Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 26 Januari 2017 | 14.30 WIB

Ada Festival Kesuksesan di Salah Satu Negara Termiskin Amerika Latin

BERHARAP KAYA: Pedagang menjual miniatur uang dan beragam kartu kredit. - Image

BERHARAP KAYA: Pedagang menjual miniatur uang dan beragam kartu kredit.


JawaPos.com – Mulai 24 Januari, jalanan La Paz, Bolivia, dipenuhi benda-benda simbol kesuksesan. Mulai rumah mewah, mobil keluaran terbaru, handphone tercanggih, hingga koper penuh uang, lengkap dengan paspor yang ditempeli visa banyak negara. Jalanan sesak dong? Tidak juga. Sebab, semuanya hadir dalam bentuk miniatur.



Bolivia sedang merayakan Alasitas, festival tahunan yang digelar selama dua minggu sejak 24 Januari. Ribuan warga dari berbagai wilayah Bolivia berbondong-bondong membeli miniatur segala rupa untuk diberikan kepada orang-orang terdekat. Tentu saja, setelah menerima doa-doa dari shaman alias cenayang yang dipercaya memiliki kekuatan magis.



Alasitas adalah festival etnis Aymara. Berdasar kepercayaan etnis tersebut, miniatur yang dibeli membawa keberuntungan selama setahun ke depan. Misalnya, jika ingin memperoleh banyak uang, yang dibeli adalah miniatur uang. Jika ingin mobil dan rumah, yang dibeli adalah miniatur dua benda itu. Warga yang ingin segera menikah bisa membeli boneka ayam betina dari plastik yang melambangkan pengantin perempuan dan ayam jantan untuk lambang pengantin laki-laki.



’’Saya membeli berbagai hal yang saya inginkan tahun ini,’’ ujar Milenka Calderon, salah seorang pengunjung. Dia membeli uang-uangan, miniatur makanan, dan boneka bayi. Sebab, dia ingin putrinya yang baru menikah segera hamil. Tahun lalu, Calderon membeli miniatur rumah dan akhirnya benar-benar membeli rumah. ’’Jika kamu memiliki keyakinan, itu akan menjadi kenyataan,’’ tambahnya.



Barang-barang yang telah dibeli tidak dibawa pulang begitu saja. Ada cenayang yang mendoakan barang-barang tersebut dengan dupa dan bubuk khusus. Mereka berdoa untuk Ekeko, dewa kemakmuran. Para cenayang itu membuka gerai di sepanjang jalan La Paz. Layanan mereka tentu tidak gratis. Kini, tradisi kuno tersebut bercampur dengan budaya modern. Sebab, beberapa orang memilih meminta doa ke gereja-gereja Katolik. Pastor akan memercikkan air suci ke miniatur-miniatur yang dibawa warga.



Dulu, Alasitas hampir punah. Festival itu sejatinya digelar untuk meminta panen yang melimpah. Miniatur untuk festival tersebut hanya bisa dibeli di Parque de los Monos. Namun, sejak Evo Morales menjadi presiden Bolivia pada Januari 2006, semua berubah. Morales yang merupakan presiden pertama dari suku asli Bolivia mengangkat budaya Alasitas ke permukaan.



Morales yang asli suku Aymara mengizinkan para penjual miniatur festival itu membuka gerai di Plaza Murillo, La Paz. Plaza Murillo berada di depan gedung kongres dan istana kepresidenan. Kini popularitas Alasitas melejit. ’’Ada lebih banyak orang yang yakin (dengan Alasitas, Red) sekarang. Sebelumnya, ketika Bolivia adalah negara Katolik, semua kepercayaan kami disembunyikan. Sekarang, ini adalah negara pluralisme. Semua keyakinan dihormati,’’ tutur Carlos Ballón, salah seorang cenayang.



Festival tahunan tersebut bukan hanya masalah kepercayaan, tapi juga komoditas baru untuk sektor pariwisata dan menghidupkan perekonomian warga sekitar. Bolivia yang dulu merupakan salah satu negara termiskin di Amerika Latin maju pesat setelah dipimpin Morales. Karena itu, harapan penduduk untuk hidup makmur kian tinggi. Hal tersebut tecermin dari miniatur yang dibeli dalam festival Alasitas. (TheGuardian/EuroNews/sha/c18/any/tia)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore