
PINDAH: Bintang muda Persela Lamongan Dendy Sulistyawan menyeberang ke Bhayangkara FC.
Bagi Dendy Sulistyawan dan Maldini Pali, menjadi polisi adalah jaminan masa depan. Tawaran dari klub lain dengan insentif berbeda sebenarnya juga banyak.
Aditya Wicaksana, Surabaya
MUDA, punya teknik bagus, tampil prima musim lalu, dan pernah terpanggil dalam seleksi tim nasional. Tak heran, begitu Indonesia Soccer Championship 2016 berakhir, tawaran kepada Dendy Sulistyawan deras mengalir.
Kalau kemudian penyerang 20 tahun tersebut memilih Bhayangkara FC, itu karena dirinya berpikir jauh ketika kelak pensiun dari lapangan hijau. ’’Kalau jadi polisi kan enak. Pensiun dari sepak bola, saya tetap punya pekerjaan dan penghasilan,” tuturnya.
Ya, menjadi polisi. Itulah ’’insentif” yang ditawarkan Bhayangkara kepada Dendy yang mengalahkan tawaran klub-klub lain. Dia melihat banyak koleganya di lapangan hijau yang mengalami kesulitan setelah tak lagi bermain.
Kebetulan, sejak kecil, penyerang yang membela Persela Lamongan musim lalu tersebut bercita-cita jadi polisi. Dendy yang terlahir dari keluarga petani yakin bisa membanggakan orang tuanya dengan menjadi polisi.
Kini, Dendy tinggal menunggu pendaftaran siswa SPN (Sekolah Polisi Negara). Menurut informasi di Polri, seleksi calon bintara polisi itu dibuka pada medio April–Mei 2017. Dari 28 personel skuad sementara Bhayangkara, mayoritas memang berstatus polisi aktif, siswa SPN, atau calon siswa SPN.
Nama Dendy mencuat setelah tampil trengginas bersama Persela di TSC. Tujuh di antara 40 gol yang ditorehkan tim berjuluk Laskar Joko Tingkir tersebut dilesakkan Dendy.
Di tengah kelangkaan striker lokal berkualitas, apalagi yang masih berusia muda, cemerlangnya Dendy langsung memikat banyak klub. Di antaranya, PS TNI yang mengiming-iminginya jadi tentara. Klub lamanya, yaitu Persela, juga menawarinya menjadi pegawai negeri sipil (PNS). ’’Saya tidak berminat jadi tentara. Setahu saya, tahun ini juga belum ada pengumuman lowongan CPNS,” ujar Dendy.
Sama dengan Dendy, Maldini Pali mempertimbangkan masa depan sebagai alasan menerima tawaran jadi polisi, meskipun dirinya tak pernah bercita-cita menjadi anggota korps baju cokelat itu. ’’Saya kan tidak mungkin selamanya menjadi pemain sepak bola,” ucapnya.
Kepindahannya dari PSM Makassar ke Bhayangkara FC musim ini tak lain karena statusnya sebagai siswa SPN. Penyerang sayap yang berusia 21 tahun tersebut harus memenuhi panggilan klub yang memang didominasi siswa SPN itu. ’’Menurut peraturan, saya harus bermain untuk Bhayangkara,” imbuhnya.
Pemain kelahiran Mamuju, Sulawesi Barat, tersebut tak memiliki sanak famili yang berlatar belakang polisi. Namun, orang tuanya mendukung penuh segala keputusan yang dibuatnya. ’’Kalau demi masa depan yang lebih baik, orang tua pasti mendukung,” katanya. (*/c18/ttg)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
