Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 Januari 2017 | 04.16 WIB

Rumah Administrator Jadi Hotel Klasik

TERTATA RAPI : Halaman rumah tampak asri. Salah satu ruangan di dalam rumah besaran yang kini difungsikan sebagai ruang pertemuan. - Image

TERTATA RAPI : Halaman rumah tampak asri. Salah satu ruangan di dalam rumah besaran yang kini difungsikan sebagai ruang pertemuan.

Tidak lama lagi PG Toelangan menjadi salah satu spot liburan yang asyik. Selain museum gula, tersedia taman bermain, kafe, dan hotel.



ARISKI PRASETYO – CHANDRA SATWIKA



RUMAH besaran atau rumah administrator itu dulu menjadi tempat tinggal pimpinan pabrik. Halamannya sangat luas. Berada di areal kantor PG Toelangan. Persis di depan pabrik yang berdiri pada 1850 itu. Kesan klasik masih terlihat dari bentuk pintu serta jendela.


Kami masuk ke rumah lewat pintu belakang. Halaman belakang yang juga sangat luas tersebut dibatasi tembok setinggi 2 meter. Di halaman belakang itu, terdapat kandang besar tempat memelihara burung. Ada juga teras tempat berkumpul keluarga lengkap dengan meja dan kursi.


Humas PG Toelangan Sigit Purwansyah mengatakan, saat ini rumah besaran memang tidak lagi dipakai sebagai tempat tinggal administrator. Fungsinya sudah berubah menjadi tempat pertemuan. ’’Rapat-rapat digelar di sini,’’ jelas Sigit yang mendampingi kami berkeliling.


Lebih masuk ke dalam rumah, kami masih melihat kursi dan meja. Kali ini jumlahnya lebih banyak. Di sudut ruangan, terlihat minibar. Ruangan itu juga digunakan sebagai tempat pertemuan dan rapat.


Ada lorong yang menghubungkan bagian belakang dan bagian depan. Di lorong tersebut, terdapat enam kamar berukuran besar, sekitar 5 x 6 meter, yang berhadap-hadapan. Kami sempat masuk ke salah satu kamar. Di bagian depan, ada satu meja. Jendela pintu depan sangat besar. Bentuknya seperti separo bulan. Karena tidak ada kegiatan, jendela itu tertutup rapat. Kamar mandi berada di bagian samping.


Rumah besaran atau rumah administrator itu menjadi salah satu bagian penting dari konsep penataan PG Toelangan sebagai destinasi wisata. Yakni, dengan menjadikannya sebagai hotel klasik. Wisatawan yang berkunjung nanti bisa beristirahat dan merasakan tinggal di kawasan pabrik. Arsitektur, isi, dan interiornya tetap dipertahankan. Sementara itu, bangunan pabrik akan menjadi museum. Tentunya, pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan gula meski tidak lagi dalam skala besar.


Untuk merealisasikan konsep tersebut, sejumlah pembenahan lain terus dilakukan. Misalnya, mengecat mesin warna-warni. Dengan begitu, kesan kotor dan lusuh tidak lagi terlihat. Selain itu, gedung yang berada di dekat rel lori sudah dicat. Di dinding gedung tersebut, tampak tulisan Suiker Fabriek Toelangan Anno 1850.


Wakil Ketua Tim Heritage PG Toelangan Benny Basuki Suryo Sularso mengatakan, PG Toelangan akan dijadikan tempat wisata berkonsep museum industri gula. Saat ini rencana alih fungsinya masih digodok. Feasibility study (FS) atau studi kelayakannya sedang disusun. Setelah disetujui, dilanjutkan pembuatan masterplan.


Pembangunannya dipastikan tetap mempertahankan bangunan bersejarah beserta isi pabrik, termasuk mesin. Apalagi, mesin-mesin itu peninggalan abad ke-19. Sejak pabrik berdiri sampai saat ini, mesin tersebut masih digunakan. Masih orisinal. ’’Pabrik lain sudah tidak ada yang seperti Toelangan,’’ ucapnya, bangga.


Jika bangunan pabrik dipertahankan, lain halnya dengan rumah dinas. Rumah para staf dan kepala bagian itu akan diratakan dengan tanah. Bangunan tersebut akan berganti menjadi taman bermain dan kafe. Menurut Benny, rumah dinas itu bukan bangunan kuno. Melainkan baru dibangun pada 70-an. Selain itu, kondisi bangunannya sudah tidak layak.


’’Nanti kami robohkan,’’ ujarnya. Penambahan ’’fungsi’’ area PG Toelangan sebagai destinasi wisata dipercaya akan menghidupkan wilayah Tulangan. Pria yang saat ini juga menjabat GM PG Watoetoelis tersebut menjelaskan bahwa wisata gula itu akan terintegrasi dengan wisata lain di Tulangan. Misalnya, batik kenongo. ’’Menginap di PG Toelangan, terus pulang cari oleh-oleh batik,’’ tutur Benny, lantas tersenyum.


Rencana tersebut juga mendapat dukungan dari pemkab. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sidoarjo Achmad Zaini mengungkapkan, saat ini pemkab mengonsep destinasi wisata. Salah satunya, wisata pabrik gula. ’’Karena sejarah Sidoarjo tidak bisa dipisahkan dari pabrik gula,’’ lanjutnya.


Dia mengatakan sudah berkomunikasi dengan pihak PG Toelangan. Konsep wisata dari bappeda sudah dipaparkan. Misalnya, pengunjung nanti bisa berkeliling pabrik dengan naik lori tebu. ’’Konsep sudah kami paparkan dan pabrik setuju,’’ ucapnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore