
POTRET PENDIDIKAN: Dedy Arliansyah Siregar (kanan) saat menerima piagam penghargaan dari MURI di gedung serba guna Sopo Partungkuoan, Tapanuli Utara.
Gara-gara kekurangan kru saat akan membuat film, Dedy Arliansyah Siregar akhirnya merangkap beberapa pekerjaan sekaligus. Mulai produser, sutradara, penulis naskah, editor video, juru kamera, hingga art director. Total ada 18 jabatan.
GLANDY BURNAMA, Tapanuli Utara
Sekitar pukul 18.30 WIB Sabtu malam (21/1), Dedy terlihat sibuk mondar-mandir melayani permintaan jabat tangan. Keluarga, rekan, kerabat, dan warga kecamatan Tarutung memberikan ucapan selamat kepada Dedy yang mengenakan kaus hitam dengan gambar poster film karyanya, Selembar Itu Berarti. Ya, hari itu pemuda asal Medan tersebut mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) di gedung serbaguna Sopo Partungkuoan, Kecamatan Tarutung, Tapanuli Utara.
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh. Di antaranya, Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan beserta istrinya, Satika Simamora; Kabid Sejarah Purbakala dan Warisan Dunia Kementerian Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Dohardo Pakpahan; aktor senior dan Ketua Persatuan Artis Sinema Indonesia (Parsi) Anwar Fuady, serta aktris Rasslina Rasyidin.
Secara bergantian, para tamu memberikan sambutan sekaligus apresiasi terhadap prestasi Dedy sebagai pemecah rekor ”Perangkap Jabatan Terbanyak pada Produksi 1 Film” dengan rekor 18 jabatan. Sebelumnya, pemegang rekor adalah Damien Dematra pada 2012 dengan film L4 Lupus dengan 14 jabatan. Malam itu Andre Purwandono, perwakilan Muri, menyerahkan piagam penghargaan kepada Dedy dengan didampingi Nikson.
Dedy lantas mulai menceritakan perjalanannya meraih rekor yang cukup unik itu. Prihatin dengan dunia pendidikan, sulung di antara empat bersaudara tersebut ingin menyadarkan publik mengenai realita pendidikan Indonesia yang masih jauh dari kata layak. ”Secara khusus seperti pendidikan di beberapa kota di Sumatera Utara seperti Langkat, Medan, dan Tapanuli Utara,” kata Dedy.
Dia menyaksikan sulitnya para siswa sekolah mengenyam pendidikan yang layak. Hal tersebut disaksikan pria yang pernah berprofesi videografer itu ketika mendatangi berbagai kota untuk membantu kliennya saat membuat video. ”Mereka harus jalan jauh ke sekolah, kesulitan dapat buku tulis, sampai bersekolah di gedung yang kurang layak,” ujarnya.
Pria kelahiran Medan, 27 November 1981, itu juga rindu film bermuatan pendidikan dengan nilai humanis tinggi. ”Terakhir yang paling bagus itu Laskar Pelangi. Nah, saya mau ada film-film Indonesia yang seperti itu,” kata Dedy. Dia ingin film tidak sekadar menghibur, tapi juga mencerminkan realita sehingga publik sadar akan pentingnya perbaikan dalam dunia pendidikan.
Dedy pun ingin ada film yang memiliki segmen penonton luas. Mulai anak-anak, orang tua, guru, pengelola instansi pendidikan, hingga keluarga. ”Film yang baik itu bisa dinikmati segala usia dan punya value. Itu gol utama saya saat membuat film Selembar Itu Berarti,” katanya.
Sayang, putra pasangan Sorimula Haulian Siregar dan Arpa Hutasuhut tersebut menemukan masalah lain. Dia kekurangan kru untuk membuat sebuah film. Pria yang hobi bermain band itu tidak menemukan anggota yang bisa membantunya membuat film. Akhirnya, Dedy mengajak lima rekannya yang minim pengetahuan di dunia film guna maupun video. Mereka adalah sahabat, kenalan, sekaligus teman satu bandnya. Dedy dan kelima rekannya lantas membentuk Mora Heart Production, production house kecil yang membantu mewujudkan impiannya membuat film.
Pada 2014 mereka membuat film pendek berdurasi 14 menit dengan judul Selembar Itu Berarti. Film pendek yang dibuat selama empat hari tersebut menceritakan dua kakak beradik yang ibunya sakit parah tapi tetap semangat bersekolah. Judul Selembar Itu Berarti merujuk pada upaya kakak beradik tersebut mencari buku tulis untuk keperluan sekolah mereka. ”Saking miskinnya, mereka sampai sulit beli buku tulis. Akhirnya mereka cari buku tulis bekas yang masih ada sisa lembaran kertas. Selembar kertas sangat berarti agar mereka bisa menulis dan belajar lagi,” jelas pengagum sineas Garin Nugroho itu.
Saat pembuatan film pendek tersebut, Dedy sebenarnya sudah mulai multitasking. Dia adalah produser, sutradara, penulis naskah, editor video, juru kamera, penentu peran, dan art director. Teman-temannya hanya membantu merekam suara, menata musik, make-up, dan hal umum. ”Berat sih. Tapi, saya enjoy aja supaya bisa menghasilkan karya baik,” katanya.
Film pendek itu sempat diikutkan ke Indonesia Short Film Festival 2015. Namun, Dedy merasa masih kurang dan berniat membuat film tersebut menjadi film panjang. ”Supaya ceritanya lebih dapat dan detail,” tambahnya. Maka, Dedy pun menjual mobilnya untuk mendapat dana tambahan guna membuat film menjadi lebih panjang.
Alumnus FE Universitas Sumatera Utara itu kembali melakukan casting. Bukan casting terbuka, tapi dengan memilih anak-anak di Medan dan Langkat yang ditemuinya di jalan atau tempat umum untuk menjadi pemain inti. ”Saya ajak ngobrol mereka dan orang tua mereka. Setelah setuju, mereka saya kasih penjelasan mengenai film saya. Untung, mereka mau dan suka ketika terlibat dalam film ini,” ungkapnya.
Karena para pemeran yang dipilih belum memiliki bakat akting, akhirnya job description Dedy bertambah. Yakni, melatih mereka akting walau ala kadarnya. ”Saya biasanya ajak mereka meditasi dan berandai-andai sesuai peran mereka di film ini. Selain itu, saya beri arahan akting kecil-kecilan. Bisa dibilang saya juga acting coach dadakan,” katanya, lantas tertawa.

Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Viral Investor MBG Ngamuk di Kantor BGN, APGI 3T Sebut Aksi Spontan Atas Potensi Kerugian Rp 1,8 Triliun
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
