Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 Januari 2017 | 03.00 WIB

Tenaga Medis Pantau 315 Calon Pengantin

PEDULI BUMIL: Risma menghadiri Gebyar 1.000 HPK Selasa (25/1) di Balai Pemuda, Surabaya. - Image

PEDULI BUMIL: Risma menghadiri Gebyar 1.000 HPK Selasa (25/1) di Balai Pemuda, Surabaya.

JawaPos.com – Membangun sumber daya manusia yang mumpuni tidak hanya dilakukan saat usia sekolah. Langkah tersebut harus dimulai sejak 1.000 hari pertama kelahiran (HPK). Terkait dengan hal itu, pemkot berencana memantau 315 calon pengantin demi menyukseskan program 1.000 HPK.


Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menegaskan, 1.000 hari pertama pasca kelahiran merupakan cikal bakal kehidupan. Karena itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya menyelenggarakan Gebyar 1.000 HPK di Balai Pemuda, Rabu (25/1). ’’Selama ini yang sering diomongkan hanya mencari uang untuk bangun rumah, jarang yang membicarakan soal kehamilan dengan lebih dalam,’’ ujarnya saat ditemui setelah acara.


Salah satu yang menjadi indikasi kesuksesan HPK adalah menurunnya angka kematian ibu dan bayi. Di Surabaya, menurut Risma, angka kematian bayi menurun. Dari 19 menjadi 6 bayi dalam setahun. Begitu juga angka kematian ibu yang pada 2015 mencapai 39 orang turun menjadi 27 orang pada 2016. ’’Walaupun turun, tetap ada kematian,’’ katanya. Melalui dinkes, Risma ingin mengoptimalkan 1.000 HPK agar angka kematian ibu dan bayi turun.


Febria Rachmanita, kepala Dinkes Surabaya, menyatakan bahwa ada 315 calon pengantin yang akan mendapatkan pendampingan. Langkah tersebut dilakukan sampai anak mereka berusia 2 tahun. Dinkes akan mengerahkan 150 tenaga medis untuk melakukan pendampingan. Tenaga medis itu terdiri atas satgas penurunan angka kematian ibu dan anak (penakib), petugas puskesmas, serta ahli gizi. Sesuai dengan perintah Risma, tenaga medis tersebut akan datang ke rumah-rumah penduduk.


Ada beberapa edukasi yang akan diberikan. Mereka yang masih remaja dan calon pengantin akan diberi pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi. Mereka juga akan diberi tahu bagaimana kondisi saat hamil dan pemberian ASI. ’’Tidak hanya perempuan, namun juga laki-laki. Sebab, nanti butuh bantuan ayah untuk menyukseskan ASI,’’ ucap perempuan yang akrab disapa Feni itu. Dia menuturkan, pendampingan tersebut tidak ditarik biaya.


Dokter Risa Etika SpA(K), pembicara dalam talk show Gebyar 1.000 HPK, menyarankan agar ibu bekerja mendapatkan cuti selama enam bulan. Sebab, dalam waktu enam bulan, ibu wajib memberikan ASI eksklusif. ’’Waktu enam bulan juga untuk memberikan brain development untuk si kecil,’’ jelasnya.



Sebelum itu, calon orang tua harus sehat secara fisik dan psikis. Kualitas juga gizi harus terjaga. Pola hidup pun dipastikan sehat. ’’Ada beberapa kuman yang bisa menembus plasenta. Itu akan memengaruhi kualitas bayi yang akan lahir,’’ jelas konsultan neonatologi itu. Risa menambahkan, calon pengantin juga harus belajar soal program KB. Tujuannya, memanajemen kelahiran. ’’Agar jarak kelahiran itu ideal,’’ paparnya. (lyn/c15/oni/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore