Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 26 Januari 2017 | 02.00 WIB

Normalisasi Sungai Atasi Banjir Jabon Butuh Rp 570 Miliar

LEBIH RENDAH DARI SUNGAI: Qoyimah, 35, beraktifitas seusai memandikan anaknya Liviana Wahyu Ramadhani, 4, di dalam rumah yang kebanjiran di RT 3 RW 5 Desa Kupang Kecamatan Jabon, (24/1). - Image

LEBIH RENDAH DARI SUNGAI: Qoyimah, 35, beraktifitas seusai memandikan anaknya Liviana Wahyu Ramadhani, 4, di dalam rumah yang kebanjiran di RT 3 RW 5 Desa Kupang Kecamatan Jabon, (24/1).

JawaPos.com – Proyek normalisasi sungai di Kedunglarangan, Wranti, dan Bangiltak menjadi jawaban agar wilayah Kecamatan Jabon dan sekitarnya tidak lagi banjir. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas tahun ini akan mulai menormalisasi sungai tersebut. Total anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 570 miliar.


Kepala BBWS Brantas Amir Hamzah mengatakan, kegiatan normalisasi Sungai Brantas di Kedunglarangan, Wranti, dan Bangiltak sudah dimasukkan dalam program pengendalian banjir. Tahun ini pihaknya mendapatkan anggaran untuk melaksanakan program normalisasi sungai tersebut. ”Uangnya sudah ada, tetapi masih sedikit. Nanti di-multiyear,” katanya.


Amir mengatakan, pihaknya sudah membuat rencana anggaran biaya penanganan banjir daerah aliran sungai (DAS) Kedunglarangan. Dengan output 43 kilometer dan outcome 860 hektare, perkiraan kasar anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 570 miliar. Namun, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tidak mungkin bisa langsung memberikan kebutuhan anggaran tersebut. Setidaknya, untuk kegiatan normalisasi sungai tersebut, dianggarkan maksimal Rp 100 miliar.


”Harapan kami, 3–4 tahun ini normalisasi Sungai Kedunglarangan, Wranti, dan Bangiltak bisa selesai,” ujarnya.


Dia mengatakan, BBWS dan Pemkab Sidoarjo telah sepakat membangun long storage di Sungai Kalimati, Jabon. Pembangunan long storage juga akan menjadi salah satu solusi untuk menangani banjir. Jika normalisasi Sungai Kedunglarangan, Wranti, dan Bangiltak itu sudah dilakukan, dia berharap seluruh warga bisa menjaga sungai dengan baik. Misalnya, bisa difungsikan untuk aktivitas warga seperti memancing. ”Warga bisa juga menyebar ikan di sungai dan membuat wisata di sepanjang sungai itu agar bisa berfungsi lebih baik,” katanya.


Bupati Saiful Ilah mengatakan, pihaknya sangat setuju dengan pembuatan long storage. Saat ini, sungai yang tersisa hanya selebar 80 meter dengan panjang 10–12 kilometer. Dahulu, pada zaman Belanda, sungai tersebut selebar 120 meter. Saat ini, terdapat sekitar 200 rumah yang berdiri di Sungai Kalimati itu. ”Kami segera menertibkan rumah-rumah yang berada di atas sungai tersebut. Karena ini untuk kebutuhan jangka panjang penanggulangan banjir,” ujarnya.


Hingga Selasa (24/1), kondisi banjir di Kecamatan Jabon masih parah. Ribuan hektare tanah pertanian terendam. Begitu juga permukiman warga. Kepala Desa Semambung, Kecamatan Jabon, Zaenuri mengatakan bahwa curah hujan yang tinggi di Desa Semambung pada Kamis lalu (12/1) sejatinya tidak begitu tinggi. Tetapi, curah hujan di Pasuruan sangat tinggi. Dampaknya, air sungai dari hulu mengalir hingga Semambung. Apalagi, di Sungai Bangiltak ada sudetan. Lantaran tidak kunjung surut, air meluap hingga ke wilayah Jabon. ”Dulu memang ada perjanjian akan dibuat sudetan. Janjinya akan dibuat tanggul, tetapi kenyataannya tidak,” jelasnya.


Zaenuri mengungkapkan, hingga saat ini banjir di wilayahnya tidak kunjung surut. Padahal, dua hari lagi diperkirakan curah hujan tinggi lantaran puncak bulan purnama. Dia khawatir banjir di Jabon semakin parah. ”Kami berharap normalisasi dilakukan mulai dari hulu. Percuma hilir diperbaiki jika hulu masih tidak dibenahi,” ungkapnya.


Pernyataan senada disampaikan Kepala Desa Kalisogo Fajar Sodiq. Saat ini, banjir yang melanda wilayahnya telah menenggelamkan sekitar 500 hektare tambak. Bahkan, tambak-tambak itu sudah rata tanpa ada pematangnya. Selain itu, 75 hektare permukiman warga di wilayahnya menjadi korban banjir. ”Airnya tidak bisa bergerak. Menggenang terus,” katanya.



Fajar mengaku, Kalisogo sangat dekat dengan Sungai Brantas. Di desa itu terdapat afvoer Ngingas. Tetapi, afvoer tersebut tidak dapat berfungsi karena buntu. Satu-satunya jalan adalah dipompa dan airnya dibuang ke Sungai Brantas. Menurut dia, banjir di Kalisogo merupakan kiriman air dari Kupang dan Semambung. ”Airnya tidak mengalir lewat saluran,” tandasnya. (ayu/c6/hud/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore