
MASIH BISA SANTAI: Jerrico Nugroho (dua dari kiri) saat presentasi hasil tulisan kelompoknya di hadapan para wali murid di SMPN 1 Sedati Sidoarjo pada Sabtu (21/1).
JawaPos.com – Implementasi gerakan budaya literasi dari SMPN 1 Sedati Sidoarjo layak ditiru. Para siswa tidak hanya membaca dan menulis. Mereka juga mempresentasikan hasil karya ke orang tua.
Sabtu (21/1) sejumlah ruang kelas sekolah yang terletak di Jalan Brantas, Sedati, tersebut ramai. Banyak orang tua siswa yang hadir dan duduk di bangku kelas. Wali murid itu akan melihat presentasi anak mereka. Para orang tua juga mendapat kesempatan bertanya setelah para siswa memaparkan hasil karyanya. ”Yang kami presentasikan adalah hasil tulisan saat kami studi ke Bali pada 3 sampai 7 Desember 2016,’’ ujar salah seorang peserta presentasi, Eka Prasetyaningrum.
Di Pulau Dewata, selain berlibur, para siswa mendapat tugas membuat tulisan perjalanan. Mereka bebas menuliskan apa saja yang ada di sana. Sedangkan 27 kelompok lain yang ikut mendapat jatah menuliskan hal yang berbeda. Bisa sejarah, komentar pengunjung, serta kegiatan yang berlangsung. ’’Kelompok kami terdiri atas empat orang. Kami menulis tentang Joger, Kebun Raya, Tampak Siring, Bali Classic Center (BCC), juga Ubud,” kata Eka.
Selama di Bali, mereka melakukan observasi sekitar tempat wisata untuk tambahan deskripsi, wawancara pengunjung, pemilik, pemandu wisata, serta pengelola lokasi wisata. Mereka juga mencari referensi tentang gaya penulisan. ’’Setelah dari Bali, kami susun tulisan sekitar seminggu bersama kelompok. Totalnya ada 32 halaman. Sedangkan bahan presentasi tiga hari,” ujar Jerrico Nugroho yang bertugas melakukan presentasi.
Jerrico mengaku deg-degan saat memaparkan hasil tulisan kepada orang tua. Sebab, para wali murid tersebut juga tak segan bertanya banyak. Baik proses penulisan maupun konten. ”Sebelumnya itu malah dinasihati terus oleh orang tua biar sukses dan nggak malu-maluin,’’ ujar siswa kelas IX itu.
Selain dengan para orang tua, para siswa berhadapan langsung dengan tiga juri yang berasal dari guru. Juri menilai sekaligus mengevaluasi penampilan mereka. Itu dilakukan agar bisa langsung dijadikan bahan pelajaran. Mulai melihat konten yang mereka buat, orisinalitas karya, penguasaan audiens, hingga strategi presentasi. ”Nilainya juga dimasukkan pada nilai rapor,” ujar Kepala SMPN 1 Sedati Retno Untari.
Karena itulah, lanjut dia, murid-murid harus totalitas mengerjakan. Retno menyebutkan, tradisi presentasi di hadapan orang tua tersebut ada sejak 2012. Tujuannya, siswa semakin bangga dengan karyanya karena dilihat langsung oleh orang tua. ’’Respons orang tua baik, dan selalu ramai,’’ tambah Retno. (uzi/c17/dio/sep/JPG)
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
