
Saham BUMI yang pernah di level Rp 50 kini berada di angka Rp 486.
JawaPos.com - Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menduduki deretan 45 saham paling likuid dalam indeks LQ45. Sempat bersandar di harga terendah, yaitu Rp 50, saham tambang milik grup Bakrie itu kembali ramai ditransaksikan seiring dengan naiknya harga komoditas, terutama batu bara.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan susunan penghuni indeks LQ45 terbaru pada periode Februari-Juli 2017 kemarin (25/1). Ada tiga saham yang tersingkir. Dua saham berasal dari grup Lippo dan satu dari grup MNC. Dari grup Lippo, dua saham yang tersisih dari daftar indeks saham yang biasanya termasuk paling favorit di pasar saham Indonesia tersebut adalah PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO). Dari grup MNC, ada saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR). BUMI menjadi salah satu pengganti bersama saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT PP Properti Tbk (PPRO).
Khusus untuk BUMI, kembalinya perusahaan tambang dengan aset cadangan batu bara terbesar itu cukup fenomenal sekaligus mengejutkan. BUMI pernah terpuruk karena utang segunung. Akibatnya, harga sahamnya sempat bersandar di level Rp 50.
Kali terakhir saham BUMI masuk indeks LQ45 lagi pada periode Agustus 2013-Januari 2014. Pada penutupan perdagangan saham 2015, saham BUMI sudah bersandar di batas terendah tersebut. Kalaupun bergerak, harga saham tidak jauh dari situ, kemudian bergerak di kisaran level Rp 60-an sampai Oktober 2016. Setelah itu, saham BUMI terlihat mulai merangkak naik seiring kenaikan harga komoditas, termasuk batu bara. Mulai akhir Oktober 2016, harganya mencapai level psikologis Rp 100.
Pada penutupan perdagangan kemarin, saham BUMI naik 6 poin (1,25 persen) ke level Rp 486 per saham. Volume saham yang ditransaksikan mencapai 1,192 miliar saham dan sempat menyentuh level Rp 482 per saham.
Analis pasar modal Aria Santoso mengungkapkan, likuiditas saham BUMI menjadi pertimbangan BEI memasukkan kembali ke daftar indeks LQ45. ''Walau, kita lihat kondisi sekarang kan masih negatif (kinerja BUMI, Red). Tapi, karena dari sisi sentimen harga komoditas dan restrukturisasi utang jadi satu cerita menarik dari para investor untuk ke depan maka terlihat lebih cerah,'' ujarnya di gedung BEI kemarin.
Aria menilai harga saham BUMI saat ini cukup representatif atas valuasi perusahaannya. ''Secara fundamental, kalau kita hitung valuasinya di atas (Rp 400) itu dengan acuan harga komoditas sekarang. Kalau harga komoditasnya turun lagi, ya jeblok lagi,'' katanya. (gen/c14/sof)

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
