
MEMORI: Handayani memperlihatkan sejumlah medali yang diraih Syaits Asyam semasa hidupnya di rumah duka di Jetis, Caturharjo, Sleman,Senin (23/1).
SUASANA duka sangat terasa saat Radar Jogja mendatangi kediaman almarhum Syaits Asyam. Sang ibu, Sri Handayani, masih terlihat bersedih. Anak semata wayangnya kini telah tiada. Di mata Handayani, Asyam merupakan sosok yang sederhana, taat beribadah, dan dekat kepada orang tua.
Cowok kelahiran 7 Juli 1997 ini sangat dielu-elukan oleh keluarganya. Handayani menceritakan kisah hidup anaknya. Sebagai anak tunggal, Asyam terlihat sangat mandiri.
”Selalu berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan dengan usahanya sendiri. Sangat ingin membahagiakan kedua orang tuanya,” kata Handayani ditemui di rumah duka Dusun Jetis, Caturharjo, Sleman, Senin (23/1).
Dalam dunia pendidikan, Asyam sangat mencintai dunia penelitian. Bahkan diakui oleh Handayani, anaknya memiliki cita-cita menjadi Menteri Riset dan Teknologi. Tak heran jika dia juga berprestasi di bidang riset.
”Saat duduk di SMA Kesatuan Bangsa Jogjakarta, bersama sahabatnya Galih Ramadhan, Asyam meraih medali emas. Mereka melakukan penelitian kimia bertajuk Treatment of Oil Spill by Buffing Dust as an Efficient Adsorbent,” ujarnya.
Dalam ajang Indonesia Science Project Olympiade (ISPO) 2014. Dia juga meneliti tentang limbah laut. Berkat ini, Asyam diundang ke Istana Negara oleh Presiden Jokowi. ”Sangat bangga sekali atas prestasi yang dia raih,” kenangnya.
Diakui Handayani, Asyam punya semangat tinggi untuk menyelamatkan lingkungan. Keikutsertaannya dalam Mapala UII (Unisi) juga atas dasar kecintaan pada alam. Sebagai ibu, tentu Handayani sangat mendukung segala langkah anak semata wayangnya ini.
Di luar aktivitas akademis, Asyam juga giat di berbagai kegiatan sosial. Saking sibuknya, Handayani memiliki julukan khusus kepada Asyam.
”Dia sangat sibuk maka saya panggil pak menteri, karena seharian pasti penuh aktivitas,” ujarnya setengah terisak.
Perempuan berjilbab ini kembali mengenang kebersamaan dengan anaknya. Salah satu impian yang belum terwujud adalah menempuh pendidikan di luar negeri. Universitas Oxford London menjadi pelabuhan cita-cita pendidikan Asyam.
”Dia ingin ke Oxford. Di UII dia sudah mengikuti latihan kepemimpinan. Sekarang impian tersebut sudah menajdi kenangan. Tapi, semangatnya tetap saya simpan,” katanya.
Pengalaman tak terlupakan juga dialami oleh Pakde Asyam, Seno Aji. Pria berumur 48 tahun ini menerawang berbagai kenangan bersama keponakannya. Seno, sapaannya, sudah menganggap Asyam sebagai anaknya sendiri.
Seno menjadi saksi bagaimana Asyam dibesarkan. Satu hal yang dia tanamkan adalah menjadi orang yang berani. Termasuk berani mengakui kesalahan dan meminta maaf.
”Asyam itu orangnya sangat sederhana. Dibelikan mobil malah minta motor. Alhasil mobilnya jarang digunakan. Saya juga koleksi motor pitung, dia sempat nembung,” ujarnya.
Sebelum berangkat Diksar Mapala UII, Asyam sempat meminta izin kepadnya. Seno mengira kepergian Asyam hanya sekadar hobi. Seno juga sempat berpesan agar keponakannya berpikir ulang.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
