Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 Januari 2017 | 06.35 WIB

Jelang Imlek, Warga Tionghoa Gelar Ritual Leluhur

Suryani (98) yang menghadiri ritual penghormatan kepada para orang tua dalam rangka menyambut Imlek, Minggu (22/1). - Image

Suryani (98) yang menghadiri ritual penghormatan kepada para orang tua dalam rangka menyambut Imlek, Minggu (22/1).

JawaPos.com - Menyambut hari raya Imlek 28 Januari nanti, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) melakukan ritual penghormatan kepada para orang tua dengan cara berbagi kasih kepada mereka.


Imlek merupakan hari raya yang ditunggu-tunggu masyarakat Tionghoa. Berbagai kegiatan dilakukan menyambut salah satu hari besar nasional di Indonesia ini. PSMTI menyambut Imlek dengan cara berbagi kasih dengan para orang tua, terutama mereka yang berusia lanjut (lansia).


Para lansia yang diundang mulai umur 75 tahun hingga yang tertua 98 tahun dengan jumlah lansia sebanyak 278 orang. Mereka tampak semangat menyambut perayaan Imlek. 


Bagi warga Tionghoa, hormat kepada orang tua sudah ditanamkan dari para leluhur mereka. “Orang tua tidak boleh dilawan, segala nasehat beliau harus didengarkan. Dan biasanya menjelang perayaan imlek keluarga besar berkumpul dan makan bersama,” kata Hendra Gunawan, Pembina PSMTI Kota Tarakan.


Dijelaskannya, para leluhur orang Tionghoa selalu mengajarkan untuk berkumpul bersama, agar anak-anak mereka secara turun temurun selalu menghormati kedua orang tuanya. Menanamkan budi pekerti yang harus selalu menghormati pada yang tua, karena tata krama sudah menjadi salah satu adat warga Tionghoa.


“Imlek tahun ini harus dilaksanakan dengan sederhana dan tidak boleh mewah-mewah dan mencolok agar tidak menjadi kesenjangan,” kata Welimin, Ketua PSMTI Kota Tarakan.


Dari 278 orang lansia yang hadir, Suryani tercatat sebagai warga Tionghoa tertua saat itu. Usianya saat ini 98 tahun. Suryani lahir di 5 Januari 1918 ini masih tampak segar bahkan bisa berjalan sendiri tanpa alat bantu dan melihat dengan baik. Wanita lansia ini ikut serta berkumpul dengan para lansia lainnya menikmati kegiatan yang memanjakan mereka.


Suryani berdomisili di Jalan Slamet Riyadi Kampung Bugis. Di usia senjanya, Suryani tidak kesepian karena ia sudah memiliki 10 orang anak dengan 34 cucu dan 39 cicit. Meski beberapa tahun lalu ia telah kehilangan suami tercinta dan salah seorang anaknya. 


Kini ia hanya tinggal bersama anak terakhirnya, sementara anak-anak lainnya berada di luar kota Tarakan. Walaupun sudah sangat tua, penglihatan dan pendengaran Suryani masih sangat baik. Dirinya juga tidak memiliki penyakit yang kerap dialami para orang tua lainnya.


Suryani mengaku tidak pernah menggunakan obat-obat dari dokter dan hanya memakan ramuan herbal. “Saya jarang minum obat, saya minum ramuan herbal saja,” katanya.


Suryani masih sangat sehat. Ia bahkan masih sanggup beraktivitas seperti berjalan-jalan tanpa bantuan tongkat dan kursi roda. Dirinya juga suka membersihkan rumah sendiri, bahkan dirinya masih sanggup untuk memasak sendiri untuk anak dan cucunya. Dia juga masih mampu membaca tanpa harus menggunakan kacamata.


Tidak ada larangan makanan untuk Suryani, karena semua makanan dapat dimakannya. Makanan cepat saji pun terkadang dimakannya. Tetapi dia lebih menyukai makanan sehat seperti ikan dan sayur menjadi santapan sehari-hari.


Diakuinya, semua harapan dan keinginan Suryani sudah terwujud karena semua anaknya sudah sukses menjadi pengusaha. “Saya tinggal menjalani hidup saja sekarang dengan baik,” tutupnya. (*/Yustina Lumbaa/ddq/fab/JPG)

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore