
LINDUNGI: Aktivis JAAN membawa poster protes dengan atraksi lumba-lumba.
JawaPos.com – Sejumlah orang menggelar aksi di depan Lapangan Albatros Jalan Raya Juanda, Sidoarjo, Rabu (25/1) sore. Ada yang membawa beragam poster, ada pula yang terlihat menggoreskan cat ke papan kayu berukuran 2 x 1,5 meter. Mereka menggambar lumba-lumba yang berenang di laut.
Aksi itu merupakan bagian dari protes terhadap pentas lumba-lumba sejak 13 Januari lalu di Lapangan Albatros. Peserta aksi tersebut berasal dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan Komunitas Mural Macguffin.
Menurut Rifqi Ajir, koordinator aksi dari JAAN, penyelenggaraan pentas lumba-lumba tersebut merupakan wujud ketidakpedulian terhadap kesejahteraan satwa. Misalnya, saat membawa lumba-lumba dari tempat pertunjukan yang satu ke tempat lain hanya menggunakan truk. Tanpa diberi air. Bahkan, kadang lumba-lumba hanya disiram sekali saat pertama diangkut ke truk.
’’Lumba-lumba memang tahan tidak di air selama 18 jam, karena itu mengapa saat diangkut tanpa air tidak mati. Tapi, hal itu kan tidak memiliki kepedulian,’’ tuturnya.
Bahkan, lanjut Rifqi, lumba-lumba tetap kuat meski dimasukkan bagasi pesawat yang pengap bersamaan dengan barang-barang lain. Padahal, untuk pengangkutan sendiri, ada standardisasi minimum yang berlaku secara internasional dan harus dijadikan tolok ukur.
Rifqi mengatakan, penyelenggara tidak memperhatikan keputusan menteri kehutanan tentang tata usaha pengambilan atau penangkapan dan peredaran tumbuhan dan satwa liar. Selain itu, lumba-lumba dipaksa melakukan atraksi setiap hari. Bahkan hanya istirahat saat malam. Belum lagi teriakan penonton dan musik keras yang diputar kencang saat mereka pentas. Kondisi itu sangat menganggu. ’’Penyelenggara melanggar regulasi tentang kesejahteraan hewan,’’ jelasnya.
Poster yang mereka bawa berbunyi, antara lain, ’’Di Alam Usia Mereka Bisa 40 Tahun, di Kolam Hanya 5 Tahun’’, ’’Ajarkan Anak Kita Melindungi Satwa, Bukan Mengeksploitasi Satwa Berkedok Edukasi’’, Kolam Kecil dan Musik Keras Merusak Sistem Sonar Mereka’’. ’’Semoga masyarakat tidak lagi mendatangi pentas semacam ini,’’ ucapnya.
Harapan serupa disampaikan Deden Suprayogi, ketua Macguffin. Melalui karya lukisnya itu, dia berharap masyarakat sadar bahwa hewan tidak untuk disiksa dengan mengeksploitasinya melalui pertunjukan. ’’Kami mengkritik dengan cara yang sesuai keahlian kami, melalui mural,’’ katanya. (uzi/c15/hud/sep/JPG)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Sassuolo vs Cesena di Coppa Italia: Jay Idzes Berpeluang Starter!
