
Arrigo Sacchi
Antonio Conte di Chelsea, Carlo Ancelotti di Bayern Muenchen, dan Zinedine Zidane di Real Madrid membawa klubnya di liga masing-masing ke puncak klasemen sementara saat ini. Mereka memiliki guru besar yang sama: Arrigo Sacchi.
OBSESI Arrigo Sacchi membicarakan taktik sepak bola terkadang menyebalkan. Sampai-sampai para pemainnya dalam skuad timnas Italia pada Piala Dunia 1994 kesal. Bagaimana tidak, ketika ide akan taktik keluar dari kepalanya pada malam hari, dia segera mengetuk pintu kamar para pemain untuk membicarakannya.
Padahal, para pemain sudah lelah setelah berlatih pada pagi dan sore hari. Berdasar penuturan Alessandro Costacurta kepada Sky Sports, beberapa pemain bahkan berpura-pura tidur begitu kebiasaan Sacchi kumat. Tetapi, pria kelahiran Fusignano itu tidak peduli. Dia berteriak di lorong agar didengar para pemain.
Saking bosannya para pemain dengan Sacchi yang tidak henti-henti berbicara soal taktik, jarang ada yang mau duduk di sampingnya kala waktu makan. Tetapi, ada seorang anak muda, muka baru di timnas Italia, yang berani duduk di samping Sacchi dan menemani mengobrol soal taktik.
Ya, anak muda itu bernama Antonio Conte. Dengan setia, dia menjadi pemain yang paling sering menemani Sacchi. Meskipun, sepanjang turnamen di mana Italia keluar sebagai runner-up lantaran kalah adu penalti dengan Brasil di final itu Conte hanya sekali bermain inti dan sekali menjadi pengganti.
Sebagaimana ditulis Twenty Minute Reads, atas keberanian itulah pelatih Chelsea tersebut mendapat ilmu paling banyak dari Sacchi. Meskipun, dalam level klub, Conte berada di era keemasan Marcelo Lippi bersama Juventus. Tetapi, secara ideologis, dia merasa lebih dekat kepada Sacchi.
Sacchi dalam Inverting The Pyramid karya Jonathan Wilson dikenal sebagai sosok yang merevolusi wajah sepak bola pada akhir dekade 1980-an. Pada era tersebut, hampir semua klub Italia belum beranjak dari catenaccio warisan Gipo Viani, Nereo Rocco, dan Helenio Herrera.
Sacchi menawarkan filosofi yang berbeda. Pria yang pernah menjadi tukang sepatu itu memakai zonal marking kepada lawan-lawannya. Semua pemain harus bertanggung jawab ketika menyerang maupun bertahan. Skema 4-4-2 milik Sacchi sangat cair, fleksibel, dan menggunakan garis pertahanan tinggi.
Dia datang di AC Milan pada 1987 diterima dengan penuh keraguan. Penyebabnya, dia tidak punya latar belakang sepak bola profesional layaknya pendahulunya, pemain legenda Milan dan Swedia Nils Liedholm. Ternyata Sacchi yang sebelumnya melatih Parma menjawab sikap pesimistis dengan prestasi.
’’Saya tidak pernah tahu kalau ingin menjadi joki (balap kuda) harus menjadi kuda terlebih dahulu,’’ kata Sacchi yang kemudian menjadi kutipan paling terkenal terkait dirinya.
Mengidolakan permainan Honved Budapest era 1950-an, Belanda era 1970-an, dan Brasil era 1970-an, Sacchi melahirkan the dream team bersama Milan.
Satu gelar scudetto 1987–1988, European Cup (nama lawas Liga Champions) 1988–1989, dan 1989–1990, serta Intercontinental Cup (nama lama Piala Dunia Antarklub) 1989 dan 1990 adalah puncak-puncak kejayaan Sacchi. Trio Belanda Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard adalah pilar sukses Sacchi.
’’Saya selalu meminta pemain saya, ketika kami menguasai bola, ada lima pemain di sekitarnya. Kemudian, ada dua pemain yang melebar; satu di sisi kanan dan satu lagi di sisi kiri,’’ jelas Sacchi.
Dengan gaya ofensif tersebut, dia memang ingin menciptakan sepak bola yang menyenangkan. Bukan hanya untuk pemain, melainkan juga penonton. Sepak bola yang enak ditonton akan memberikan kebahagian bagi yang menyaksikan.
Salah satu metode latihan Sacchi yang paling terkenal adalah permainan bayangan. Para pemain diminta untuk melakukan permainan imajinasi di lapangan tanpa lawan, juga tanpa bola. Namun, mereka seolah-olah sedang menghadapi lawan.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
