
PRESTASI SINEAS MUDA: Fauzan Abdillah yang akan bersekolah di Busan, Maret-Oktober.
Proses tak akan mengkhianati hasil. Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Fauzan Abdillah. Melalui berbagai karya film yang disusunnya sejak belia, dia berhasil lolos dalam beasiswa produser di Busan Asian Film School.
EDI SUSILO
PADA Senin (23/1), Fauzan Abdillah terlihat di antara pengunjung perpustakaan Institut Francais d’Indonesie (IFI) di kompleks AJBS, Jalan Ratna. Pemuda kelahiran 15 Oktober 1988 itu terlihat asyik mengutak-atik laptop sambil menyumpal kedua telinganya dengan headphone. Di depannya, ada buku catatan dan kamera DSLR. ’’Lagi asyik ngedit film dokumenter yang kami buat di Selandia Baru pada 13 November–3 Desember 2016,’’ ujarnya.
Dalam film tersebut, Fauzan meracik kolaborasi tari, musik, dan teater oleh kawan-kawannya dalam perjalanan muhibah sebagai Pegiat Budaya 2016 tersebut. Ketika itu Fauzan ada di antara 56 aktivis yang bergelut di berbagai bidang untuk mengenalkan Indonesia ke negeri selatan tersebut. Di sana tamu-tamu dari Indonesia itu juga belajar budaya mereka. ’’Nah, kekhasan setiap peserta itulah yang ingin kami buat,’’ katanya.
Fauzan memang sudah lama menekuni pembuatan film. Bahkan telah menjadi rutinitas. Saat ini Fauzan sudah membikin 25 film pendek dan tujuh film feature. Semua dikerjakannya sendiri. Mulai pengambilan gambar, editing, hingga finishing. Mandiri. ’’Ya, ada beberapa teman membantu,’’ ucapnya.
Meski begitu, kualitas garapan alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu tak bisa dianggap remeh. Karya-karyanya sudah malang melintang di berbagai festival dan kegiatan perfilman. Baik lokal maupun mancanegara. Misalnya, di Malaysia, Amerika, Turki, dan Italia.
Karena itu, pada Maret–Oktober 2016, putra ketiga pasangan R Mulyadi-Sukartinah tersebut terpilih mengikuti sekolah produser di Busan Asian Film School, Korea Selatan. Fauzan akan belajar bersama 21 orang dari 20 negara yang terseleksi. ’’Yang daftar 114 orang, tapi yang diambil cuma 17 orang,’’ jelas Fauzan. Mereka lantas ditambah tiga orang nonseleksi dari Korsel.
Menurut Fauzan, nama-nama yang lolos punya track record top dengan karya yang dikenal di negaranya. Di antaranya, Nutthapon Rakkhatham dari Thailand dan Park Sungo dari tuan rumah Korea Selatan. ’’Tentu ini sebuah kebanggaan bagi saya,’’ tuturnya.
Fauzan awalnya tak mengetahui adanya jalur beasiswa produser tersebut. Dia baru tahu ketika dikontak Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). ’’Katanya, jika tertarik mengikuti sekolah produser di Busan, saya harus segera mendaftar,’’ ungkapnya.
Penggemar novel itu pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Setelah dia lolos seleksi berkas, proses selanjutnya adalah wawancara langsung dengan empat profesor penguji. Fauzan pun langsung shock. Maklum, wawancara dilakukan melalui jalur Skype. Artinya, peralatan harus prima. Jaringan internet harus oke. Kamera komputer kudu fit. Salah satu ngadat, wawancara putus.
Pertanyaan saat wawancara pun menggelitik dan menjebak. Misalnya, ada pewawancara yang bertanya soal background batik di belakang Fauzan. Katanya, warna batik tersebut indah dan khas. ’’Padahal, sebenarnya itu kan modus untuk nutupi rak buku di kamar yang berantakan,’’ ujar Fauzan, lantas terkekek.
Fauzan mengungkapkan, pertanyaan yang hingga kini tak bisa dilupakan adalah ketika para pewawancara menanyakan film Korea yang disukai. Meski gemar nonton film Korea, pertanyaan yang tak diduga tersebut membuat dia blank.
Tak ingin terlihat kikuk di hadapan juri, Fauzan mulai berpikir secepatnya. Sambil mengingat-ingat, yang akan muncul duluan pasti akan dia sebut. Di antara puluhan film, akhirnya Fauzan hanya berhasil mengingat dua film. Yang pertama adalah Boomerang Family, film komedi-drama besutan 2013. Berikutnya adalah Train to Busan, film horor yang mengisahkan bencana zombi lansiran 2016. ’’Sayangnya, otak hanya memberikan bocoran pada judul film tanpa sutradaranya,’’ jelasnya, lalu tersenyum.
Sementara itu, saat ditanya mengenai pengalaman sebagai produser, Fauzan menjawab tanpa ragu. Maklum, Fauzan adalah koordinator Independen Film Surabaya (Infis). Dia sudah terbiasa melakukan berbagai kegiatan seputar film bersama komunitasnya yang berdiri pada 13 September 2000 tersebut. Misalnya, ekshibisi, distribusi, dan edukasi film. ’’Kami punya program gerobak film di kampung-kampung. Di bidang pendidikan, ada kegiatan Cinematologi bagi siswa SD,’’ terangnya.
Pendidikan enam bulan itu bakal dibagi dua. Pada periode awal, peserta akan menerima pengetahuan seputar bioskop, studi kasus tentang anggaran film dan efisiensi, serta dilatih sebagai produser profesional. Di tahap awal itu pula, peserta diajak mengenal karakter khas film Asia dari masa ke masa.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
