Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 Januari 2017 | 03.53 WIB

Mati karena Utang Narkoba, Takut Dimassa, Ceburkan Diri ke Sungai

TANGGUNG JAWAB HUKUM: Rahman Oktavian (dua dari kiri) diapit Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga (kiri) dan Kasubbaghumas Polrestabes Surabaya Kompol Lily Djafar, Rabu (25/1). - Image

TANGGUNG JAWAB HUKUM: Rahman Oktavian (dua dari kiri) diapit Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga (kiri) dan Kasubbaghumas Polrestabes Surabaya Kompol Lily Djafar, Rabu (25/1).

JawaPos.com – Terkuak sudah misteri kematian Nova Ardiansyah alias Topeng. Lelaki yang ditemukan tewas mengambang di Kali Surabaya pekan lalu itu ternyata bergabung dengan jaringan narkoba. Dia dikeroyok dua temannya sesama pengedar sabu-sabu karena punya utang.


Rabu (25/1) polisi akhirnya membuka identitas seorang pelaku pengeroyokan yang dibekuk Selasa (24/1). Namanya adalah Rahman Oktavian. Dia mengakui ikut memukul bagian belakang kepala Nova.


Memakai peci cokelat bermotif putih, pria yang akrab dipanggil Vian itu terus menunduk menghindari sorot kamera wartawan. Polisi lantas menyuruhnya menceritakan kronologi pengeroyokan tersebut. ’’Dia (Nova) nggak mau bayar uang sabu-sabu,’’ cerita lelaki berusia 32 tahun tersebut.


Vian mengungkapkan, Nova adalah rekrutan anyar. Selama ini, jaringan pengedar narkoba itu diotaki Wanto yang berdomisili di Waru Gunung. Wanto kini diburu polisi setelah Vian ditangkap. ’’Sudah lima bulan terakhir beroperasi,’’ imbuhnya.


Topeng adalah pengedar sabu-sabu yang biasa memesan barang dari Wanto. Jumat (13/1), empat hari sebelum ditemukan tewas, Nova kembali memesan barang. Warga Gayung Kebonsari I itu berkata kepada Wanto bahwa ada temannya yang sedang butuh barang. Wanto lalu memberikan sepoket kristal sabu-sabu itu kepada Nova.


Namun, Nova tidak langsung membayarnya secara kontan. Dia berutang Rp 1,4 juta kepada Wanto. Dia juga berjanji segera melunasinya kalau temannya yang memesan sudah membayar. Ketika itu, Wanto membiarkan Nova pergi. Namun, Wanto langsung berkoordinasi dengan Vian dan Habib. Nama terakhir juga pengedar yang menjadi anak buah Wanto.


Keesokannya (14/1) sekitar pukul 07.30, Vian disuruh mendatangi rumah Wanto di Mastrip, Waru Gunung. Lokasinya tidak jauh dari bibir sungai. Vian datang bersama Habib. ’’Pas saya datang, Topeng sudah ada di dalam rumah itu. Saya terus disuruh keluar dulu,’’ jelas pria yang menato kedua lengannya itu.


Wanto dan Nova berada di dalam rumah tersebut. Vian tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun, yang jelas, Wanto kembali menagih uang pembayaran sabu-sabu itu. Dua jam berselang, Vian dan Habib kemudian dipanggil lagi masuk ke sana. Begitu masuk, Wanto sudah memukuli Nova.


Vian dan Habib juga ikut memukul Nova. Lantaran tak seimbang, Nova berusaha melarikan diri. Ketika itu, istri Wanto ikut melerai. ’’Dia lalu lari ke jalan raya. Terus kami teriaki maling HP biar ditangkap sama warga,’’ tambah Vian.


Beberapa warga yang mendengar teriakan itu memang mulai berdiri. Hal itu diketahui Nova. Dia kemudian memutuskan untuk lari ke belakang, ke arah sungai. Di sana, ada perahu tambangan yang bersiap menyeberang ke Jalan Tawangsari.


Kaki Nova sudah berpijak di atas perahu tersebut. Orang yang menariknya pun mulai menjalankan perahu ke sisi timur. Tiga pengedar yang mengejarnya hampir putus asa karena perahu sudah jalan.


Namun, Vian tak habis akal. Dia kembali meneriaki Nova. Dia mengatakan kepada penarik perahu bahwa orang yang diangkutnya adalah maling. ’’Iku maling. Mbalik! Lek nggak mbalik, tak entekno, koen,’’ teriak Vian mengancam Nova.


Mendengar itu, perahu kembali diarahkan ke sisi barat. Menurut Vian, Nova cukup gemetar ketakutan. Apalagi, warga sekitar sudah berkerumun di sekitar dermaga. ’’Ada sekitar 20 orang lah saat itu,’’ ungkap pria berambut ikal tersebut.


Saat perahu belum sampai ke pinggir, Nova mengambil tindakan nekat. Takut dihajar massa, dia kemudian menceburkan diri ke sungai. Byurrr! Banyak warga yang melihatnya saat itu. Nova pun berusaha bertahan. Dia sempat terlihat berenang, berupaya menggapai daratan di sisi barat.


Namun, belum sampai ke pinggir, Nova sudah hanyut. Dia tersedot arus bawah air sungai yang sangat kuat menariknya sampai ke dasar. Nova tenggelam. Jasadnya baru ditemukan mengambang tiga hari kemudian.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore