
Keluarga menunjukkan foto Syait Asyam, Mahasiswa UII yang tewas saat mengikuti Ditsar
JawaPos.com – Hasil otopsi terhadap jenazah Syaits Asyam, mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta yang meninggal dunia pada kegiatan pendidikan dasar (diksar) mapala di kamp Pranten, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, menunjukkan ada indikasi kekerasan fisik.
Karena itu, keluarga besar almarhum akan mengambil langkah hukum. Ini ditegaskan ibu Syaits Asyam, Sri Handayani ditemui di rumah duka Dusun Jetis, Kelurahan Caturharjo, Kecamatan/Kabupaten Sleman, Senin (23/1).
Menurut Handayani, terdapat luka yang ditemukan hampir di sekujur tubuh. Diantaranya pada bagian dada sebelah kanan. Luka tersebut berimbas pada paru-paru kanan. Ada pula memar di punggung hingga goresan di tangan korban.
“Luka di paru-paru ini yang membuat napas Asyam tersengal-sengal. Kemampuan bicara saat itu juga menurun, tutur katanya tidak jelas. Hasil otopsi ini disampaikan oleh ayahnya, Abdulah Arbi yang mengikuti proses otopsi,” jelasnya.
Saat dirawat di Rumah Sakit (RS) Bethesda, Jogjakarta, dokter yang menangani Asyam meminta Handayani mencatat segala ucapan anaknya karena kondisinya kritis. Tujuannya guna menghimpun informasi tentang apa saja yang telah dialami Asyam.
Dalam catatan tersebut, Asyam menyampaikan tiga poin. Dia masih sempat menulis sendiri untuk poin pertama. Tapi untuk yang kedua dan ketiga ditulis oleh sang ibu. Pada memo itu, Asyam menyebut satu nama berinisial Y yang diduga melakukan kekerasan.
“Pertama (Y,Red) memukul punggung menggunakan rotan sebanyak 10 kali. Lalu (Asyam disuruh, Red) mengangkat beban air terlalu berat dan ada aksi kekerasan lanjutan oleh nama yang sama,” ujar Handayani.
Sang ibu menyesalkan terlambatnya informasi dari pengurus Mapala UII. Handayani baru mengetahui anaknya masuk RS Bethesda, Sabtu (22/1) sekitar pukul 10.30. Padahal Asyam sudah berada di RS Bethesda sejak pagi. Parahnya lagi, informasi kondisi Asyam malah dikabarkan teman lainnya yang bukan anggota Mapala UII.
“Sampai sana (RS Bethesda) jam 11.30 lebih. Saya shock melihat kondisi anak saya, tubuhnya penuh luka. Napasnya sudah terengah-engah dan bicaranya tidak jelas. Tapi masih bisa menceritakan kronologis kejadian di sana (Gunung Lawu,Red),” katanya.
Informasi dari rekan almarhum, saat diksar, Asyam mengungkapkan kondisi fisiknya sudah tidak kuat dan ingin mengundurkan dari, tapi dilarang panitia kegiatan. Bahkan sempat ditarik dan dipisahkan dari rombongan diksar lainnya.
“Asyam juga sempat cerita, tiga hari pertama (diksar) tidak apa-apa, tapi setelah itu baru kejadian. Asyam tidak melawan tapi saat ingin mengundurkan diri, tidak boleh sehingga ditarik. Saya sempat bertemu dengan kakak angkatan Mapala yang mengantar ke Bethesda, namanya Andi kalau tidak salah,” beber Handayani.
Paman Asyam, Lilik Margono, 52, mempertanyakan standarisasi diksar Mapala UII. Adanya indikasi kekerasan dalam pelatihan dasar itu merupakan hal tidak wajar.
Dia juga melihat banyak luka di tubuh keponakannya saat dirawat di RS Bethesda. Terutama di bagian punggung, selangkang kanan dan kedua lengan Asyam.
“Sayangnya dari pengurus Mapala UII maupun panitia penyelenggara belum ada yang datang ke kami. Rektor datang tapi tidak bisa memberikan keterangan. Keinginan otopsi datang dari ayahnya, Abdulah, setelah melihat bekas luka dan tidak ada kejelasan,” beber dia.
Paman Asyam lainnya, Marwan Amir menambahkan, hasil otopsi telah diberikan ke Polres Karanganyar selaku penanggungjawab wilayah. Pihak keluarga meminta UII terbuka untuk mengusus kasus kematian Asyam.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
