambaksari rasanya begitu magis. Banyak anak muda seusianya yang ingin mencicipi pengalaman itu. Tapi, tidak banyak yang seberuntung Suwito.
Jangankan pertandingan resmi, saat Persebaya berlatih saja, suporter sudah berjibun. ’’Kalau suporter sudah teriak, rasanya seperti terbang,’’ ujarnya.
Lepas dari Persebaya, dia melanjutkan kuliahnya di Universitas Surabaya. Dia juga aktif bermain futsal untuk membela nama kampusnya. Pada 2004 Suwito ikut seleksi di Persitara Jakarta Utara. Tapi, dia tidak sampai dikontrak. Petualangannya lantas kembali ke Surabaya. Dia juga bergabung dengan Persebaya Selection yang berkompetisi di Piala Gubernur Jawa Timur.

Prediksi Skor Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Misi Erling Haaland Pulangkan Wakil Afrika
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!
Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di 32 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Pembuktian Tuan Rumah!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Prediksi Susunan Pemain Timnas Norwegia vs Pantai Gading di 32 Besar Piala Dunia 2026: Sudah Lakukan Rotasi, Martin Odegaard Siap Menan
Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Harry Kane Cs Diprediksi Menang, Tapi Laga Berjalan Alot
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di Piala Dunia 2026: El Tri Difavoritkan Lolos ke 16 Besar!
Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion
Prediksi Susunan Pemain Timnas Prancis vs Swedia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Adrien Rabiot Waspadai Lini Serang Lawan
