Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Januari 2017 | 23.17 WIB

Mengikuti Proses Singapura Mencapai Lingkungan Bersih di ENVision Gallery

Photo - Image

Photo

Belasan aktivis kebersihan dan lingkungan pemenang Sidoarjo Zero Waste 2016 memperkaya pengetahuan dan pengalaman di Singapura. Banyak tempat didatangi. Salah satunya ENVision Gallery Singapura.



HASTI EDI SUDRAJAT



SOROT mata M. Nur Jamil tajam menatap layar kaca yang menempel di dinding. Sebuah pertanyaan tentang pengolahan sampah terpampang di sana bersama dua pilihan jawaban. Dia menghela napas sebentar. Lalu, menggerakkan tangan kanan untuk menekan tombol yang ada di sisi layar. Beberapa saat berselang, senyum ceria tersungging dari wajahnya. Jawabannya benar.


”Belajar seperti ini jadi lebih asyik,” ujar Jamil riang Rabu (18/1). Dia adalah satu di antara belasan pemuda pemenang Sidoarjo Zero Waste 2016. Sebuah program kerja sama dinas lingkungan hidup dan kebersihan (DLHK) pemkab dengan Jawa Pos.


Jamil merasa beruntung dapat berkunjung ke ENVision Gallery Singapura. Pemuda asal Desa Siwalanpanji, Buduran, itu mengaku mendapat banyak ilmu yang bisa diterapkan di Kota Delta. ”Langkah paling dasar adalah mengajak warga untuk ikut peduli dengan tidak membuang sampah sembarangan,” tuturnya.


ENVision Gallery memang tempat yang tepat untuk belajar mengenai persoalan lingkungan. Letaknya di lantai 3 gedung Kementerian Lingkungan Hidup Singapura. Materi yang diberikan kepada pengunjung bisa dibilang sederhana. Namun, kemasannya yang dibalut teknologi canggih membuat yang datang bakal berdecak kagum.


Lokasi yang kerap menjadi jujukan pelajar dari berbagai penjuru dunia itu merangkum perjalanan pemerintah dalam mewujudkan kawasan yang bersih. Di dalamnya terdapat empat fokus utama yang disajikan. Energi, air, tanah, dan udara. Bila empat unsur itu tidak dikelola dengan benar, pasti akan timbul kerusakan lingkungan.


ENVision Gallery didesain dengan lorong-lorong panjang. Setelah melewati lorong yang membahas satu elemen lingkungan, pengunjung disambut lorong elemen lainnya. Nah, di setiap elemen itulah materi disajikan dengan balutan teknologi canggih.


Di lorong pengolahan udara misalnya. Di sana pengunjung bisa menyaksikan film pendek mengenai polusi udara yang disebabkan manusia dari balik ranting pohon buatan. Asap kendaraan dan pabrik menjadi salah satu materi yang disajikan. Untuk melihatnya, kedua mata harus mengintip dari lubang kecil. Film tersebut secara otomatis akan berhenti ketika pengunjung menarik badan untuk mundur.


ENVision Gallery buka mulai pukul 09.00 dan tutup 18.00 waktu setempat. Lokasinya tidak dijaga petugas seperti destinasi kunjungan pada umumnya. Meski begitu, pengunjung tidak akan tersesat karena pintu masuk dan keluar dibuat satu arah.


Mereka juga tidak akan berani merusak peralatan di dalam galeri. Sebab, di setiap sudut lorong komponen ada kamera closed circuit television (CCTV). ”Kalau ada yang berbuat curang, akan langsung didatangi petugas,” kata Suhaemi, pemandu tur yang mendampingi rombongan pemenang Sidoarjo Zero Waste 2016.


Emi –sapaan akrab Suhaemi– menjelaskan, kebersihan lingkungan merupakan fokus utama dari pemerintah Singapura setelah merdeka. Sebab, keberadaan sampah dipastikan bakal memantik permasalahan besar karena luas negara yang terbatas. ”Kementerian lingkungan hidup dibentuk pada 1972,” jelasnya.


Kementerian harus berjibaku untuk menyelesaikan sejumlah masalah lingkungan di Singapura. Mulai menekan angka pencemaran dan pembuangan limbah sampai memastikan sistem drainase berjalan baik dan terjaganya kesehatan lingkungan. ”Upaya awal adalah membersihkan sungai pada 1977. Dulu sungai di sini sangat kumuh,” ujar Emi.


Kerja keras, keseriusan, dan dukungan segenap warga akhirnya membuahkan hasil. Bahkan, Singapura yang kala itu dipimpin Lee Kuan Yew memperoleh penghargaan dari dunia internasional. Pada 1982 Singapura dinyatakan sebagai negara bebas malaria pertama di Asia Tenggara oleh World Health Organization(WHO).


Empat tahun berselang, pemerintah melebarkan kepeduliannya terhadap lingkungan dengan memperhatikan pedagang kaki lima (PKL). Mereka harus memastikan makanan yang dijual pedagang bebas dari kuman.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore