
CHRISTINE HARIJANTO
TUBUH proporsional Christine Harijanto membuat leluasa mencicipi dunia model. Kulit putih Christine makin bersinar saat mengenakan gaun merah terang yang berhias bordir warna emas busana cheongsam, Rabu (25/1). Meski demikian, jebolan jurusan perhotelan di California State Polytechnic University, Amerika Serikat, tersebut mantap menatap karir sebagai desainer. Salah satu impiannya menjadikan batik sebagai bahan busana yang mewah.
Kecintaan Christine terhadap dunia fesyen dipupuk sang bunda, Hartati Setiomuliono, sejak kecil. Selain menjadi model, Christine setia mengikuti jejak perempuan yang melahirkannya itu saat merintis usaha. Butik pertama sang bunda berdiri di Surabaya pada 2008. Saat itu dia baru masuk sekolah menengah atas (SMA). ”Sejak SMA, aku sering ikut mama ngurusin butik sama diskusi soal desain baju paling up-to-date,” ujarnya saat ditemui di butik di bilangan Mal Sun City.
Ketika itu, dia merasa nyaman berimajinasi tentang beragam mode busana. Menurut dia, jika menemukan pakaian yang pas, perempuan bakal bahagia. Kebahagiaan tersebut merupakan bagian dari kebanggaan Christine. ”Mungkin, darah desainer mengalir sejak nenek, kepada mama, lalu influence ke aku,” tuturnya.
Setelah lulus SMA, Christine memutuskan tidak mengambil jurusan desain busana, tapi perhotelan. Bukan tanpa alasan, dia akhirnya memilih perhotelan. ”Menurut aku, selain baju harus berkualitas dan unik, sebuah butik harus punya nilai plus soal servis,” jelasnya.
Ilmu tentang perhotelan, lanjut dia, mengarahkan bisnis bidang fesyen agar menomorsatukan hospitality. Setelah lulus dari kampus pada 2016, sang ibu menarik Christine sebagai perancang busana. Christine setuju tanpa berpikir panjang. Apalagi, pengalaman memantabkan tekadnya untuk jadi perancang busana.
Kala dia menghadiri wisuda di Negeri Paman Sam, Christine mengenakan gaun rancangan sendiri. Busana tersebut berbahan kain batik khas Indonesia berwarna cokelat vintage. Dia mengkreasikan sebagai dress bergaya asimetris plus halter neck dan payet-payet yang memberi kesan etnik. ”Semua orang di sana bertanya, itu baju dari mana, beli di mana gitu,” kenangnya.
Christine makin sadar bahwa batik merupakan aset fesyen Indonesia. Tekadnya untuk menjadikan batik sebagai bahan utama busana-busana high end makin berkobar. ”Aku pengin batik makin disukai anak Indonesia. Desainnya harus high end, tapi tetap affordable supaya banyak yang mau pakai,” ujarnya antusias.
Christine mewujudkan cita-citanya. Jika menengok ke butik, ada banyak busana dari banyak variasi corak batik. Namun, modelnya sangat modern. Berbagai referensi majalah dan survei menjadi inspirasi Christine. ”Semua hal bisa menginspirasi. Hanya, kita mau atau tidak berhenti sejenak untuk terinspirasi,” tuturnya.
Menurut dia, dalam balutan busana yang cantik dan penuh nilai budaya, kecantikan perempuan bakal terpancar. Setelah bergabung sebagai desainer, butiknya kini merambah ke Bali dan Solo. ”Tapi, inspirator utama tetap satu. Mama,” pungkasnya. (via/c16/dio/sep/JPG)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
