
Cakupan ASI Eksklusif
JawaPos.com – Tingkat cakupan ASI eksklusif masih berada di angka 70 persen. Kondisi tersebut berlangsung sejak tiga tahun terakhir. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik dr Ummi Khoiroh menyatakan, banyak kendala di lapangan yang menghambat pemberian ASI eksklusif. Terutama pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya ASI untuk bayi.
”Ketika ASI tidak keluar, ibu langsung memberi sufor (susu formula, Red),” katanya. ”Seharusnya disusui terus,” lanjutnya Selasa (24/1). Isapan si buah hati justru bisa merangsang ASI untuk keluar. ”Kalau putus asa dan berhenti, justru tidak keluar (ASI),” jelas mantan kepala seksi kesehatan ibu anak dan keluarga berencana (KIA-KB) itu.
Penyebab lain, banyak ibu yang bekerja. Ibu bayi kerap mengabaikan pemberian ASI eksklusif. Kesibukan di tempat kerja menjadi alasan. Akhirnya, sang ibu memilih sufor. ”Masih bisa disiasati dengan dipompa. Namun, cara penyimpanan harus diperhatikan,” tuturnya.
Kebutuhan ASI eksklusif untuk bayi sangat diperlukan. Berdasar survei, ASI bisa menurunkan risiko kematian bayi (AKB) hingga 13 persen. ”Kandungan di dalam ASI berpangaruh pada kecukupan gizi bayi,” jelasnya.
Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut menuturkan, dinkes sudah menggalakkan sosialisasi. Namun, mobilitas warga di Gresik tergolong tinggi. ”Sosialisasi yang diberikan tidak bisa maksimal,” tuturnya. Peran keluarga tidak kalah penting dalam menyosialisasikan pentingnya ASI eksklusif. ”Ketika ibu bayi mutung, suami harus memberi semangat. Hal itu sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif untuk bayi,” ungkapnya.
Kepala Dinkes Gresik dr Nurul Dholam menyebutkan, pemberian ASI eksklusif pernah dibahas bersama pemkab dan anggota DPRD. Bahkan, dinkes sudah merancang peraturan dareah (perda) tentang pemberian ASI eksklusif.
Namun, lanjut dia, rancangan perda tersebut ditolak. Sebab, perda bersifat mengikat. Artinya, akan ada sanksi bagi ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif jika perda tersebut diterima. ”Tidak bisa. Pemberian ASI tidak bisa dipaksakan,” tuturnya.
Meski begitu, sudah ada peraturan bupati yang mengatur pemberian ASI eksklusif. Hanya, aturannya bersifat himbauan. ”Dibuatkan aturan karena memang pemberian ASI sangat diperlukan,” jelasnya. ”Sosialisasi juga perlu ditingkatkan. Diharapkan, masyarakat mulai sadar pentingnya ASI eksklusif untuk bayi,” imbuhnya. (adi/c16/ai/sep/JPG)
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
