
BERPENGALAMAN: Tri Pamoedjo di ruang kerjanya pada Jumat (13/1). Dia selalu ingin total dalam membimbing ABH.
Sudah cukup lama Tri Pamoedjo bertugas menjadi pendamping anak yang berkonflik dengan kasus hukum. Tidak terhitung lagi jumlah mereka. Di antara mereka, cukup banyak yang sukses.
FAJRIN MARHAENDRA BAKTI
MENURUT data Badan Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Surabaya, jumlah anak berhadapan hukum (ABH) meningkat dari tahun ke tahun. Tidak saja dari segi jumlah. Kualitas kasus yang mereka hadapi juga cukup pelik.
Betapa tidak, sepanjang 2016 saja, ada 500 anak yang membutuhkan pendampingan. Jangan heran bila Seksi Bimbingan Klien Anak Bapas Kelas I Surabaya juga kian repot.
Selain membuat penelitian kemasyarakatan, mereka harus mendampingi anak-anak tersebut saat duduk di bangku sidang. Bisa dibayangkan betapa repotnya. Maklum, selama ini hanya ada sebelas orang yang bertugas mendampingi para ABH tersebut.
Di antara sebelas orang itu, ada satu sosok yang tidak kalah sibuk. Dia adalah Kepala Seksi Bimbingan Klien Anak Bapas Kelas I Surabaya Tri Pamoedjo. ’’Anak-anak semakin nakal. Tapi, mereka tetap harus didampingi bagaimanapun keadaannya,’’ katanya.
Siang itu, Selasa (17/1), Tri memang sedang banyak kerjaan. Namun, dia masih menyempatkan diri untuk bertemu dengan Jawa Pos. ’’Meski banyak kerjaan, tetap harus dinikmati,’’ ujarnya.
Mendampingi ABH memang bukan cita-cita pria kelahiran Magetan tersebut. Keinginan utamanya adalah mengabdi untuk negara sebagai serdadu TNI. Namun, dua kali dia tidak lolos tes kesehatan. Hal itu membuatnya sedikit kecewa. ’’Saya pun memutuskan untuk kuliah saja,’’ kenangnya.
Jurusan yang dipilih pun sama sekali tidak berkaitan dengan anak-anak, yaitu hubungan internasional. Dia mengasah ilmu diplomasi dan negosiasi tersebut di Universitas Jember. Sebab, Tri gemar membaca berita luar negeri sejak kecil. ’’Dulu waktu baca koran, yang dicari selalu berita internasional,’’ ujar Tri yang besar di lingkungan keluarga guru.
Setelah menyelesaikan pendidikan, dia memilih bekerja. Tri cukup selektif, hanya memilih perusahaan dengan gaji tinggi. Tapi, dia tidak kunjung diterima. Akhirnya, karena kepepet, dia sempat bekerja sebagai penjaga wartel. ’’Dulu terlalu idealis. Jadi, susah diatur,’’ tuturnya.
Sampai suatu saat, ayahnya menegur Tri. Intinya, sang ayah ingin anaknya memikirkan kembali pekerjaan yang dipilihnya. Ayahnya pun merekomendasikan untuk bekerja di Kementerian Kehakiman. Saat itu ada lowongan, tapi belum jelas ditempatkan di mana. ’’Ternyata ditempatkan di sini. Ya sudah, terima saja,’’ ujarnya.
Suami Dwi Rini Widyastuti tersebut bekerja sejak 1993. Awalnya berposisi di bagian umum. Selama sepuluh tahun dia mengurus administrasi di bapas. Pada 2013, dia dipromosikan untuk menjadi pembimbing klien anak. ’’Sebenarnya tidak pernah mikir bakal ngurusi anak-anak,’’ katanya.
Dia kaget. Pria yang hobi bermain voli itu tidak punya latar belakang menangani perkara anak. But, the show must go on. Dia belajar secara otodidak. Satu per satu pasal yang menyangkut peradilan anak dipelajarinya. Tidak tertinggal tentang psikologi anak. ’’Sempat susah juga membuat penelitian kemasyarakatan (litmas),’’ ungkapnya.
Namun, dia memanfaatkan ilmu negosiasi dan diplomasi yang didapatkan saat kuliah dulu. Selain itu, karena lama berurusan dengan bagian administrasi, yang menjadi perhatiannya adalah cara membuat laporan penelitian masyarakat (litmas) yang baik. ’’Kalau laporannya baik, hasilnya akan jelas. Itu juga akan memudahkan hakim membuat putusan,’’ jelasnya.
Litmas yang terkesan kaku dan membosankan diubah menjadi lebih mudah dan enak dibaca. Terobosan itu akhirnya membuat Tri dipromosikan menjadi kepala seksi tiga tahun kemudian. Dia juga masih menjabat sampai sekarang.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
