Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Januari 2017 | 19.26 WIB

Ini Hasil Autopsi Jasad Mahasiswa UII yang Tewas Saat Ikuti Ditsar

Keluarga menunjukkan foto Syait Asyam, Mahasiswa UII yang tewas saat mengikuti Ditsar - Image

Keluarga menunjukkan foto Syait Asyam, Mahasiswa UII yang tewas saat mengikuti Ditsar

JawaPos.com – Hasil otopsi terhadap jenazah Syaits Asyam, mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta yang meninggal dunia pada kegiatan pendidikan dasar (diksar) mapala di kamp Pranten, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, menunjukkan ada indikasi kekerasan fisik.


Karena itu, keluarga besar almarhum akan mengambil langkah hukum. Ini ditegaskan ibu Syaits Asyam, Sri Handayani ditemui di rumah duka Dusun Jetis, Kelurahan Caturharjo, Kecamatan/Kabupaten Sleman, Senin (23/1).


Menurut Handayani, terdapat luka yang ditemukan hampir di sekujur tubuh. Diantaranya pada bagian dada sebelah kanan. Luka tersebut berimbas pada paru-paru kanan. Ada pula memar di punggung hingga goresan di tangan korban.


“Luka di paru-paru ini yang membuat napas Asyam tersengal-sengal. Kemampuan bicara saat itu juga menurun, tutur katanya tidak jelas. Hasil otopsi ini disampaikan oleh ayahnya, Abdulah Arbi yang mengikuti proses otopsi,” jelasnya.


Saat dirawat di Rumah Sakit (RS) Bethesda, Jogjakarta, dokter yang menangani Asyam meminta Handayani mencatat segala ucapan anaknya karena kondisinya kritis. Tujuannya guna menghimpun informasi tentang apa saja yang telah dialami Asyam.


Dalam catatan tersebut, Asyam menyampaikan tiga poin. Dia masih sempat menulis sendiri untuk poin pertama. Tapi untuk yang kedua dan ketiga ditulis oleh sang ibu. Pada memo itu, Asyam menyebut satu nama berinisial Y yang diduga melakukan kekerasan.


“Pertama (Y,Red) memukul punggung menggunakan rotan sebanyak 10 kali. Lalu (Asyam disuruh, Red) mengangkat beban air terlalu berat dan ada aksi kekerasan lanjutan oleh nama yang sama,” ujar Handayani.


Sang ibu menyesalkan terlambatnya informasi dari pengurus Mapala UII. Handayani baru mengetahui anaknya masuk RS Bethesda, Sabtu (22/1) sekitar pukul 10.30. Padahal Asyam sudah berada di RS Bethesda sejak pagi. Parahnya lagi, informasi kondisi Asyam malah dikabarkan teman lainnya yang bukan anggota Mapala UII.


“Sampai sana (RS Bethesda) jam 11.30 lebih. Saya shock melihat kondisi anak saya, tubuhnya penuh luka. Napasnya sudah terengah-engah dan bicaranya tidak jelas. Tapi masih bisa menceritakan kronologis kejadian di sana (Gunung Lawu,Red),” katanya.


Informasi dari rekan almarhum, saat diksar, Asyam mengungkapkan kondisi fisiknya sudah tidak kuat dan ingin mengundurkan dari, tapi dilarang panitia kegiatan. Bahkan sempat ditarik dan dipisahkan dari rombongan diksar lainnya.


“Asyam juga sempat cerita, tiga hari pertama (diksar) tidak apa-apa, tapi setelah itu baru kejadian. Asyam tidak melawan tapi saat ingin mengundurkan diri, tidak boleh sehingga ditarik. Saya sempat bertemu dengan kakak angkatan Mapala yang mengantar ke Bethesda, namanya Andi kalau tidak salah,” beber Handayani.


Paman Asyam, Lilik Margono, 52, mempertanyakan standarisasi diksar Mapala UII. Adanya indikasi kekerasan dalam pelatihan dasar itu merupakan hal tidak wajar.


Dia juga melihat banyak luka di tubuh keponakannya saat dirawat di RS Bethesda. Terutama di bagian punggung, selangkang kanan dan kedua lengan Asyam.


“Sayangnya dari pengurus Mapala UII maupun panitia penyelenggara belum ada yang datang ke kami. Rektor datang tapi tidak bisa memberikan keterangan. Keinginan otopsi datang dari ayahnya, Abdulah, setelah melihat bekas luka dan tidak ada kejelasan,” beber dia.


Paman Asyam lainnya, Marwan Amir menambahkan, hasil otopsi telah diberikan ke Polres Karanganyar selaku penanggungjawab wilayah. Pihak keluarga meminta UII terbuka untuk mengusus kasus kematian Asyam.

Editor: Soejatmiko
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore